Astronomi Masuk Desa

Setiap manusia pada hakekatnya adalah sama dihadapan Tuhan. Si kaya dan si miskin ataupun si orang kota dan si orang desa, semua sama. Saya tidak bermaksud untuk mendiskriminasikan desa dari kota, namun saya menggambarkan desa disini adalah sebuah daerah yang sangat jauh terpencil dari hingar-bingar teknologi dan berada di wilayah yang terpelosok.

Penggembala..

Dalam perjalanan ekspedisi gerhana matahari cincin ke Lampung, langitselatan mendapat kesempatan untuk mengunjungi anak-anak yang tinggal di desa Trimukti, Karangrejo, Lampung Selatan. Perjalanan dari pusat kota Lampung menuju ke tempat ini ditempuh selama 2 jam 30 menit sejauh 25 km. Kendaraan yang kami pakai hanya bisa melaju dengan kecepatan rata-rata 10 km/jam, hal itu dikarenakan jalan yang dilalui cukup sulit. Sepuluh kilometer pertama kendaraan melaju diatas jalan aspal, lima belas kilometer selanjutnya kami melewati hutan karet dan jalan tanah.

Setibanya di desa Trimukti, saya merasakan ketenangan, tidak ada suara bising kendaraan dan handphone mati karena tidak mendapat sinyal. Kami tiba pukul 9.30 WIB dan langsung menemui Bapak Daniel, beliau adalah seorang tokoh masyarakat yang mendirikan kelompok bermain dan tempat ibadah pertama di desa ini. Belum ada sekolah resmi, sekolah yang terdekat berjarak sekitar 3 km dari sini. Setelah beristirahat sejenak, kami lalu mempersiapkan diri untuk bertemu anak-anak, rupanya mereka sudah menunggu sejak pukul 7.00 WIB.

Mengajar Tata Surya di Desa Trimukti

Ada sekitar 20 anak yang berkumpul, yang paling kecil berusia 3 tahun dan yang paling besar berusia 12 tahun. Ada juga guru, orang tua dan penduduk sekitar yang datang. Pengenalan astronomi pun dimulai, diawali dengan mengenal tata surya, lalu simulasi fenomena gerhana matahari, mengenal teleskop dan yang terakhir pengamatan matahari dengan menggunakan kacamata gerhana.

Anak-anak antusias menyimak setiap materi yang diberikan, walaupun di sisi lain saya menangkap ada kebingungan di raut wajah mereka. Ya..mungkin inilah pertama kalinya mereka mendengar kata “Astronomi”. Belum ada sekolah resmi dan fasilitas belajar yang memadai, membuat anak-anak ini tidak mendapat pengetahuan yang baik. “Listrik saja masih belum stabil, kadang mati, kadang menyala” kata Bapak Daniel. Namun begitu, mereka mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar.

Belajar teleskop. Kredit: ivie
Mengamati matahari menggunakan filter matahari. kredit : ivie

Waktu yang terbatas membuat kami harus berpisah dengan anak-anak. Langitselatan memberikan beberapa buah kacamata gerhana, agar mereka bisa mengamati gerhana matahari cincin yang akan berlangsung dengan aman. Selain itu ada juga teleskop mini, beberapa poster dan buku sebagai bahan belajar. Sedih rasanya karena harus berpisah dengan mereka dan kami tidak tahu kapan bisa kembali lagi ke desa ini.

Kami tiba di kota Lampung dan melakukan pengamatan gerhana matahari di UNILA. Setelah peristiwa gerhana berakhir, kami mendapat kabar dari Bapak Daniel bahwa anak-anak dan warga desa Trimukti merasa sangat senang sekali karena bisa mengamati gerhana matahari cincin dengan menggunakan kacamata gerhana. Mereka bisa melihat dari mulai awal gerhana sampai terbentuk cincin. Sungguh ini merupakan bayaran yang setimpal bagi saya, seketika itu juga, rasa capek yang saya rasakan hilang.

Mungkin keterbatasan ekonomi membuat anak-anak di desa Trimukti tidak mempunyai hak atas sejengkal tanah di planet Bumi, namun astronomi menyadarkan mereka bahwa mereka mempunyai hak atas langit yang tak terbatas untuk dimiliki dan dijelajahi. Semoga apa yang sudah Langitselatan kerjakan disana dapat membangun semangat mereka untuk belajar menembus keterbatasan yang ada.

Suasana desa Trimukti. kredit :ivie
Tim LS berfoto di tengah hutan karet. kredit :ivie

Ditulis oleh

Irma Hariawang

Irma Hariawang

Alumnus astronomi yang sempat menjadi Ketua HIMASTRON ini memiliki ketertarikan dalam hal astroarkeologi dan etnoastronomi.