fbpx
langitselatan
Beranda » Supernova Paling Terang Yang Pernah Ada

Supernova Paling Terang Yang Pernah Ada

Ledakan bintang mahadasyat berhasil diamati oleh para astronom! Ledakan bintang yang satu ini tidak biasa. Saat meledak, bintang ini melepaskan energi 10 kali lebih kuat dari yang bisa diradiasikan Matahari dalam 10 miliar tahun!
Luar biasa bukan? Dengan ledakan sedasyat itu, tentu saja kecerlangannya pun luar biasa terang. Supernova yang ditemukan 7 bulan lalu itu bersinar 600 miliar kali lebih terang dari Matahari. Bahkan, jika seluruh bintang yang ada di Bima Sakti digabung, kecerlangannya masih 20 kali lebih redup dibanding supernova baru tersebut.

Ilustrasi supernova ASASSN-15lh. Kredit: Universitas Peking

Meskipun ledakan ini sangat dasyat dan juga sangat terang, para pengamat di Bumi tidak akan dapat melihatnya secara langsung. Kecerlangannya 17 magnitudo. Dengan kata lain, supernova ini sangat redup untuk bisa dilihat oleh mata tanpa alat. Sayangnya ledakan ini terjadi jauh di luar Bima Sakti, pada jarak 2,8 miliar tahun cahaya.

Seandainya, supernova tersebut terjadi di Bima Sakti, tentu akan mudah dilihat dengan mata tanpa alat bahkan di siang hari. Jika ledakan ini terjadi 10 ribu tahun cahaya maka kita bisa melihatnya seterang Bulan sabit di malam hari. Atau jika ledakan ini jaraknya sejauh bintang Sirius atau 8,6 tahun cahaya maka kita akan melihatnya seperti Matahari! Apalagi kalau ledakan ini terjadi pada jarak sedekat Pluto! Jika itu terjadi, mari kita ucapkan selamat tinggal pada kehidupan, Bumi dan seluruh Tata Surya!

Selain kecerlangannya mengalahkan supernova lainnya yang sudah ditemukan, supernova yang luar biasa terang ini juga diketahui memancarkan lebih banyak energi tiap detiknya dibanding bintang-bintang yang ada di Bima Sakti.  Tak hanya sangat terang, supernova ini juga jauh lebih panas dari supernova lain yang sudah ditemukan.

ASASSN-15lh
Supernova ASASSN-15lh. Kredit: Digitized Sky Survey / LCOGT

Mengenal ASASSN-15lh
Supernova yang dilihat itu diberi nama ASASSN-15lh, yang sekaligus menandai kehadirannya sebagai bagian dari All Sky Automated Survey for SuperNovae (ASASSN). Pemantauan langit ini dilakukan dengan teleskop Cerro Tololo 14cm di Chile. ASASSN-15lh ditemukan bulan Juni 2015, dan sejak saat itu pengamatan lanjutan pun dilakukan dengan beberapa teleskop di belahan Bumi selatan. Diantaranya adalah teleskop robotik 1 meter milik Las Cumbres Observatory Global Telescope Network, teleskop du Pont 2,5 meter di Observatorium Las Campanas, teleskop SALT 10 meter di Afrika Selatan, dan beberapa teleskop lainnya.

Ketika pertama kali terdeteksi, ASASSN-15lh hanya berupa titik redup dalam citra yang diambil secara otomatis oleh All-Sky Automated Survey for Supernovae (ASAS-SN). Dalam surveinya, ASAS-SN berulang kali mengamati dan memotret area yang sama untuk mencari ledakan singkat. Ternyata yang ditemukan justru kemunculan cahaya yang sudah menempuh perjalanan 2,8 miliar tahun untuk mencapai Bumi.
Cahaya yang tampak itu minim fitur hidrogen. Dengan demikian, bintang yang jadi sumber cahaya tentunya sudah kehilangan selimut terluarnya yang kaya hidrogen disapu angin sebelum terjadinya ledakan.

Baca juga:  Supernova Jenis Barukah?

Menilik kecerlangannya yang mencapai 600 miliar kecerlangan Matahari, tentunya supernova ini bukan ledakan yang normal. ASASSN-15lh dikategorikan sebagai supernova mahaterang, tipe yang sangat jarang. Supernova dalam tipe mahaterang ini diisi oleh ledakan bintang yang kecerlangannya 10 sampai 100 kali lebih terang dari supernova normal.  Jika demikian, bintang pendahulunya juga lebih besar dan jauh lebih panas.

Pada umumya, cahaya supernova berasal dari radioaktif nikel-56 yang di sintesa di dalam inti bintang sebelum bintang kehilangan bahan bakar dan tak lagi mampu menahan dirinya dari gravitasi. Elemen radioaktif ini kemudian meluruh dan menghasilkan sinar gamma yang memanasi materi disekelilingnya. Semakin banyak nikel-56, semakin terang supernova. Menariknya, supernova mahaterang (SLSN Class I ) yang dilihat ini, miskin hidrogen.

Diperkirakan, hidrogen di bintang ini menghilang dengan sangat cepat dan diduga hal tersebut terjadi karena bintang asal dari supernova sudah melontarkan selimut gas tebalnya sebelum ledakan terjadi. Selain itu, jika supernova mahaterang lainnya cenderung terjadi di galaksi kecil yang redup yang sangat aktif membentuk bintang baru, maka ASASSN-15lh justru sebaliknya. Supernova ASASSN-15lh diketahui terjadi di galaksi yang lebih besar dan lebih terang dari Bima Sakti. Dan uniknya galaksi tersebut bahkan hanya membentuk bintang baru setidaknya satu setahun!

Tapi bagaimana mungkin ledakan bintang tersebut sangat terang dan juga panas?

Teori pertama, selubung terluar dari bintang yang meledak bertumbukan dengan materi di sekeliling bintang mengakibatkan ledakan yang terjadi tampak lebih terang. Masalahnya, jika hal itu terjadi, maka spektrum akan memperlihatkan garis hidrogen. Dan dalam pengamatan supernova ini miskin hidrogen. Artinya, teori ini gagal.

Skenario lainnya, sumber tenaga berasal dari magnetar, inti bintang raksasa yang runtuh. Inti bintang tersebut memiliki medang magnet yang sangat kuat, kerapatan luar biasa tinggi dan berputar luar biasa cepat. Ketika bintang masif meledak, intinya akan membentuk bintang neutron. Dan pada kondisi tertentu inti bintang tersebut akan memiliki medan magnet yang sangat ekstrim, sampai dengan 100 triliun kali medan magnetik Matahari. Magnetar yang terbentuk itu berputar sangat cepat dan menyelesaikan putarannya hanya dalam beberapa milidetik. Jika si magnetar melambat, ia akan melepaskan energi yang sangat besar lewat angin magnetiknya. Angin yang berinteraksi dengan materi yang sebelumnya dilontarkan bintang saat meledak mampu menghasilkan kecerlangan yang luar biasa terang.

Skenario ini cocok dengan supernova mahaterang lainnya. Tapi tidak dengan ASASSN-15lh. Masih ada pro dan kontra. Akan tetapi, ASASSN-15lh diketahui melepaskan energi yang lebih besar dari yang bisa disediakan magnetar. ASASSN-15lh diketahui melepaskan 1052 ergs atau 100 miliar kali energi dari yang bisa dilepaskan Matahari dalam periode waktu yang sama. Dan itu, energi yang dipancarkan dalam empat bulan pertama.

Baca juga:  Supernova Yang Hidup Kembali

Skenario lain yang diajukan adalah ledakan bintang terbesar di alam semesta. Bintang itu diperkirakan ratusan kali lebih masif dari Matahari dan merupakan bintang langka dan belum ada yang pernah menyaksikan kematiannya.  Beberapa skenario lainnya adalah ketidakstabilan supernova maupun kelahiran bintang quark. Tapi apa yang terjadi masih merupakan misteri yang harus dipecahkan oleh para astronom.

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

1 komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini

  • saya mau tanya, ini kan jaraknya 2,8 miliar tahun cahaya, artinya cahaya menempuh 2,8 miliar tahun untuk sampai ke bumi dari tempatnya, artinya supernova ini terjadi 2,8 miliar tahun lalu, apakah ini benar?