Exoplanet Serupa Jupiter di Bintang 51 Eridani

Menemukan sebuah planet baru di bintang lain dengan pencitraan langsung atau pengamatan langsung merupakan impian dan harapan setiap astronom.

Tapi untuk bisa mengamati langsung sebuah planet di bintang lain bukan perkara mudah. Bahkan hampir tidak mungkin.  Kemungkinan itu terpatahkan pada tahun 2004 ketika 2M1207b ditemukan mengitari bintang katai coklat lewat pencitraan inframerah. Akan tetapi, 2M1207b kemudian menjadi perdebatan apakah ia sebuah planet atau bintang sub-katai coklat. Exoplanet berikut yang ditemukan lewat pencitraan langsung adalah Fomalhaut b yang mengitari bintang deret utama tipe A.

Ilustrasi exoplanet 51 Eridani b. Kredit: Danielle Futselaar & Franck Marchis, SETI Institute.
Ilustrasi exoplanet 51 Eridani b. Kredit: Danielle Futselaar & Franck Marchis, SETI Institute.

Penemuan Fomalhaut menjadi jejak awal era pencitraan langsung dalam mencari exoplanet. Syaratnya bintang yang diamati adalah bintang-bintang di lingkungan Matahari dan planet berada dekat dengan bintang induknya. Semakin jauh planet dari bintang induk, tentu akan sulit untuk bisa diamati.

Kehadiran instrumen baru yang semakin sensitif dan akurat membawa cerita lain dalam penemuan planet lewat pencitraan langsung. Salah satunya adalah exoplanet gas raksasa serupa Jupiter yang ditemukan lewat pengamatan langsung menggunakan Gemini Planet Imager (GPI) di Observatorium Gemini.

51 Eridani b
Planet baru yang dilihat Gemini Planet Imager itu berada di sistem bintang 51 Eridani yang berada 100 tahun cahaya dari Bumi.

Exoplanet yang dikenal juga dengan nama 51 Eridani b merupakan planet gas raksasa dengan massa 2 kali massa Jupiter dan berada pada jarak 13 AU dari bintang induknya. Kalau di Tata Surya, 51 Eridani b diperkirakan berada di antara Saturnus dan Uranus.

51 Eridani b yang dilihat pada panjang gelombang inframerah dekat. Kredit:  J. Rameau, University of Montreal / C. Marois, Herzberg Institute of Astrophysics.
51 Eridani b yang dilihat pada panjang gelombang inframerah dekat. Kredit: J. Rameau, University of Montreal / C. Marois, Herzberg Institute of Astrophysics.

Dalam beberapa kali pencitraan langsung, kandidat-kandidat planet seringkali diragukan karena hasil pencitraan langsung pada kandidat exoplanet yang ditemukan sebelumnya hanya menunjukkan jejak metana yang sangat sedikit. Berbeda dengan melimpahnya metana pada planet gas raksasa di Tata Surya. Obyek-obyek tersebut justru lebih mirip bintang dingin daripada planet.  Untuk 51 Eridani b, atmosfernya justru memberi tanda kehadiran metana, unsur yang juga ditemukan pada planet luar di Tata Surya. Artinya, 51 Eridani b tampak sebagai sebuah planet.

Untuk memastikan apakah 51 Eridani b merupakan planet atau bintang dingin, dilakukan pengamatan dari Observatorium W.M. Keck di Maunakea, Hawaii.  Dan hasilnya menunjukkan kalau, 51 Eridani b merupakan sebuah exoplanet yang usianya masih sangat muda yakni 20 juta tahun. Usia muda inilah yang mempermudah pencitraan langsung pada planet di bintang lain.

Ketika sebuah planet berkoalisi, materi yang jatuh ke dalam planet akan melepaskan energi dan memanas. Selama lebih dari 100 juta tahun berikutnya, energi tersebut akan dipancarkan kembali dalam bentuk cahaya inframerah dan kemudian obyek akan memasuki proses pendinginan secara bertahap.

Temperatur atmosfer 51 Eridani b masih cukup panas untuk bisa melelehkan timah yakni sekitar 430º C. Tapi masih lebih dingin dibanding planet gas raksasa lainnya yang memiliki temperatur lebih dari 530 ºC.

Penemuan 51 Eridani b merupakan bagian dari GPI Exoplanet Survey (GPIES)  pada lebih dari 600 bintang yang berada dalam jarak 300 tahun cahaya, untuk mencari potensi kehadiran planet. Sampai saat ini baru 20% atau 100 bintang yang berhasil diamati selama 3 tahun.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...