SN 2013cu, Ledakan Kolosal Bintang Wolf-Rayet

Di masa lalu, ada sebuah bintang jauh yang memuntahkan seluruh seluruh isinya dan akhirnya berakhir dalam ledakan kolosal. Kejadian itu sudah berlalu lama bagi bintang itu, namun bagi manusia di Bumi, berita kematian itu baru tiba tahun lalu. Dan dalam beberapa jam, para astronom pun mulai mengarahkan teleskopnya untuk melihat kejadian tersebut.

Ledakan Bintang Wolf Rayet

Bintang Wolf-Rayet WR124 yang dikelilingi nebula M1-67. Kredit: Hubble Space Telescope
Bintang Wolf-Rayet WR124 yang dikelilingi nebula M1-67. Kredit: Hubble Space Telescope

Ledakan kolosal itu tak lain tak bukan adalah Supernova, peristiwa ledakan bintang-bintang bermassa besar saat mengakhiri hidup mereka. Meskipun ada banyak bintang-bintang besar yang memang mengakhiri hidupnya dalam ledakan supernova, tapi tetap saja ini merupakan peristiwa langka. Karena itu astronom pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk bisa mempelajari kondisi sebelum dan sesudah terjadinya ledakan.

Dengan melakukan pengamatan sesaat sesudah ledakan itu tampak, maka para astronom bisa mempelajari mengapa sebuah bintang bisa meledak sedemikian kuatnya. Kali ini, bintang yang meledak itu merupakan bintang Wolf-Rayet, sebuah bintang masif yang melontarkan massanya dalam angin bintang yang sangat kencang. Materi yang dilontarkan tersebut membentuk selubung yang melingkupi bintang.

Bintang Wolf-rayet atau Wolf-Rayet merupakan bintang besar yang memiliki massa 20 kali lebih masif dari Matahari dengan kondisi berangin kencang yang kecepatan anginnya mencapai 1000 km/detik. Jika dibandingkan bintang lain, bintang Wolf-Rayet justru kekurangan hidrogen. Inilah yang menjadi sidik jari Wolf-Rayet untuk dapat dengan mudah dikenali. Tak hanya itu, bintang Wolf-Rayet juga langka. Jadi ketika ada yang melihat bintang ini maka ia bisa menjadi sebuah berita menarik. Salah satunya  Wolf-Rayet 104 bintang ganda yang jaraknya 8000 tahun cahaya dari Bumi. Pada tahun 2008, bintang Wolf-Rayet 104 menjadi perhatian karena menurut perhitungan jika Wolf-Rayet 104 meledak maka Tata Surya akan ada dalam jalur ledakannya. Tapi ini bukan hal yang harus dikuatirkan karena pada jarak yang sedemikian jauh, tidak akan ada efek signifikan yang bisa ditimbulkan.

Mengapa penemuan ini jadi penting? Selama ini para astronom memang mengasumsikan kalau bintang Wolf-Rayet akan berakhir dalam ledakan dasyat. Dan diyakini juga kalau bintang Wolf-Rayet merupakan bintang progenitor atau bintang leluhur atau lebih tepatnya bintang asal dari supernova tipe tertentu. Bintang “progenitor” atau bintang cikal bakal maksudnya adalah bintang yang menurunkan bahan kimia jadi penyusun bintang. Dengan kata lain, bintang cikal bakal yang menjadi bintang asal sebelum terjadinya ledakan supernova.

Diduga, ketika bintang Wolf-Rayet meledak, maka ia akan meledak sebagai supernova tipe IIb, Ib atau Ic. Tapi, belum ada bukti langsung bahwa memang bintang Wolf-Rayet berakhir dalam ledakan dan merupakan bintang leluhur dari supernova tipe IIb, Ib atau Ic. Karena tak pernah ada bukti terjadinya ledakan, teori lain dibangun bahwa bintang Wolf-Rayet tak akan mengakhiri hidupnya dalam ledakan dasyat melainkan akan meredup dan kematiannya tak kan bisa dideteksi.

Pengamatan SN 2013cu
Pengamatan terbaru dari tim Palomar Transient Factory dan Carnegie Mansi Kasliwal yang dipimpin oleh Avishay Gal-Yam dari Weizmann Institute of Science di Israel berhasil melihat ledakan kolosal bintang Wolf-Rayet yang menjadi  supernova tipe IIb di galaksi UGC 9379 yang jaraknya 360 juta tahun cahaya di rasi Bootes.

SN 2013cu, ledakan bintang Wolf Rayet. Kredit: Avishay Gal-Yam et al.
SN 2013cu, ledakan bintang Wolf Rayet. Kredit: Avishay Gal-Yam et al.

Ledakan bintang SN 2013cu berhasil diamati oleh tim pengamat dengan menggunakan teknik spektroskopi flash selama 5,7 jam, 15 jam setelah ia meledak. Pengamatan dilakukan dengan teleskop Palomar 48 inchi di California, dan spektrum cahayanya diambil dengan teleskop Keck di Hawaii sebelum Matahari terbit.

Saat supernova meledak, kilasan cahaya dari ledakan itu mengionisasi area sekelilingnya. Akibatnya, para astronom bisa memiliki kesempatan untuk melihat secara langsung komponen kimia pembentuk bintang cikal bakal dari supernova tersebut. Dan kesempatan ini hanya berlangsung satu hari sebelum gelombang ledakan menyapu ionisasi tersebut. Jadi, sangat penting untuk bisa memperoleh spektrum supernova tersebut dengan cepat.

Hasil pengamatan berhasil memberi bukti kalay komposisi bintang asal dari supernova tersebut memiliki komposisi dan bentuk yang sesuai dengan bintang Wolf-Rayet yang kaya nitrogen. Dan tampaknya sebelum si bintang Wolf-Rayet mengakhiri hidupnya, ia mengalami peningkatan dalam kehilangan massa, seperti yang diprediksikan model ledakan Wolf-Rayet.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...