Sinar Laser Dari Nebula Semut

Laser adalah alat yang memancarkan berkas cahaya yang bisa bersinar berkilo-kilo meter jauhnya ke angkasa. Cahaya laser yang kuat itu juga bisa memotong logam. Di alam semesta para astronom juga berhasil menemukan sinar laser yang dipancarkan Nebula Semut. 

Laser bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti pada pembaca kode palang atau efek khusus saat konser musik. Laser juga muncul di film. Contohnya di Film Star Wars, Ordo Pertama memiliki senjata laser super kuat di markas Starkiller. Senjata itu bisa menghancurkan seluruh planet hanya dalam hitungan detik!

Tapi jangan kuatir. Itu kan hanya di film. Hmm.. tunggu. Ternyata, laser seperti itu memang ada di alam semesta!

Nebula Semut. Kredit: NASA, ESA dan Tim Hubble Heritage (STScI/AURA)
Nebula Semut. Kredit: NASA, ESA dan Tim Hubble Heritage (STScI/AURA)

Para astronom berhasil melihat sebuah peristiwa langka yang terkait dengan bintang mati. Teleskop Herschel berhasil melihat pancaran sinar laser yang sangat kuat ditembakkan dari pusat sebuah awan gas kosmis. Peristiwa ini menjadi indikasi keberadaan pasangan bintang kembar di pusat awan gas tersebut.

Awan gas kosmis yang diamati dan dipotret itu adalah Nebula Semut. Sebuah planetari nebula yang terbentuk ketika bintang dengan massa menengah seperti Matahari mencapai akhir hidupnya. Pada saat itu, bintang akan melontarkan lapisan gas terluarnya ke angkasa. Gas yang dilontarkan itu pada akhirnya membentuk pola awan gas yang dikenal sebagai planetari nebula. Nah, awan gas yang diamati Herschel ini adalah Nebula Semut karena polanya mirip Semut.

Apakah kamu bisa menemukan pola semut di foto itu?

Awan Gas Yang Tersisa di Sekitar Bintang Mati

Pada umumnya di pusat planetari nebula ada bintang katai putih yang sangat kecil. Tapi, ada yang berbeda di Nebula Semut. Nebula yang satu ini diisi oleh materi 10000 kali lebih banyak dibanding planetari nebula umumnya. Gas berlebih yang ada di Nebula Semut membentuk piringan gas yang berputar dan menembakkan laser yang sangat kuat.

Laser dari pusat planetari nebula pertama kali diamati oleh David Menzel pada tahun 1920-an dan diberi julukan Menzel 3. Pada saat itu Menzel juga menduga bahwa pada kondisi tertentu akan terjadi penguatan cahaya yang distimulasi oleh pancaran radiasi.

Pancaran sinar laser seperti ini hanya bisa terjadi jika ada gas yang sangat padat di dekat bintang. Pada kondisi normal, area di dekat bintang mati itu kosong karena seluruh materi dilontarkan ke luar. Jika ada materi tersisa pasti akan kembali masuk ke dalam bintang. Jarak dekat di sini bisa antara Matahari ke Saturnus!

Tapi yang dilihat Herschel memperlihatkan terbentuknya piringan gas yang berputar di sekitar bintang. Tampaknya, piringan gas itu dibentuk oleh bintang pasangan katai putih yang tidak tampak. Si bintang pasangan diduga memiliki gravitasi yang sangat kuat sehingga dengan mudah mencuri materi dari nebula. Saat ditarik ke arah bintang pasangan, gas akhirnya membentuk piringan dan tampak seperti air yang sedang berputar di sekitar tutup saluran pembuangan sebelum akhirnya masuk ke pipa pembuangan.

Laser antariksa seperti ini termasuk pemandangan langka dan hanya beberapa yang sudah berhasil dilihat oleh para astronom. Karena itu, apa yang kita lihat sekarang di Nebula Semut merupakan penemuan yang memesona.

Fakta keren

Laser pertama pertama kali dibuat pada tahun 1960. Pencapaian yang masih terus dirayakan setiap tahun pada tanggal 16 Mei sebagai Hari Cahaya Internasional.

[divider_line]
Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang dan perluasan dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.