Hoax Tentang Dampak Matahari di Ekuinoks

Kabarnya, fenomena Equinox akan mempengaruhi 3 negara yakni Malaysia, Singapura dan Indonesia dalam 5 hari ke depan. Dan temperatur akan berfluktuasi sampai 40ºC. Akan ada serangan panas (heatstroke) yang menyebabkan seseorang pingsan dan bisa mengalami kegagalan organ dalam! Itu semua disebabkan oleh fenomena Matahari di ekuinoks ketika matahari diposisikan tepat di atas garis khatulistiwa di tgl 20 Maret.

Skema Ekuinoks bulan Maret dan September. Titik Balik Matahari di Utara dan Selatan yang menandai panjang siang dan malam yang sama. Kredit: langitselatan
Skema Ekuinoks bulan Maret dan September. Titik Balik Matahari di Utara dan Selatan yang menandai panjang siang dan malam yang sama. Kredit: langitselatan

Seperti biasa, isu yang membuat panik seperti ini menyebar dengan cepat tanpa ada cek dan ricek! Dan publik kemudian mulai mencari tahu apa yang akan terjadi tanggal 20 Maret 2017.

Ingin tahu apa yang terjadi? Tidak akan terjadi apa-apa karena isu itu cuma Hoax a.k.a berita yang memuat informasi yang salah. Selain itu, hoax terkait ekunok ini tampaknya sedang memulai tren sebagai hoax tahunan, karena tahun lalu berita serupa juga beredar.

Nah, apa yang benar dan apa yang salah dari berita tersebut? Mari kita tilik bersama. Fenomena astronomi yang ada dalam berita tersebut adalah Equinox atau Ekuinoks. Peristiwa ini memang benar adanya dan akan terjadi pada tanggal 20 Maret 2017 pada pukul 17:28 WIB.

Tapi, cuma itu yang benar. Berita tentang dampak ekuinoks salah semua. Singkatnya, ekuinoks merupakan peristiwa ketika Matahari berada tepat di atas garis katulistiwa. Akibatnya, panjang siang dan malam akan sama. Tidak akan ada dampak lain. Panas sampai 40 derajat itu tidak akan terjadi hanya karena Matahari sedang melintasi titi ekuinoks.

Matahari memang tepat berada di atas khatulistiwa, dan Indonesia berada di area khatulistiwa. Tapi tidak berarti akan ada peningkatan suhu, hanya karena Matahari yang jaraknya 150 juta km berada di atas khatulistiwa. Bahkan pada posisi terdekat Bumi dengan Matahari pun tidak akan ada dampak peningkatan suhu seperti hoax serupa yang beredar saat Bumi di perihelion, bulan Januari lalu.

Seandainya Bumi pindah ke lokasi Merkurius, nah itu baru namanya ada peningkatan suhu karena dekat dengan Matahari!

Terkait cuaca, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memberi klarifikasi bahwa “kondisi cuaca di wilayah Indonesia secara umum cenderung masih lembab/basah”.

Menurut BMKG, “beberapa wilayah Indonesia saat ini sedang memasuki masa/periode transisi/pancaroba. Maka ada baiknya masyarakat tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan tetap menjaga kesehatan keluarga serta lingkungan. Selain itu, ekuinoks bukan merupakan fenomena seperti HeatWave yang terjadi di Afrika dan Timur Tengah yang dapat mengakibatkan peningkatan suhu udara secara besar dan bertahan lama”.

Jadi apa itu Ekuinoks?

Pergerakan Bumi mengelilingi Matahari dan perubahan musim. Kredit: Peter Hermes Furian / Canstickphoto
Pergerakan Bumi mengelilingi Matahari dan perubahan musim. Kredit: Peter Hermes Furian / Canstickphoto

Ekuinoks berasal dari bahasa latin aequus (sama) dan nox (malam) atau “malam yang sama”. Artinya, pada saat terjadi ekuinoks, seluruh Bumi akan mengalami durasi siang dan malam yang sama yakni 12 jam. Inilah yang akan terjadi 20 Maret dan 23 September.

Jadi, Bumi bergerak mengitari porosnya setiap 23 jam 56 menit dan 4 detik dan ini yang menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam saat sebagian Bumi menerima sinar Matahari dan sebagian lagi membelakangi Matahari. Gerak rotasi Bumi dari barat ke timur menyebabkan kita melihat Matahari terbit di timur dan terbenam di barat. Akibatnya, dari Bumi, Matahari seakan bergerak setiap harinya dari timur ke barat.

Selain berputar pada porosnya, Bumi juga bergerak mengitari Matahari setiap 365,25 hari dan menyebabkan terjadinya pergantian musim. Akibat gerak revolusi Bumi, akan timbul kesan semu ditandai oleh perubahan posisi Matahari setiap hari. Padahal justru posisi Bumilah yang berubah terhadap Matahari. Kita bisa melihat perubahan tersebut dari posisi Matahari yang berubah-ubah terhadap bintang-bintang di belakangnya. Jarak bintang latar belakang yang sangat jauh membuat posisi bintang tidak banyak berubah seiring dengan bergeraknya Bumi mengelilingi matahari.

Pergerakan Matahari di garis ekliptika selama satu tahun. Perubahan posisi Matahari tampak dari posisinya terhadap bintang latar belakang.
Pergerakan Matahari di garis ekliptika selama satu tahun. Perubahan posisi Matahari tampak dari posisinya terhadap bintang latar belakang.

Jika kita melakukan pengamatan harian untuk melacak posisi Matahari dari waktu ke waktu, maka kita bisa melihat Matahari bergerak mengikuti garis ekliptika. Gerak tahunan Matahari di sepanjang garis ekliptika menghasilkan perubahan posisi Matahari melintasi 12 rasi bintang yang kita kenal sebagai zodiak.

Garis ekliptika ini berpotongan dengan garis ekuator langit, yaitu garis yang memotong bola langit menjadi dua bagian–belahan utara dan belahan selatan. Karena kemiringan sumbu rotasi Bumi 23,5º maka sudut perpotongan antara ekliptika dan ekuator langit juga 23,5º. Perpotongan garis ekliptika dan ekuator langit ini yang kita kenal sebagai titik ekuinoks.

Ketika Matahari sedang berada di titik ekuinoks, panjang siang dan malam akan sama yakni 12 jam. Dua kali dalam setahun, Matahari akan melintasi titik ekuinoks saat bergerak dari Bumi Belahan Utara ke Bumi Belahan Selatan dan sebaliknya. Setelah Matahari melintasi titik ekuinoks, maka akan ada perbedaan panjang siang dan malam. Kita di khatulistiwa tidak pernah mengalami perbedaan panjang siang dan malam yang ekstrim seperti di Bumi belahan Utara ataupun Selatan.

Perubahan musim selama Bumi mengitari Matahar. Kredit: Solar Walk
Perubahan musim selama Bumi mengitari Matahar. Kredit: Solar Walk

Saat Matahari bergerak dari selatan ke utara maka itu artinya akan ada pergantian musim di utara dan selatan. Penyebrangan Matahari di titik ekuinoks bulan Maret pada tanggal 20 Maret merupakan penanda awal musim semi di Utara dan awal musim gugur di selatan. Setelah melewati ekuinoks, Bumi terus bergerak ke utara sampai mencapai titik terjauhnya di utara pada tanggal 21 Juni yang kita kenal sebagai Titik Balik Utara atau Titik Balik Musim Panas untuk Bumi belahan Utara yang memasuki musim panas atau Titik Balik Musim Dingin untuk Bumi belahan selatan yang memasuki musim dingin.

Setelah mencapai titik terjauhnya di Utara, Matahari kembali bergerak menuju selatan dan kembali melintasi ekuinoks tanggal 23 September yang menandai awal musim gugur di Utara dan awal musim semi di Bumi belahan selatan. Matahari terus bergerak sampai mencapai titik terjauhnya di selatan yang dikenal sebagai Titik Balik Musim Dingin atau Titik Balik Selatan untuk Bumi belahan Utara dan Titik Balik Musim Panas untuk Bumi bagian Selatan. Ini terjadi pada tanggal 21 Desember.

TahunEkuinok bulan MaretEkuinok bulan September
201521 Maret05:46 WIB23 September15:22 WIB
201620 Maret11:31 WIB22 September21:22 WIB
201720 Maret17:30 WIB23 September03:03 WIB
201820 Maret23:16 WIB23 September08:55 WIB
201921 Maret05:00 WIB23 September14:51 WIB
202020 Maret10:51 WIB22 September20:32 WIB

Ketika Matahari di ekuinoks, Bumi belahan utara dan selatan akan menerima sinar Matahari selama 12 jam a.k.a siang 12 jam dan malam 12 jam. Matahari akan terbit di Timur dan terbenam di Barat. Setelah melewati ekuinoks, terbit terbenam Matahari akan bergeser ke utara atau selatan dari arah timur dan terbenam di utara atau selatan dari arah barat.

Setiap tahunnya, persinggahan Matahari di titik Ekuinoks dan titik Balik bisa mengalami pergeseran 1-2 hari. Hal ini disebabkan oleh gerak Bumi mengelilingi Matahari membutuhkan waktu 365,25 hari. Untuk ekuinok bulan Maret, perlintasan Matahari menyebrangi titik ini bisa terjadi antara 20 – 22 Maret. Sedangkan di bulan September, ekuinok bulan September bisa terjadi antara 22 – 24 September.

Saat, Matahari menyebrang titik Ekuinoks bulan Maret, daerah di Indonesia yang berada di area garis khatulistiwa bisa menikmati hari tanpa bayangan. Pontianak, yang jadi ikon dengan Tugu Khatulistiwa akan menjadi salah satunya. Provinsi lainnya yang dilewati adalah Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat (kota Pontianak), Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara dan Maluku Utara (pulau Halmahera kota Weda).

Untuk kota-kota lain di Indonesia, hari tanpa bayangan bisa dinikmati beberapa hari sebelum (untuk yang berada di bawah garis khatulistia / lintang selatan) atau sesudah Matahari melintasi titik Ekuinoks bulan Maret (area di atas garis khatulistiwa).

Itu sekilas tentang ekuinoks bulan Maret aka Vernal Ekuinoks dan Ekuinoks bulan September a.k.a Ekuinoks Musim Gugur.

Apa dampaknya bagi cuaca di Bumi? Tidak ada!

Tapi, ada satu hal yang bisa dilakukan saat Vernal Ekuinoks atau Ekuinoks bulan Maret. Kamu bisa ikut menghitung keliling Bumi seperti yang dilakukan oleh Eratosthenes. Simak caranya di artikel Ayo Mengukur Keliling Bumi!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...