Exoplanet Pertama di Luar Bidang Galaksi

Ada exoplanet baru yang ditemukan di luar bidang galaksi. Lebit tepatnya, planet ini ditemukan di piringan tebal yang berada di atas bidang galaksi

Ilustrasi exoplanet mengitari bintang katai merah. Kredit: Universitas Warwick/Mark Garlick
Ilustrasi exoplanet mengitari bintang katai merah. Kredit: Universitas Warwick/Mark Garlick

LHS 1815b. Itu exoplanet baru yang ditemukan oleh TESS (Transiting Exoplanet Survey Satellite) milik NASA. Sesuai namanya, TESS melakukan survei bintang-bintang terang untuk mencari planet yang mengorbit bintang tersebut. TESS  menemukan LHS 1815b. lewat pengamatan transit, saat planet ini melintas di depan bintangnya dan menyebabkan bintang meredup sesaat. Perubahan cahaya yang sangat kecil tapi member informasi yang luar biasa. Kehadiran planet pada bintang.

Sampai saat ini sudah lebih dari 4000 exoplanet yang sudah dikonfirmasi, dan masih ada 5000 lebih yang menanti untuk dipastikan statusnya sebagai planet atau hanya kesalahan pengamatan. Penemuan planet baru sudah menjadi berita mingguan atau mungkin berita harian.

Tapi, setiap planet yang ditemukan punya cerita dan keunikannya masing-masing. Apalagi lokasi pencarian planet pun pada dasarnya masih terbatas pada beberapa area di Bimasakti. Nah, planet yang satu ini jadi menarik karena semua planet yang sudah ditemukan itu berada pada bidang galaksi. Si planet baru ini justru tidak berada di bidang galaksi.

Exoplanet LHS 1815b

Planet LHS 1815b jadi sistem planet pertama yang ditemukan berada di atas bidang galaksi. Yang menarik, orbit bintang LHS 1815 saat mengitari pusat galaksi akan membawa sistem ini berada di atas dan di bawah bidang galaksi.

LHS 1815 yang merupakan bintang induk sistem adalah bintang katai merah yang berada di rasi Pictor pada jarak 97 tahun cahaya dari Bumi. Ukuran bintang ini hanya 0,5 ukuran Matahari. Massanya pun sama, hanya 0,5 massa Matahari. Temperaturnya juga lebih dingin dari Matahari, hanya 3643 K. Dari sini bisa diketahui bahwa bintang ini termasuk redup dengan kecerlangan 12,2 magnitudo. Selain itu, radiasi yang dipancarkan juga pasti lebih kecil dibanding Matahari. Dari hasil pengamat diketahui radiasinya hanya 4% dari radiasi yang dipancarkan Matahari.

Meskipun radiasinya jauh lebih kecil dari Matahari, tapi umntuk planet LHS 1815b yang jaraknya hanya 6 juta km dari bintang, tentu saja radiasi tersebut sudah cukup panas. Jarak 6 juta km itu sangat dekat, jauh lebih dekat dari Merkurius yang jaraknya 69 juta km ke Matahari.

Berada dekat bintang, temperatur permukaan planet diperkirakan bisa mencapai 350 ºC. Panasnya hampir mirip permukaan Venus. Jangan berharap untuk bisa bertahan di planet ini. Pada temperatur tersebut, batuan pun hampir bisa meleleh. Meskipun bintang LHS 1815 diperkirakan sudah tidak terlalu aktif, tapi masih ada semburan partikel energi tinggi yang akan menyapu permukaan planet.

Jarak yang dekat tentu berimbas pada waktu tempuh planet mengorbit bintang. Planet hanya butuh waktu 3,8 hari untuk menyelesaikan satu kali revolusinya pada bintang. Dengan kata lain, satu tahun di LHS 1815b hanya 3,8 hari di Bumi!

Ketika LHS 1815b melintas di depan bintang atau transit dan diamati oleh TESS, cahaya yang dihalangi planet menjadi sumber informasi tentang planet tersebut. Dari sini kita bisa mengetahui bahwa planet LHS 1815b ini ukurannya hanya sedikit lebih besar dari Bumi, yakni 1,08 diameter Bumi. Informasi spektrum bintang juga membuat kita tahu bahwa planet ini massanya bisa sampai 8,7 kali lebih masif dari Bumi. Dari informasi ini jelas planet LHS 1815b jauh lebih masif dari Bumi.

Planet yang kecil tapi sangat masif. Diduga, planet ini bisa jadi awalnya merupakan planet raksasa dengan inti batuan yang mengalami tabrakan. Akibatnya, lapisan terluar planet terlepas dan tersisa inti planet yang masif.

Itu tentang planet LHS 1815b yang baru ditemukan. Yang paling menarik adalah lokasinya yang berada di atas bidang galaksi.

Piringan Tebal di Bimasakti

Anatomi galaksi Bimasakti. Kredit: langitselatan
Anatomi galaksi Bimasakti. Kredit: langitselatan

Bimasakti, rumah bagi Tata Surya kita ini merupakan galaksi spiral berbentuk cakram atau piringan pipih dengan ukuran 100.000 tahun cahaya. Di pusatnya ada lubang hitam supermasif. Tapi dalam gambaran utuh galaksi, area pusat ini tampak seperti tonjolan terang awan bintang dengan lebar 13.000 tahun cahaya dan ada batang yang dihuni bintang yang menjadi penghubung lengan spiral dan pusat galaksi. Sementara itu, Matahari berada di lengan Orion yang jaraknya 26.000 tahun cahaya ke pusat galaksi.

Galaksi Bimasakti yang berupa cakram pipih ini juga dilingkupi oleh halo galaksi yang luar biasa besar tapi relatif kosong karena sebagian besar massa terkonsentrasi pada piringan galaksi yang pipih. Tapi piringan pipih ini merupakan struktur yang sebenarnya cukup kompleks. Pada bagian ini, ada dua piringan berbeda. Satu piringan tipis yang dilingkupi piringan tebal.

piringan atau cakram tipis memiliki ketebalan sekitar 1.000 tahun cahaya, dan pada cakram inilah sebagian besar bintang dan juga gas berada. Piringan yang lebih tebal menyelimuti piringan tipis ini dengan ketebalan lebih dari 2.000 tahun cahaya. Pada piringan tebal, bintang juga lebih jarang. Jadi semakin jauh dari piringan tipis, bintang semakin jarang ditemukan.

Perbedaan dari kedua cakram ini, pada piringan tipis, bintang-bintangnya lebih muda dan memiliki lebih banyak elemen berat seperti halnya besi. Pada piringan tebal, bintang-bintang lebih tua dan miskin elemen berat. Tapi, bintang – bintang pada piringan tebal yang berada dekat pusat galaksi lebih muda dari bintang yang jauh.

Pada piringan tebal inilah bintang LHS 1815 berada. Dari hasil pengukuran Gaia, orbit LHS 1815 ini merentang sangat lebar bisa mencapai 5870 tahun cahaya di atas dan di bawah bidang galaksi!

Sebagai planet pertama yang ditemukan berada di piringan tebal, informasi terkait pembentukan dan komposisi planet menjadi hal menarik untuk diketahui. Apakah ada perbedaan kandungan elemen berat yang ada di planet dibanding pada planet-planet di piringan tipis. Apakah laju pembentukan elemen berat juga berbeda atau sama, menjadi pertanyaan yang ingin dicari jawabannya. Tapi tentu saja, satu planet tidak bisa menjawab semua pertanyaan itu. Harus ada lebih banyak planet yang ditemukan di area ini untuk bisa diketahui tren planet yang terbentuk.

Untuk memeroleh jawabannya, bisa saja TESS akan menemukan planet lainnya di piringan tebal atau justru Teleskop James Webb yang direncanakan akan diluncurkan tahun 2021.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...