fbpx
langitselatan
Beranda » Codet di Wajah Bintang Kanibal

Codet di Wajah Bintang Kanibal

Bukan cuma lubang hitam yang bisa melahap materi di sekitarnya. Bintang serupa Matahari juga bisa jadi bintang kanibal, terutama di akhir hidupnya. 

Ilustrasi bintang katai putih WD 0816-310 yang melahap planet-planet di sekelilingnya. Kredit: ESO/L. Calçada
Ilustrasi bintang katai putih WD 0816-310 yang melahap planet-planet di sekelilingnya. Kredit: ESO/L. Calçada

Ketika Matahari menua, bintang pusat di Tata Surya ini akan berevolusi dan mengembang jadi bintang raksasa merah. Pada saat itu, Matahari sudah memulai kanibalisme dengan melahap planet-planet terdekat dengannya seperti Merkurius dan Venus. Tak hanya itu, kemungkinannya, Bumi juga sudah berada super dekat dengan Matahari atau justru ikut masuk ke dalam selubung Matahari. 

Pada akhirnya, di penghujung hidupnya, Matahari akan bertransformasi menjadi bintang katai putih yang dingin, setelah selubungnya dilontarkan sebagai nebula planetari.

Evolusi yang sama tentu saja terjadi pada bintang-bintang serupa Matahari. Di akhir hidupnya, bintang serupa Matahari akan melahap planet-planet serta asteroid yang ada di sekelilingnya. Dan kali ini, para astronom menemukan jejak unik dari proses kanibalisme tersebut. 

Ada codet atau bekas luka yang tercetak pada permukaan bintang katai putih. Codet logam ini ditemukan ketika para astronom melakukan pengamatan dengan instrumen FORS2 pada VLT.

Codet Logam

Ketika bintang serupa Matahari akhirnya menjadi bintang katai putih, bintang ini sangat panas dengan temperatur bisa melebihi 100.000 K. Akan tetapi, bintang katai putih tidak memiliki sumber energi sehinga temperaturnya pun terus turun dan menjadi bintang dingin. Meskipun demikian, sebagian bintang katai putih terkenal karena kanibalismenya. Bintang-bintang ini melahap sistem planetnya sendiri. 

Ternyata, medan magnet bintang memiliki peran penting dalam proses kanibalisme tersebut dan menyisakan codet pada permukaan bintang katai putih.

Para astronom menemukan codet ini pada WD 0816-310, bintang katai putih seukuran Bumi yang berasal dari bintang serupa Matahari. Meskipun bintang asalnya serupa Matahari, tapi bintang cikal bakal katai putih WD 0816-310 lebih masif dibanding Matahari. 

Yang menarik, codet tersebut merupakan konsentrasi logam yang tercetak pada permukaan WD 0816-310. Logam itu sendiri ternyata berasal dari pecahan planet sebesar asteroid Vesta yakni sekitar 500 km. 

Luka di Wajah

Hasil pengamatan juga memperlihatkan bagaimana bintang katai putih memperoleh bekas luka logam tersebut. 

Dari pengamatan, para astronom mengenali ada perubahan pada kekuatan pendeteksian logam saat bintang berotasi. Itu artinya, logam hanya terkonsentrasi pada area tertentu di permukaan bintang katai putih dan tidak tersebar merata. Selain itu, perubahan kekuatan deteksi ini juga sinkron dengan perubahan pada medan magnet katai putih. Ada indikasi kalau codet logam itu berada pada salah satu kutub magnet. 

Dari hasil pengamatan yang ada, para astronom berkesimpulan kalau medan magnet pada bintang katai putih yang menarik logam ke bintang dan pada akhirnya menghasilkan codet atau bekas luka pada permukaan. 

Satu hal menarik, ketika materi logam ini melukai permukaan bintang, materinya tidak tercampur merata di permukaan bintang seperti yang diprediksi teori. Yang justru terjadi adalah materi dari planet yang ditarik ke bintang katai putih itu tetap terkonsentrasi pada lokasi yang sama. Ini semua tak lepas dari medan magnet yang menarik dan mengarahkan pecahan materi yang jatuh ke bintang. Penemuan ini menunjukkan bagaimana sistem keplanetan tetap aktif bahkan setelah ‘kematian’.

Baca juga:  Semakin Tua, Rotasi Galaksi Semakin Cepat
Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis Komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini