Menyingkap Cerita di Jantung Raksasa Bima Sakti

Di jantung Bima Sakti, ada lubang hitam supermasif yang bersembunyi. Monster ini kita kenal dengan nama Sagittarius A (Sgr A).

Kredit: International Gemini Observatory/NOIRLab/NSF/AURA/J. da Silva/(Spaceengine) Acknowledgement: M. Zamani (NSF's NOIRLab)
Ilustrasi bintang yang mengorbit dalam jarak dekat dengan lubang hitam supermasif Sagittarius A* di pusat Bima Sakti. Kredit: International Gemini Observatory/NOIRLab/NSF/AURA/J. da Silva/(Spaceengine) Acknowledgement: M. Zamani (NOIRLab NSF)

Para astronom berhasil mengukur gerak bintang-bintang di sekitar lubang hitam supermasif Sgr A*. Pengukuran paling akurat yang pernah dilakukan. 

Untuk mengukur kecepatan bintang, para astronom melakukan pengamatan dengan instrumen Gemini Near Infrared Spectrograph (GNIRS) yang dipasang di Teleskop Gemini Utara di Hawaii dan instrumen SINFONI pada Very Large Telescope (VLT) ESO. Untuk posisi bintang, para astronom melakukan pengukuran dengan instrumen GRAVITY pada Very Large Telescope Interferometer (VLTI). 

Jadi, para astronom ini penasaran apakah teori relativitas umum berlaku pada kondisi gravitasi ekstrim. Berdasarkan teori relativitas umum yang dibangun Einstein, bintang di dekat objek dengan gravitasi yang besar akan bergerak dalam orbit berbentuk roset yang mirip susunan daun yang melingkar dan rapat berimpitan. Atau bentuk lingkaran yang saling berhimpitan dan tampak berbentuk bunga. 

Hasilnya, tim peneliti ini menemukan 99,9% atau hampir seluruh massa di pusat Bima Sakti berasal dari lubang hitam. Sementara itu, sisa 0,1% massa berasal dari bintang, gas dan debu antarbintang, materi gelap, dan bahkan lubang hitam kecil. 

Selain itu, hasil pengukuran posisi dan kecepatan bintang S2, S29, S38, dan S55 di dekat Sagittarius A*, memperlihatkan pergerakannya memang seperti roset. Ini sesuai prediksi relativitas umum sebagai akibat gravitasi lubang hitam yang luar biasa besar. Dan ternyata, massa di pusat Bima Sakti memang hampir semuanya berasal dari lubang hitam. 

Meskipun pengamatan telah dilakukan selama bertahun-tahun, masih sangat sulit untuk membuktikan kalau massa di pusat Bima Sakti itu hanya berasal dari lubang hitam supermasif Sgr A*. Karena itu, penemuan ini sangat penting.

Masih ada banyak hal yang ingin diketahui para astronom. Di antaranya, apakah masih ada hal lain yang tersembunyi di pusat Bima Sakti? Apakah kita membutuhkan teori baru untuk menjelaskan cara kerja lubang hitam? Untuk menjawabnya para astronom masih harus terus mengamati Sagittarius A*, monster di pusat Bima Sakti. 

Fakta keren:

Sagittarius A*, lubang hitam supermasif di pusat Bima Sakti ini jaraknya 27.000 tahun cahaya dari Matahari. Lubang hitam ini memang supermasif dengan massa 4,3 juta massa Matahari! 


Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang yang dikembangkan dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...