Menuju Antariksa, Menggapai Bintang: Penjelajahan Antariksa

Impian untuk bisa mengangkasa dan menjelajah antariksa sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Dengan kemajuan ilmu dan teknologi, impian untuk menjelajah antariksa dan menggapai bintang bisa tercapai.

Kisah Nini Anteh dari Jawa Barat. Kredit: Emanuel Sungging Mumpuni
Kisah Nini Anteh dari Jawa Barat. Kredit: Emanuel Sungging Mumpuni

Bermimpi terbang laksana burung adalah salah satu khayalan manusia sejak ribuan tahun lalu. Manusia ingin terbang menjelajah langit. Simak mitologi Yunani tentang Daedalus dan putranya Icarus yang terbang bersayap lilin yang akhirnya meleleh karena panas Matahari.

Di Indonesia, ada kisah Nini Anteh (Sunda), Lawaendröna (Nias), Gatotkaca (Jawa), dll. Mitologi ataupun legenda yang lahir dan bertahan ribuan tahun ibarat ujud dari keinginan tersebut. Melewati rentang peradaban manusia – bahwa nyatanya untuk mewujudkan mimpi ini pada akhirnya menjadi alur sejarah budaya pemikiran manusia akan hadirnya sesuatu nun jauh di luar sana yang ingin diraihnya. Ingat syair lagu anak-anak “Ambilkan Bulan, Bu” atau lainnya pada syair lagu “Bintang Kecil .. ke tempat kau berada”.

Dengan pengetahuan yang “makin maju”, sarana untuk menggapai impian itu sedikit banyak terwujud. Pada tahun 1232, untuk pertama kali Tiongkok menggunakan senjata roket untuk menyerbu Mongolia. Pada dasarnya roket yang dimaksudkan adalah berbahan bakar mesiu mirip petasan luncur yangmana hal ini terjadi sebagai adaptasi munculnya petasan atau kembang api luncur di sana. Dekade berikutnya, pendeta dari Inggris – Roger Bacon berhasil “mempercanggih”nya. Berlanjut abad 15, pada era dinasti Hsia di Tiongkok ada menteri bernama Wan Pu yang mencoba terbang dengan layangan besar bertenaga roket dan tidak lama bahkan muncul sketsa “mesin terbang” berbaling-baling.

Ada satu babak sejarah yang unik dan layak dicatat, bahwa selama ini Galileo Galilei dikenal sebagai penemu teleskop (tahun 1608). Kenyataannya, teknologi teleskop sudah dijumpai di dunia Arab lebih dari 6 abad sebelumnya.

Adalah Abu Ali Ibn Haytam / Abul Hasan, murid Ibn Yunus, penemu teori matematis tentang cara kerja pendulum (teori osilasi). Di Eropa disebut Alhazen. Spesialisasinya optik yang salah satu ciptaannya adalah lensa, termasuk alat lihat jauh berbentuk tabung silinder yang kini disebut teleskop. Teori refraksinya menggiringnya pada kesimpulan bahwa benda langit akan tampak sebelum bendanya benar-benar terbit, atau akan masih tampak di ufuk walau sebenarnya bendanya sudah terbenam. Analisis ketebalan atmosfer terkait observasinya merupakan hasil karya gemilangnya. Karya al-Haytam disadur Vitello (1270) lalu disebar ke seluruh Eropa, termasuk oleh Descartes, Kepler, Lippershey, dan Galileo yang berhasil merancang ulang teleskop tersebut dalam bentuk lebih modern.,

Satu hal yang sangat mengesankan pada era ini dan patut dicermati adalah munculnya dampak positif terhadap perkembangan pengetahuan dan nalar manusia takkala menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak kasat mata, dan sesuatu itu adalah benda langit nun jauh di sana. Bagaimana memandang dirinya diluasnya jagad yang pada masanya dikatakan tidak terbatas ini. Dampak dari hadirnya teleskop pun memperkaya dan mempertegas mimpi mengarungi samudra perbintangan.

Tiba abad 18, Kapten Inggris Thomas Desaguliers menelaah roket yang didapatinya dari India, khususnya dalam hal daya jelajah dan kekuatannya. Kemudian disusul awal abad 19, giliran Kolonel Inggris William Congrieve mengembangkan hasil Desaguliers untuk militer dengan bahan dasar roketnya adalah bahan bakar padat. Saat perang Napoleon tahun 1806, teknologi roket Congrieve digunakan secara massal.

Keinginan terbang inipun muncul pada novel klasik Julius Verne penulis fiksi ilmiah dari Perancis (From the Earth to the Moon – 1865) yang berkhayal mengedarai roket raksasa. Dalam novelnya, roketnya tersusun atas ragam komponen dan membawa berbagai peralatan (baru 100 tahun kemudian terwujud). Mengambil lokasi peluncuran di daerah Teluk Florida dan roketnya diberi nama Columbia (diabadikan untuk nama wahana dalam misi Apollo 11 yang berhasil mendarat di Bulan tahun 1969). Sempat difilmkan dengan judul Perjalanan ke Bulan oleh Georges Melier awal 1900-an.

Sementara itu, proposal pertama tentang stasiun luar angkasa muncul tahun 1869, oleh novelist Amerika Serikat Edward Everett Hale dalam karya Brick Moon dan bersambung tahun 1870 pada novelnya Life in the Brick Moon yang diterbitkan pertama kali di majalah Atlantic Monthly. Konsep “Brick Moon” adalah sebagai stasiun ruang angkasa (space station, layaknya International Space Station yang kini mengorbit Bumi), juga sebagai sarana militer serta alat navigasi di hamparan samudra luas bintang gemintang.

Abad 20, Abad Penjelajahan Antariksa

Memasuki abad 20, konsep roket yang kini dikenal mulai berkembang. Dipelopori Konstantin Eduardovich Tsiolkovsky (1857 – 19 September 1935, Uni Soviet), guru matematika. Gagasannya tentang “multistages rockets”, pesawat ulang alik bersayap, stasiun antariksa, dan penjelajah antar planet menjadi landas pijak teknologi yang setelah 80 tahunan baru dapat diwujudkan.

Sketsa pesawat luar angkasa pertama untuk menjelajah antariksa oleh Konstantin Tsiolkovsky. Kredit: Wikimedia
Sketsa pesawat luar angkasa pertama untuk menjelajah antariksa oleh Konstantin Tsiolkovsky. Kredit: Wikimedia

Tsiolkovsky dianggap Bapak Eksplorasi Luar Angkasa Uni Soviet. Akan tetapi, ada tonggak sejarah yang secara paralel patut diperhitungkan dalam kancah ini, yaitu berhasilnya Wright bersaudara melakukan penerbangan pertamanya dengan pesawat terbang dengan teknologi pesawat terbang yang kini dikenal pada tanggal 17 Desember 1903. Disusul tahun 1923, oleh Hermann Oberth (Rumania/Jerman) yang untuk pertama kalinya memperkenalkan istilah “space station”. Gagasan awalnya sebagai batu loncatan saat manusia ingin ke Bulan dan Mars. Diikuti Paul Schmidth (AS) dan Robert Goddard (AS, dijuluki Bapak Roket Modern). Goddard sukses untuk pertama kalinya menerbangkan roket berbahan bakar cair (16 Maret 1926) dari landas luncur di Auburn, Massachusetts, Amerika Serikat.

Sementara itu, pada tahun 1952 Werner von Braun mempublikasikan konsepnya dalam majalah Collier dengan prototipe roket berukuran sekitar 80 meter dan berada di orbit Bumi dengan ketinggian sekitar 1.000 mil. Braun akhirnya membuat roket yang disebut tipe A-2 dan V-2 yang melahirkan konsep IRBM/ICBM (Intermediate Range/Inter Continental Ballistic Missile). Konsep yang terkait dengan daya jelajah peluru kendali.

Dengan teknik ICBM, usaha dalam taraf ini memuncak pada tanggal 4 Oktober 1957 padamana Soviet berhasil meluncurkan Sputnik 1 mengorbit Bumi pada ketinggian 800 km selama 162 hari. Tanggal ini diperingati Perserikatan Bangsa Bangsa sebagai pembuka acara tahunan World Space Week (Pekan Antariksa Dunia) mulai tahun 2001 dan dicanangkan hingga 2020.

Beragam kemajuan terus bergulir yang terkadang unik. Sebut Laika, seekor anjing yang berhasil menjadi “awak” Sputnik 2, disusul Explorer I – satelit pengorbit Bumi tahun 1958 oleh Amerika Serikat.  Soviet berhasil mengorbitkan kosmonot pertama Yuri Gagarin dengan Vostok-1 (12/4/1961, 108 menit). AS menyusul dengan astronot Alan Sheppard – 5/5/1961. Lomba prestasi ini makin ketat dengan mendarat untuk pertama kalinya manusia di Bulan, Neil Armstrong dengan Apollo 11 (19/7/1969).

Sampai tahun 2000 tak kurang 4.000-an wahana diluncurkan dengan ragam misi. Iptek ke-antariksa-an makin universal. Misal stasiun angkasa Salyut (1971, Soviet) dan Skylab (1973, AS), juga penggabungan Soyuz (Soviet) dengan Apollo (AS) Juli 1975 yang dianggap simbol perdamaian.

Space Shuttle a.k.a Pesawat Ulang Alik

Peluncuran pesawat ulang alik Columbia (STS 1) dari Cape Canaveral. Kredit: NASA
Peluncuran pesawat ulang alik Columbia (STS 1) dari Cape Canaveral. Kredit: NASA

Tipe penerbangan semakin bervariasi. Salah satunya adalah Space Transportation System (STS) yang lebih dikenal sebagai Space Shuttle atau pesawat ulang alik buatan NASA. Memiliki tinggi 56,1 m, diameter 8,7 m, dan berat ±2000 ton. Berdasarkan daya jelajah termasuk wahana orbit rendah. Tempat peluncurannya di Cape Canaveral (Kennedy Space Center).

Enterprise adalah prototipe yang pertama. Berhasil diluncurkan 17 September 1976. Program STS sendiri diawali dengan peluncuran Columbia (STS-1) tanggal 12 April 1981. Berhasil dengan 4 astronotnya tanggal 11 November 1982 (STS-5), disusul Challenger (STS-6, 4 April 1983), Discovery (STS-41-D, 30 Agustus 1984), dan Atlantis (STS-51-J, 3 Oktober1985). Misi Space Shuttle diakhiri pada misinya yang ke 135 tanggal 8-21 Juli 2011 dengan peluncuran Atlantis (STS-135). Ada 2 musibah, yaitu pertama meledaknya Challenger (28 Januari 1986) sesaat setelah peluncuran (STS-51-L) dan yang kedua (STS-107) tanggal 1 Februari 2003 yaitu Columbia yang meledak sesaat sebelum mendarat.

Misi Columbia yang layak dicatat adalah meletakkan teleskop Chandra X-ray Observatory (STS-93). Selain itu yang pertama dalam hal meletakkan satelit komersial bersama 4 awak (STS-5), membawa laboratorium angkasa (spacelab) bersama 6 awak (STS-9), dikomandani astronot wanita – Eileen Collins (STS-93). Disandingkan juga dengan ulang alik lainnya: Atlantis, Challenger, Endeavour and Discovery. Banyak wahana yang diangkut dengan Space Shuttle, seperti teleskop angkasa Hubble, Spitzer, Compton, Galileo, Magellan, Ulysses, dll.  Perjalanan angkasa (spacewalk) juga pertama kali dilakukan oleh awak Columbia pada misi STS-87, yakni astronaut Winston E. Scott saat merakit International Space Station. Termasuk astronot ulang alik Joe Allen yang pada bulan November 1984 berhasil menangkap satelit Palapa B-2 yang salah peletakannya di orbit.

Penggabungan 2 wahana di antariksa terulang lagi tahun 1995 antara ulang alik Atlantis (AS) dengan stasiun angkasa Mir (Soviet). Kini ada laboratorium angkasa International Space Station (ISS). Digagas AS dan Soviet tahun 1984, dirancang 1994, dan dibangun 1997. Melibatkan 17 negara: ESA (European Space Agency: Austria, Belanda, Belgia, Denmark, Finlandia, Italia, Irlandia, Inggris, Jerman, Swiss, Norwegia, Perancis, Spanyol, Swedia), Jepang, Kanada, dan Brasil.

Akhirnya, modul utama usai tahun 2006. Pesawat ulang alik pun dapat parkir di sana. Perkembangan teknologi ini jugalah yang pada akhirnya membawa manusia untuk menjelajah Tata Surya.

Ditulis oleh

Widya Sawitar

Widya Sawitar

lulusan astronomi ITB yang berkiprah di Planetarium Jakarta dan Bapak bagi astronom amatir di Indonesia. Widya adalah Pembina HAAJ sejak tahun 1994 dan berperan penting dalam pengembangan dunia astronomi amatir di Indonesia.