fbpx
langitselatan
Beranda » Sekolah Internasional untuk Astronom Muda ke-35 di Indonesia

Sekolah Internasional untuk Astronom Muda ke-35 di Indonesia

Pada tahun 2013 ini, Indonesia mendapat kehormatan, untuk yang ketiga kalinya menjadi tuan rumah penyelenggaraan International School for Young Astronomers (ISYA), atau Sekolah Internasional untuk Astronom Muda, yang secara internasional diselenggarakan ke -35 kalinya.

Apa itu ISYA? ISYA adalah sebuah kegiatan yang dikembangkan oleh International Astronomical Union (IAU) / Perhimpunan Astronomi Internasional pada tahun 1967, dalam binaan dan asuhan Komisi 46 IAU, yaitu komisi pengembangan dan Pendidikan Astronomi. Program ini mulai dijalankan semenjak tahun 1967, yang pertama kali di Universitas Manchester, Inggris. Kemudian secara berkala, diupayakan agar dapat dilaksanakan setiap tahunnya, setiap negara anggota IAU dapat melaksanakan kegiatan ISYA ini, di seluruh penjuru dunia ini. Sampai saat ini telah dilaksanakan sebanyak tiga puluh lima kali penyelenggaraan ISYA di penjuru dunia.

Foto bersama seluruh peserta dan pengajar ISYA sesaat setelah acara pembukaan ISYA 2013 di LAPAN Bandung. Kredit: langitselatan
Foto bersama seluruh peserta dan pengajar ISYA sesaat setelah acara pembukaan ISYA 2013 di LAPAN Bandung. Kredit: langitselatan

Apa yang ingin dicapai dari kegiatan ISYA ini? Ada tiga tujuan besar yang ingin dicapai dari pelaksanaan setiap ISYA, yaitu:

  • Memperluas wawasan setiap siswa bahwa astronomi bukanlah ilmu yang terarah pada satu aspek, tetapi banyak sekali aspek-aspek yang bisa digali dari astronomi.
  • Astronomi adalah ilmu yang tidak mengenal batas negara, sehingga dapat diatasi yang namanya isolasi , baik oleh batas negara, politik ataupun batasan-batasan yang lain, dan tidak ada “astronom penyendiri”. Setiap astronom adalah kolega bagi astronom yang lainnya di seluruh penjuru dunia.
  • Membuka kesempatan kerjasama pada skala yang lebih luas secara geografis.

Lalu siapa saja yang bisa mengikuti sekolah ini? Idealnya adalah mahasiswa sarjana/paska-sarjana, yang diharapkan dapat melanjutkan karir dalam bidang astronomi, tetapi terbuka juga untuk pengajar dan pendidik yang berkecimpung dalam pengembangan ilmu astronomi di masyarakat luas.

Dalam kurun waktu pelaksanaan  yang telah mencapai tiga puluh lima kali pelaksanaan ini, Indonesia telah memperoleh tiga kali kesempatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan ISYA, yaitu tahun 1973, 1983 dan kali ini di tahun 2013 (Menarik melihat bahwa angkanya selalu berujung pada angka 3). Pada tahun 2013 ini, yang mendapat kehormatan menjadi penyelenggara adalah LAPAN, sekaligus sebagai perayaan dirgahayu ke-50-nya. Acara sekolah ISYA tersebut diselenggarakan pada tanggal 25 Agustus – 14 September 2013, bertempat di Kompleks Kampus STIA – LAN Kiara Payung, Jatinangor Jawa Barat. Acara ini dapat diselenggarakan atas kerjasama LAPAN Pusat Sains Antariksa, IAU dan ITB.

Penyelenggaraan ISYA kali ini diikuti oleh 40 siswa-sisiwi yang terdaftar, dari sebelas negara serta berbagai latar belakang pendidikan dan keprofesian. Bahkan dari Indonesia pun terdiri dari beragam latar belakang, mulai dari dosen, peneliti, pengajar dan pendidik, sampai dengan praktisi astronomi.

Adapun materi yang diberikan cukuplah luas, dari aspek teori, praktek sampai pemanfaatan komputer dalam astronomi. Topik-topik yang disampaikan juga luas, disesuaikan dengan latar belakang pengajarnya, mulai dari pengenalan pada astrofisika modern, sains pada Tata Surya, Bintang Variabel dan Galaksi, Sistem Bintang Ganda, Kosmologi, Materi Kelam, Energi Kelam, Radio Astronomi, Instrumentasi modern, dll. Materi-materi tersebut boleh diunduh di situs ISYA.

Kuliah umum daro Prof. Bambang Hidayat saat ISYA 2013. Kredit : langitselatan
Kuliah umum daro Prof. Bambang Hidayat saat ISYA 2013. Kredit : langitselatan

Kegiatan yang dilakukan pun cukup intens, mulai dari kuliah reguler, praktek pengamatan siang (dilakukan di LPD LAPAN Tanjungsari pada tanggal 29 Agustus 2013), serta riset astronomi (mulai dari pengajuan proposal, pengamatan, pengolahan data dan pelaporan)  yang dilakukan sepanjang pelaksanaan ISYA. Sungguh sebuah sekolah yang sangat sibuk. Ada juga kegiatan kuliah umum yang mengundang masyarakat umum, dan menghadirkan ahlinya dari setiap bidang, yaitu mengenai (i) Cuaca Antariksa oleh Profesor Thomas Djamaluddin, pakar Astronomi & Astrofisika yang juga menjadi Deputi Sains Antariksa LAPAN; (ii) Ragam Wajah Matahari yang menghadirkan Profesor Nat Gopalswamy, dari NASA dan Presiden SCOSTEP (The Scientific Committee on Solar-Terrestrial Physics ) , serta (iii) Profesor Bambang Hidayat (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang menyampaikan mengenai aspek kebudayaan dan pendidikan astronomi.

Tidak hanya kegiatan belajar-mengajar, siswa-siswi ISYA juga menyampaikan presentansi singkat mengenai diri mereka, sebagai perkenalan kepada teman-temannya. Dan juga mereka berkesempatan mengikuti kegiatan-kegiatan sosial seperti outbound, mengunjungi Pusat Energi Geotermal Kamojang, Observatorium Bosscha, kunjungan budaya ke Saung Angklung Ujo, berjalan-jalan ke Gunung Tangkuban Perahu, dan tidak lupa, berbelanja ke Cihampelas!

Selama tiga minggu, siswa-siswi tersebut dilatih untuk bisa mengenal bagaimana menjadi seorang ahli astronomi melakukan pekerjaannya. Tetapi, tidak hanya hal-hal teknis yang terbentuk dari sekolah itu, seperti yang diinginkan dari tujuan setiap ISYA, ada pergaulan, persahabatan, persaudaraan, dan diharapkan menjadi kolaborasi para ahli astronomi pada masa mendatang. Astronomi adalah ilmu yang mengatasi perbedaan geografis dan negara, membuka pintu pada perdamaian, persahabatan dan kemajuan.

An ISYA can be characterized by a large collage of astronomical and cultural backgrounds among the participants and the lecturers, which makes it so rich and fruitful. (Michele Gerbaldi – Pengajar ISYA).

Galeri ISYA :

Avatar photo

Emanuel Sungging

jebolan magister astronomi ITB, astronom yang nyambi jadi jurnalis & penulis. Punya hobi dari fotografi sampe bikin komik, pokoknya semua yang berhubungan dengan warna, sampai-sampai pekerjaan utamanya adalah seperti dokter bedah forensik, tapi alih-alih ngevisum korban, yang di visum adalah cahaya, seperti juga cahaya matahari bisa diurai jadi warna cahaya pelangi. Maka oleh nggieng, cahaya bintang (termasuk matahari), bisa dibeleh2 dan dipelajari isinya.

2 komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini