Robot Cerdas pun Ikut Mencari Kehidupan Asing

Seperti apa hasilnya ketika robot cerdas membantu para astronom mencari dan menganalisa planet-planet asing di bintang lain? 

Planet Kepler 16, planet sirkumbinari yang mengitari dua bintang. Kredit: T. Pyle / NASA / JPL-Caltech
Planet Kepler 16, planet sirkumbinari yang mengitari dua bintang. Kredit: T. Pyle / NASA / JPL-Caltech

Sejak film “Star Wars” dirilis 40 tahun lalu dan film-film sains fiksi jadi sangat populer, kita pun mulai berandai-andai supaya kenyataan bisa seperti yang ada di film. Robot cerdas yang bisa menerima telpon dan melakukan segala sesuatu, perjalanan antariksa yang lebih cepat dari kecepatan cahaya, atau alien eksotis yang jadi teman.

25 tahun lalu, untuk pertama kalinya kita menemukan exoplanet yang sekaligus menandai babak baru masa depan antariksa. Hari ini, kita sudah punya robot cerdas, atau lebih tepatnya perangkat lunak cerdas yang bisa membantu kita menemukan planet-planet asing yang laik huni atau cocok untuk kehidupan.

Inteligensi Buatan (AI) telah berhasil membantu para ilmuwan mempelajari apa yang dikenal sebagai ‘Tatooines’ (dibaca: tatuin). Ini adalah planet yang mengorbit dua bintang sekaligus atau yang dikenal sebagai planet sirkumbinari. Sama seperti planet Tatooine yang ada di film Star Wars. Inteligensi buatan bertugas untuk mencari tahu apakah planet-planet yang mengitari dua bintang bisa mendukung kehidupan atau tidak. Dan ternyata tidak mudah memang untuk mengetahuinya.

Planet-planet tersebut harus bisa bertahan selama miliaran tahun supaya kehidupan bisa berevolusi. Karena itu, para astronom mencari tahu apakah orbit planet-planet itu stabil atau tidak. Nah, ini yang sulit apalagi dengan keberadaan tambahan bintang di sistem tersebut.

Kehadiran bintang tambahan bisa menyebabkan perubahan orbit planet. Bintang kedua dalam sistem bisa menyebabkan terjadinya gangguan yang sangat besar sehingga planet pun terlontar ke luar dari sistem atau justru hancur karena menabrak salah satu bintang.

Dari planet-planet yang ditemukan mengitari bintang ganda, tampaknya planet sirkumbinari raksasa dengan periode panjang yang paling umum ditemukan. Belum ada planet sirkumbinari periode pendek yang ditemukan. Planet periode pendek diperkirakan tidak akan memiliki orbit yang stabil ketika mengitari dua bintang sekaligus.

Para astronom melakukan simulasi komputasi untuk mencari tahu kestabilan planet, dan ternyata planet yang diduga stabil itu tidak benar-benar stabil dan juga sebaliknya. Karena itu, para astronom pun menggunakan inteligensi buatan untuk membantu mereka.

AI bertugas untuk memantau 10 juta simulasi planet dengan garis edar berbeda – beda. Tujuannya untuk mengetahui planet mana yang stabil. Hanya dalam beberapa jam, inteligensi buatan ini sudah bisa menemukan planet yang orbitnya stabil dan yang tidak stabil. Keren kan! Kalau ilmuwan yang melakukannya tentu butuh waktu yang sangat lama.

Fakta keren

Lusinan planet telah ditemukan mengitari dua bintang. Bahkan ada planet yang ditemukan mengitari bintang bertiga!

[divider_line]
Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.