Kegelapan Yang Hilang

Teleskop Hubble berhasil menyingkap misteri hilangnya materi gelap di dua galaksi!

Area di sekitar galaksi NGC 1052-DF4 dan NGC 1052-DF2. Kredit: ESA/Hubble, NASA, Digitized Sky Survey 2. Acknowledgement: Davide de Martin.
Area di sekitar galaksi NGC 1052-DF4 dan NGC 1052-DF2. Kredit: ESA/Hubble, NASA, Digitized Sky Survey 2. Acknowledgement: Davide de Martin.

Selama ini para astronom telah mengetahui bahwa Alam Semesta juga diisi oleh materi gelap yang belum bisa dipahami dengan baik.

Data terbaru pengamatan Teleskop Hubble memperlihatkan bukti bagaimana sebagian besar materi gelap bisa lenyap dari sebuah galaksi. Dan itu semua bisa diketahui dengan mempelajari distribusi cahaya dan gugus bola di dalam galaksi.

Materi Gelap Yang Misterius

Materi gelap adalah materi misterius, aneh, dan tidak memancarkan cahaya. Karena itu diberi nama materi gelap. Kita bisa tahu materi gelap itu ada dari efek yang diberikan pada benda-benda di sekitarnya. Mirip seperti jejak di salju yang ditinggalkan anjing kasat mata.

Materi gelap juga sama. Meskipun tidak memancarkan cahaya, materi gelap punya massa. Itu artinya materi gelap punya gravitasi. Nah, efek gravitasi pada materi yang tampak inilah yang jadi bukti keberadaan materi gelap. Efek yang dilihat adalah gerak aneh bintang di dalam galaksi. Tapi, keberadaan materi gelap juga berfungsi untuk mengikat atau menjaga keterikatan objek-objek di dalam galaksi.

Ke Mana Perginya?

Tapi, bagaimana jika sebuah galaksi tidak memiliki materi gelap? Inilah yang ditemukan oleh Teleskop Hubble! Ada dua galaksi yang kehilangan sebagian besar materi gelap. Keduanya adalah: NGC1052-DF2 dan NGC1052-DF4 yang ditemukan tahun 2018 dan 2019.

Penemuan ini jelas mengejutkan karena materi gelap merupakan unsur penting dalam pembentukan dan evolusi galaksi. Jika tidak ada materi gelap, maka gravitasi gas yang ada di galaksi masih lemah untuk bisa memicu keruntuhan gas yang membentuk bintang dan tentu saja pembentukan galaksi baru.

Data terbaru yang diperoleh Teleskop Hubble menjadi kunci untuk menguak teka teki tersebut. Pengamatan dilakukan pada galaksi NGC 1052-DF4 yang berada 45 juta tahun cahaya dan para astronom menemukan efek gangguan pasang surut atau bisa juga disebut gangguan gravitasi.

Sesuai namanya, gangguan pasang surut tersebut disebabkan oleh interaksi gravitasi dengan benda yang massanya jauh lebih besar yang tentunya punya gravitasi kuat juga. Tersangka utamanya adalah NGC 1035, galaksi masif tetangga NGC 1052-DF4. Gravitasinya yang besar mencabik galaksi NGC 1052-DF4. Akibat gangguan tersebut, materi gelap tersingkir.

Setelah materi gelap lenyap, kini giliran galaksi NGC1052-DF4 yang dicabik secara perlahan-lahan oleh galaksi tetangga!

Para astronom bisa mengetahui adanya gangguan pasang surut dari cahaya galaksi dan distribusi gugus bola.

Gugus Bola Yang Dilucuti

Area di sekitar galaksi NGC 1052-DF4 yang dipotret Teleskop IAC80 di Observatorium Teide di Tenerife, Spanyol. Kredit: M. Montes et al.
Area di sekitar galaksi NGC 1052-DF4 yang dipotret Teleskop IAC80 di Observatorium Teide di Tenerife, Spanyol. Kredit: M. Montes et al.

Dalam penelitian ini, Teleskop Hubble, serta dua teleskop di Canaries, Spanyol yakni Gran Telescopio Canarias (GTC) 10,4 meter dan Teleskop IAC80 digunakan untuk mengidentifikasi populasi gugus bola di dalam galaksi.

Gugus bola adalah kumpulan bintang-bintang tua yang dulunya terbentuk pada saat laju pembentukan bintang di galaksi masih sangat tinggi. Bintang-bintang dalam gugus inilah yang ikut membentuk galaksi. Karena itu, gugus bola merupakan pelacak yang bagus untuk untuk mengetahui sifat galaksi induk tempat gugus bola berada. Selain itu gugus bola termasuk lebih mudah untuk diamati.

Rupanya, sebaran gugus bola dalam galaksi NGC 1052-DF4 memperlihatkan adanya kesejajaran memperlihatkan kalau gugus bola dilucuti dari galaksi induknya. Itu artinya, pada galaksi tersebut sedang terjadi gangguan gravitasi dari galaksi dekat yang lebih masif.

Kesimpulan itu diperkuat ketika para astronom mempelajari cahaya galaksi. Ada jejak mirip ekor dari materi yang bergerak meninggalkan NGC1052-DF4. Meskipun demikian, bagian pusat galaksi masih aman dan tidak tersentuh dari gangguan ini. Dari hasil pengamatan tersebut memang bisa disimpulkan kalau materi gelap terkeih dahulu dilucuti dan sekarang giliran bintang-bintang terluar galaksi yang dilucuti.

Itu artinya, gugus bintang dalam galaksi akan ditarik dari galaksi kecil ke galaksi lebih besar.

Penemuan gangguan pasang surut atau kita bisa sebut juga gangguan gravitasi, ternyata membuat para astronom lega. Kok bisa? Tanpa adanya gangguan gravitasi, para astronom harus mempertimbangkan lagi pemahaman tentang gravitasi!

Fakta Keren

Menurut para astronom, materi misterius dan aneh di Alam Semesta itu 5 kali lebih banyak dari materi normal yang bisa kita lihat!


Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang yang dikembangkan dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...