CAP 2007 from Athens part 2

Konferensi CAP secara umum memang diisi oleh presentasi mengenai rencana pelaksanaan IYA tahun 2009 (International Year of Astronomy dicanangkan oleh PBB pada tahun 2009) di beberapa negara seperti Serbia, China, Jepang, Amerika, Canada, Chili, Brazil, Ekuador, Australia, Inggris, Afrika Selatan, Yunani, Belanda maupun Belgia. Masing-masing punya rencana yang menarik yang akan melibatkan sekolah, maupun astronom profesional dan amatir.

Prsentasi langitselatan di CAP 2007

Beberapa rencana menarik yang sempat disebutkan antara lain sidewalk astronomy di China untuk pengamatan Bulan (Watching the moon in Golden Autumn) maupun rencana pengamatan Gerhana Matahari Total di China dan festival Astronomi di negara tersebut.

Lain China lain pula Jepang. Dr Sekiguchi dari Jepang memaparkan kalau mereka akan mengadakan star party dengan peserta 10 juta orang. Selain itu, Jepang merencanakan untuk mengadakan TV show, konser, maupun kuliah umum dan kolaborasi astronomi dan seni. Satu hal yang tak bisa lepas adalah kekhasan kartun Jepang. Kali ini untuk IYA 2009, Jepang juga sudah mempersiapkan kartun galileo dan juga akan mendistribusikan Teleskop mini (Galileoscope) ke sekolah-sekolah.

Bicara tentang seni, Jepang bukan satu-satunya negara yang mengedepankan seni dalam populerisasi astronomi untuk IYA 2009. Serbia juga akan mengadakan serangkaian acara seni yang terkait dengan astronomi antara lain, Astronomy Poetry (puisi astro) maupun Astronomy inspiration art. Tidak hanya itu, Serbia juga akan mengaitkan astronomi dengan psikologi dalam rangkaian astro terapi. Berbagai acara yang inovatif memang dikemukakan, namun acara-acara khas astronomi seperti pertunjukan planetarium, astrofotografi, star party, ataupun kuliah umum dan pendidikan astronomi ke sekolah-sekolah menjadi acara pokok dari sebagian besar negara yang hadir. Astronomi dalam perangko pun dicanangkan oleh Jepang. Indonesia juga merencanakan akan memiliki prangko IYA2009. Tidak hanya itu, IYA juga memiliki perhatian khusus bagi kesetaraan gender, khususnya di negara-negara yang masih menempatkan pria lebih tinggi dan memiliki kesempatan lebih besar dari perempuan untuk bekerja dalam berbagai bidang pekerjaan.

IYA memang menjadi topik utama dalam konferensi ini. Akan tetapi bahasan lainnya mengenai komunikasi astronomi pada publik juga menjadi topik pembicaraan. Imbas sosial yang terjadi sebagai hasil dari populerisasi astronomi maupun metode-metode dalam populerisasi astronomi juga dibahas dan menjadi perhatian dari IAU. Beberapa lembaga seperti Globalhou, UNAWE memberi peranan penting dalam menjangkau dan mendidik anak-anak di berbagai negara. Pendidikan astronomi ke sekolah-sekolah yang diusung oleh Globalhou memberi gairah untuk mengenal dan menyukai sains dalam diri siswa. Sedangkan untuk UNAWE, mereka lebih menitikberatkan pada membangun keingintahuan sains dalam diri anak-anak yang termarjinalkan serta membangun toleransi dan rasa kebersamaan diantara anak-anak yang ada di seluruh dunia. UNAWE lebih banyak bergerak di negara-negara dunia ketiga dimana anak-anak di negara tersebut memiliki trauma, atau permasalahan sosial yang menyebabkan mereka harus kehilangan masa kanak-kanaknya. Berbagai metode dikembangkan untuk dapat menjangkau anak-anak tersebut, baik melalui pendekatan budaya maupun melalui permainan dan seni. Kesempatan untuk saling mengenal dan menjalin persahabatan antar negara juga dibuka bagi anak-anak tersebut.

Metode populerisasi astronomi ini sangat tidak terbatas. Pendekatan budaya dalam panggung dongeng juga dilakukan di Italia dalam memperkenalkan benda-benda langit. Imajinasi dalam mitos dibiarkan berkembang dalam diri setiap anak, membawa mereka memiliki rasa ingin tahu yang lebih dalam akan astronomi. Gambar-gambar dalam astronomi juga sangat berperan penting dalam menarik perhatian masyarakat untuk mengenal astronomi. Karena itu dalam konferensi ini dibicarakan juga bagaimana menyajikan gambar-gambar yang indah yang dapat menggugah rasa penasaran masyarakat terhadap astronomi. Nah, berbicara tentang gambar astronomi, Malaysia justru mencoba mempopulerkan astronomi lewat motif-motif didalam batik, melalui lomba batik astronomi di negara tersebut.

Shaw Prize dari HongKong

Lain Malaysia, lain pula di Hong Kong. Untuk dapat membawa masyarakat untuk berpikir bintang adalah bintang di langit bukannya Jackie Chan, Andy Lau, Gigi Leung dan sederet artis ternama lainnya, maka diadakanlah Shaw Prize bagi para astronom. Dengan adanya acara tersebut, maka pemberitaan media akan memberi dampak pada masyarakat untuk memahami apa itu astronomi. Hal inilah juga yang dapat menjadi bagian dimana kita berbicara mengenai astronomi baik melalui gambar maupun media lainnya untuk menginspirasi komunitas disekitar kita mengenai sains atau astronomi secara khusus. Bahkan kegiatan-kegiatan seperti terlihatnya komet, gerhana, dapat menjadi ajang penting dalam membangun ketertarikan publik. Kegiatan tersebut pada akhirnya akan mengarah pada edukasi astronomi pada publik, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman atau miskonsepsi dalam memahami astronomi. Bagaimana memberi informasi yang benar pada masyarakat? Ada beberapa media yang diajukan dalam konferensi ini seperti misalnya majalah, buletin, iklan, bahkan memasukan ide astronomi dalam kartu belanja. Jadi memperkenalkan benda-benda langit melalui buah-buahan yang ada di supermarket.

Media lainnya yang terus menerus menjadi pusat perhatian adalah perkembangan web 2.0 dalam hal ini media blog, podcast, you tube, itunes dll. Melalui media-media tersebut astronomi juga dapat dimasyarakatkan mengikuti perkembangan teknologi dan budaya masyarakat saat ini yang berkembag di berbagai negara. Weblog menjadi salah satu cara menyampaikan informasi astronomi pada masyarakat. Hal inilah yang dipaparkan langitselatan dalam konferensi tersebut. Langitselatan.com menjadi studi kasus dalam konferensi ini untuk populerisasi astronomi melalui blog. Di konferensi ini, dipaparkan bahwa langitselatan.com tidak hanya berfungsi sebagai media astronomi namun juga berkembang sebagai event organizer astronomi dan komunitas atsronomi di Indonesia.

Konferensi CAP 2007 memang sudah berakhir namun masing-masing pesertanya pulang membawa ide-ide baru maupun misi untuk lebih memperkenalkan astronomi pada semua kalangan. Karena ilmu tidak hanya terkotak-kotak bagi golongan tertentu namun ilmu pengetahuan ada untuk semua golongan termasuk mereka yang termarjinalkan dan mereka yang masih hidup dalam bayang-bayang permasalahan sosial yang beragam di dunia ini.

foto-foto berasl dari dokumen pribadi ivie

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.