Gerhana Bulan Terakhir di Tahun 2016

Tidak terasa, kita sudah berada di penghujung musim gerhana tahun 2016. Gerhana Bulan Penumbra tanggal 16-17 September 2016 akan menandai akhir musim gerhana tahun 2016.

Gerhana Bulan Penumbra 16-17 September 2016. Kredit: Solar Walk
Gerhana Bulan Penumbra 16-17 September 2016. Kredit: Solar Walk

Tahun ini kita cukup beruntung bisa menikmati hampir semua gerhana di musim gerhana tahun 2016. Paling spektakuler jelas Gerhana Matahari Total. Beberapa daerah juga berkesempatan menikmati gerhana matahari sebagian yang sangat kecil porsinya awal September lalu. Dan… dua Gerhana Bulan Penumbra tahun ini pun bisa kita nikmati.

Cukup beruntung bukan?

Gerhana Bulan Penumbra
Gerhana Bulan Penumbra terakhir tahun ini akan terjadi pada tanggal 16-17 September 2017, saat Bulan sedang berada dalam fase Purnama. Tapi, saat Bulan mengalami gerhana penumbra, pengamat tidak akan melihat banyak perubahan kecuali Bulan tampak lebih redup. Bahkan jika pengamat tidak terbiasa mengamati Bulan, ia akan menganggap sedang terjadi Bulan Purnama biasa.

Bulan tidak akan menghilang atau tampak berwarna merah seperti saat Gerhana Bulan Total ataupun Gerhana Bulan Sebagian. Ini terjadi karena saat Gerhana Bulan Penumbra, Bulan tidak masuk dalam umbra Bumi atau bayang-bayang inti Bumi.

Saat Gerhana Bulan terjadi saat Matahari – Bumi – Bulan mengalami kesejajaran dengan Bumi berada di antara Matahari dan Bulan. Ketika gerhana bulan, Bumi-lah yang menjadi penghalang bagi cahaya Matahari untuk mencapai Bumi.

Proses terjadinya Gerhana Bulan Penumbra. Kredit: langitselatan
Proses terjadinya Gerhana Bulan Penumbra. Kredit: langitselatan

Tapi, ketika Gerhana Bulan Penumbra, posisi Matahari – Bumi – Bulan tidak benar-benar sejajar. Hampir sejajar tepatnya. Karena itu, Bulan tidak masuk dalam umbra Bumi, melainkan di area kerucut penumbra. Pada area ini hanya sebagian cahaya Matahari yang terhalang oleh Bumi. Akibatnya Bulan masih bisa menerima cahaya Matahari untuk dipantulkan. Dan bagi pengamat di Bumi, saat Bulan masuk ke penumbra Bumi, maka Bulan Purnama yang awalnya sangat terang, secara perlahan-lahan akan meredup.

Gerhana bulan terjadi ketika Bulan sedang berada dalam fase purnama. Tapi, tidak setiap Bulan Purnama gerhana Bulan akan terjadi. Ini dikarenakan orbit Bulan yang memiliki kemiringan 5º terhadap orbit Bumi.

Perpotongan orbit Bulan dan Bumi. Kredit: langitselatan
Perpotongan orbit Bulan dan Bumi. Kredit: langitselatan

Pada tanggal 16-17 September saat Gerhana Bulan Penumbra terjadi, masih ada sebagian kecil bagian Bulan yang tidak masuk ke dalam kerucut penumbra Bumi. Artinya sebagian besar bagian Bulan akan ada dalam bayangan Bumi dan menerima sebagian cahaya Matahari, sedangkan sebagian kecil lainnya akan tetap menerima cahaya Matahari secara langsung. Karena itu, mesikpun Bulan tampak meredup tapi masih cukup terang di langit malam.

Skema Gerhana Bulan Penumbra tanggal 16-17 September 2016. Kredit: langitselatan
Skema Gerhana Bulan Penumbra tanggal 16-17 September 2016. Kredit: langitselatan

Seri Saros 147
Gerhana Bulan Penumbra 16-17 September 2016 merupakan anggota ke 8 dari 70 gerhana dalam Seri Saros 147. Seri Saros 147 terdiri dari 16 gerhana penumbra, 42 gerhana sebagian dan 12 gerhana total. Susunan gerhananya adalah sbb:

08 Penumbra
23 Partial / Sebagian
12 Total
19 Partial / Sebagian
08 Penumbra

Seri Saros merupakan sebuah siklus terjadinya gerhana secara periodik yang berselang 18 tahun 11 hari 8 jam. Artinya kalau ada dua gerhana yang terpisah atau terjadi dalam selang waktu tersebut, kedua gerhana itu akan memiliki geometri gerhana yang sama.

Gerhana di seri saros 147 semuanya terjadi ketika Bulan berada di titik turun dan Bulan bergerak ke arah utara dalam setiap gerhana. Seri 147 dimulai dengan gerhana bulan penumbral di tepi selatan penumbra Bumi pada tanggal 2 Juli 1890 dan akan diakhiri dengan gerhana bulan penumbra di dekat tepi utara penumbra Bumi, pada tanggal 28 Juli 3134. Untuk seri Saros 147, durasi total berlangsungnya keseluruhan gerhana dalam seri ini adalah 1244.08 tahun.

Tahapan Gerhana
Gerhana Bulan Penumbra 16-17 September 2016 akan berlangsung selama 3 jam 59 menit 16 detik dengan kecerlangan -0,9 magnitudo dan akan dengan mudah dilihat dengan mata tanpa alat sebagai bayangan agak gelap di sebagian besar utara Bulan. Sebagian kecil sisi selatan Bulan akan tampak sangat terang karena tidak masuk dalam kerucut penumbra.

20160917_lsgbp_visibilitas

Gerhana Bulan Penumbra tanggal 16-17 September 2016 dapat diamati oleh masyarakat di Eropa, Afrika, Asia, dan Pasifik Barat. Seluruh masyarakat Indonesia akan dapat mengamati Gerhana Bulan Penumbra dimulai dari tegah malam sampai dini hari. Gerhana di wilayah Indonesia barat akan dimulai tanggal 16 September jelang tengah malam dan berakhir tanggal 17 September dini hari. Untuk wilayah Indonesia timur dan tengah, gerhana dimulai lewat tengah malam sampai dini hari jelang matahari terbit.

Untuk sebagian wilayah Papua bagian timur, gerhana bulan tidak dapat diamati sampai kontak terakhir saat Bulan ke luar dari penumbra karena Bulan sudah terbenam saat gerhana masih berlangsung.

Tahapan terjadinya gerhana pada tanggal 16-17 September adalah sbb:

Waktu Indonesia Bagian Barat
Awal Gerhana (16 Sep) : 23:54 WIB
Puncak Gerhana (17 Sep) : 01:55 WIB
Akhir Gerhana (17 Sep): 03:53 WIB

Waktu Indonesia Bagian Tengah
Awal Gerhana (17 Sep): 00:54 WITA
Puncak Gerhana (17 Sep): 02:55 WITA
Akhir Gerhana (17 Sep): 04:53 WITA

Waktu Indonesia Bagian Timur
Awal Gerhana (17 Sep): 01:54 WIT
Puncak Gerhana (17 Sep): 03:55 WIT
Akhir Gerhana (17 Sep): 05:53 WIT

Bulan bisa ditemukan dengan mudah di langit karena sedang dalam fase purnama dan yang perlu diingat, dalam gerhana penumbra perubahan yang terjadi agak sulit dikenali. Perubahan itu berupa berkurangnya cahaya Bulan dan baru bisa dikenali perbedaannya setelah 2/3 piringan Bulan memasuki penumbra Bumi.

Clear Sky!

[divider_line]

Infografik Gerhana Bulan Penumbra bisa diunduh di Gerhana.Info

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.