Gliese 832 c, Planet Venus Super di Tepi Dalam Zona Laik Huni

Seandainya ada sistem keplanetan di bintang lain, tentunya ia akan tampak seperti Tata Surya. Setidaknya itulah asumsi awal astronom ketika akan melakukan pencarian dunia lain.

Ilustrasi planet Gliese 832 c. Kredit:  Efraín Morales Rivera, Astronomical Society of the Caribbean, PHL @ UPR Arecibo
Ilustrasi planet Gliese 832 c. Kredit: Efraín Morales Rivera, Astronomical Society of the Caribbean, PHL @ UPR Arecibo

Kala itu hanya Tata Surya yang kita kenal memiliki planet. Tak pelak, para astronom akan berpikir bahwa inilah model ideal dari sebuah sistem keplanetan. Jadi jika ada yang lain maka tentu akan seperti Tata Surya susunannya. Ada planet batuan sebagai planet dalam dan planet gas raksasa sebagai planet terluar yang bergerak mengitari Matahari dalam orbit yang hampir lingkaran.

Sayangnya, penemuan ratusan exoplanet tidak sesuai dengan pemodelan ideal Tata Surya tersebut.  Pengamatan selama hampir 20 tahun mengungkap sistem keplanetan yang bervariasi dan sangat berbeda dari dugaan para astronom. Ada planet Jupiter panas di dekat bintang induk maupun Bumi Super yang ternyata umum ditemukan di sistem keplanetan. Setidaknya, kehadiran Wahana Kepler merevolusi pemahaman tentang extrasolar planet. Sebagai tambahan, penemuan planet kecil yang berada dekat bintang juga lebih umum ditemukan dibanding planet gas raksasa dengan periode panjang.

Pada awalnya, pencarian exoplanet hanya dilakukan di bintang-bintang serupa Matahari. Dan bintang yang lebih masif dari Matahari diabaikan oleh deteksi kecepatan radial karena tingkat kesulitan untuk menentukan kecepatan radial yang presisi. Tapi saat ini, pencarian planet di bintang-bintang bermassa lebih besar juga dilakukan. Seperti apa dan bagaimana planet bisa tetap bertahan pada bintang yang sudah memasuki tahap evolusi lanjut sudah dapat diketahui lewat pengamatan. Tak hanya bintang bermassa besar, bintang massa kecil seperti bintang katai merah juga ternyata menjadi rumah bagi planet-planet batuan yang memiliki potensi planet laik huni. Artinya kehidupan bisa tumbuh pada bintang yang berbeda dari Matahari.

Salah satu bintang katai merah yang diketahui memiliki planet gas raksasa dengan periode panjang adalah Gliese 832. Planet Gliese 832 b ditemukan pada tahun 2009 lewat Anglo-Australian Planet Search (AAPS). Planet dengan massa 0,64 massa Jupiter tersebut diketahui memiliki orbit hampir lingkaran dan waktu yang ia perlukan untuk mengelilingi bintang induknya adalah 9,4 tahun. Planet pertama yang ditemukan di sistem Gliese 832 tersebut berada 3,4 au dari bintang induknya.

Ternyata planet Gliese 832 b memang bukan satu-satunya plant di sistem tersebut. Planet kedua berhasil ditemukan pada bintang yang jaraknya hanya 16 tahun cahaya dari Bumi tersebut. Planet kedua yang disebut Gliese 832 c tersebut diketahui berada pada jarak 0,16 au dari bintang induknya. Dari lokasi kedua planet di Gliese 832, para astronom menempatkan sistem ini sebagai miniatur Tata Surya, dimana planet batuan berada di area dalam dan planet gas di area luar sistem.

Perbandingan Gliese 832 c dan Bumi. kredit: PHL @ UPR Arecibo
Perbandingan Gliese 832 c dan Bumi. kredit: PHL @ UPR Arecibo

Planet Gliese 832 c yang ditemukan oleh tim astronom pimpinan Robert Wittenmyer dari University of New South Wales, merupakan planet Bumi Super aka planet batuan yang ukurannya lebih besar dari Bumi dan diduga merupakan salah satu kandidat planet laik huni.

Planet Gliese 832 c di tepi dalam zona laik huni. Kredit: exoplanet app utk ios
Planet Gliese 832 c di tepi dalam zona laik huni. Kredit: exoplanet app utk ios

Pengamatan Gliese 832 c dilakukan lewat deteksi kecepatan radial dengan data dari HARPS-TERRA, Planet Finder Spectrograph dan UCLES echelle spectrograph. Pengamatan exoplanet lewat teknik kecepatan radial merupakan salah satu teknik yang paling berhasil dalam penemuan planet di bintang lain terutama untuk pengamatan landas Bumi. Teknik lainnya yang sukses menemukan ribuan planet adalah metode transit.

Bintang Gliese 832 yang merupakan bintang katai merah termasuk bintang massa kecil dan bersinar lebih redup dari Matahari. Zona laik huninya pun, berada lebih dekat ke bintang yakni merentang antara 0,19 – 0,40 au. Planet Gliese 832 c berada pada jarak 0,16 au dari bintang induknya,  dan diduga memiliki potensi sebagai planet laik huni mengingat ia berada di tepi dalam zona laik huni sang bintang induk. Tapi, air dalam wujud cair di planet tersebut tidak serta merta menjadikan planet ini nyaman bagi kehidupan, jika memang ada.

Planet Gliese 832 c yang menyelesaikan satu putaran pada bintang induknya setiap 36 hari, diketahui memiliki massa 5,4 kali lebih masif dari Bumi dan diduga menerima energi sama banyak dengan yang diterima Bumi dari Matahari. Planet Bumi Super Gliese 832 c juga diduga memiliki temperatur serupa Bumi dan pergeseran musim yang besar serta atmosfer kebumian yang juga serupa. Meskipun disebut Bumi Super, kehadiran atmosfer yang lebih padat di Gliese 832 c akan menyebabkan planet tersebut lebih panas untuk evolusi kehidupan. Dari ciri-ciri tersebut planet Bumi Super Gliese 832 c justru lebih cocok dikategorikan sebagai planet Venus Super.

Dari atmosfer yang lebih padat, planet Gliese 832 c memang mirip Venus. Tapi dari indeks kemiripan dengan Bumi, Gliese 832 c memiliki indeks 0,81 dan tak jauh berbeda dari Gliese 667C c (0,84) dan  Kepler-62 e (0,83). Dengan demikian Gliese 832 c menempati planet teratas yang memiliki tingkat kemiripan sangat dekat dengan Bumi. Tapi, ini pun belum bisa menentukan bahwa ia merupakan planet laik huni. Karena masih dibutuhkan pengamatan lanjutan untuk mengetahui kondisi atmosfer dan senyawa penyusunnya dan berbagai komponen lainnya. Jika sangat berbeda dari Bumi, maka planet ini akan masuk dalam golongan planet tidak laik huni.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.