Planet Laik Huni Terkecil di Sistem Kepler

Ada planet laik huni yang ditemukan! Berita baik ini datang dari misi Kepler NASA yang mengumumkan dua sistem keplanetan yang berhasil ditemukan oleh Wahana Kepler. Di antara planet-planet yang mengitari bintang-bintang tersebut terdapat tiga planet laik huni berukuran Bumi Super yang berada di zona laik huni bintang. Artinya, planet yang berada di zona tersebut bisa memiliki air dalam wujud cair yang bisa menopang tumbuh kembangnya kehidupan. Air di zona laik huni bintang bisa berwujud cair karena di zona tersebut suhu permukaan planet cocok untuk keberadaan air dalam wujud cair atau seperti di Bumi bisa ada lautan.

Ilustrasi sistem Kepler 62. Kredit: David A. Aguilar (CfA)
Ilustrasi sistem Kepler 62. Kredit: David A. Aguilar (CfA)

Karena kehidupan di Bumi itu membutuhkan air sebagai syarat utama tumbuh kembangnya kehidupan maka dicarilah planet yang berada di zona laik huni bintang dimana di permukaan planet air bisa berwujud cair. Inilah yang dilakukan oleh Wahana Kepler dalam mencari kandidat planet di bintang-bintang lain di area rasi Cygnus – Lyra.

Dalam penemuannya kali ini, Wahana Kepler berhasil melihat keberadaan sistem keplanetan yang mengitari bintang Kepler 62 dan Kepler 69. Keduanya memiliki sistem multi planet yang artinya masing-masing bintang tersebut dikitari oleh lebih dari satu buah planet.

Sistem Kepler-62 yang dilihat Wahana Kepler memiliki lima buah planet yakni 62b, 62c, 62d, 62e, dan 62f sementara sistem keplanetan pada Kepler-69 memiliki dua buah planet yakni 69b dan 69c. Menariknya lagi Kepler 623, 62f dan 69c merupakan planet berukuran Bumi Super.

Kehadiran sistem Kepler-62 dan Kepler-69 sekaligus menandai dikonfirmasinya 861 exoplanet yang sudah ditemukan. Dari exoplanet yang sudah ditemukan, saat ini tercatat 9 planet di antaranya merupakan planet berpotensi sebagai planet laik huni dan masih ada lebih dari 18 planet berpotensi laik huni yang dilihat Kepler yang sedang menunggu giliran untuk dikonfirmasi keberadaannya. Selain itu, dalam pencarian extrasolar planet, tidak hanya exoplanet yang berhasil ditemukan dan diduga berada di zona laik huni bintang.  Saat ini diyakini terdapat 25 exobulan yang berpotensi laik huni juga.  Exobulan merupakan satelit pengiring bagi exoplanet yang berada di bintang lain.

Wahana Kepler memang melihat banyak sekali obyek yang berpotensi menjadi planet. tapi semuanya dimasukkan dalam kategori kandidat planet atau kandidat planet laik huni kalau si obyek diduga berada di zona laik huni planet. Status obyek akan naik kelas menjadi exoplanet yang dikonfirmasi setelah data yang diperoleh Kepler diamati lebih lanjut oleh para astronom menggunakan teleskop landas Bumi maupun teleskop landas angkasa lainnya untuk mengkonfirmasi kalau obyek yang dilihat memang sebuah planet.

Sistem Kepler-62
Lima buah planet ditemukan bintang Kepler-62 yang merupakan bintang katai K2 yang ukurannya hanya dua per tiga ukuran Matahari dan kecerlangannya hanya satu per lima kecerlangan Matahari. Bintang Kepler-62 yang tergolong bintang katai oranye ini memiliki massa 0,69 massa Matahari dan berada pada jarak 1200 tahun cahaya dari Bumi dengan temperatur 4925 K dan zona laik huni yang merentang dari 0,45 – 0,85 AU.

Bintang kelas K atau katai oranye memang menjadi salah satu target pencarian potensi kehidupan di planet-planet yang ada di bintangnya karena bintang katai oranye memiliki rentang hidup di deret utama cukup lama antara 15 – 30 juta tahun dibanding Matahari yang berada di deret utama hanya 10 juta tahun. Semakin lama bintang di Deret Utama atau di tahap pembakaran hidrogen menjadi helium maka kemungkinan bagi sebuah planet untuk membentuk kehidupan dan berevolusi jadi lebih besar. karena waktu yang panjang bisa memberi waktu bagi kehidupan untuk berevolusi di planet batuan yang di bintang-bintang kelas ini.

Perbandingan sistem Kepler-62 dan Tata Surya. Kredit:  NASA Ames/JPL-Caltech
Perbandingan sistem Kepler-62 dan Tata Surya. Kredit: NASA Ames/JPL-Caltech

Dari lima exoplanet yang ditemukan di Sistem Kepler-62, dua di antaranya berada di zona laik huni bintang. Keduanya adalah Kepler-62e dan 62f yang mengorbit pada jarak 0,427 AU dan 0,718 AU dan tergolong planet Bumi Super jika dilihat dari ukurannya.

Exoplanet Kepler 62e berada pada tepi dalam zona laik huni bintang, memiliki ukuran 60 persen lebih besar dari Bumi sementara planet Kepler-62f ukurannya hanya 40 persen lebih besar dari Bumi atau dengan kata lain ukuran Kepler 62e dan 62f itu 1,6 dan 1,4 kali ukuran Bumi.

Kedua planet di Sistem Kepler-62 diduga memiliki air dengan planet Kepler-62e yang bergerak mengelilingi bintangnya dalam setiap 122 hari merupakan planet air. Sementara itu, planet Kepler-62f yang mengorbit bintang dalam 267 hari diduga merupakan planet batuan seperti halnya Bumi. Dalam sistem Kepler-62, planet 62e merupakan planet laik huni pertama yang ditemukan dalam sistem dan planet 62f ditemukan kemudian oleh Eroc Algol dari University of Washington.

Kedua planet tersebur bersama tiga planet lainnya di sistem Kepler-62 memang diketahui ukurannya, namun massa masih belum diketahui. Tiga planet lainnya di sistem Kepler-62 mengorbit pada jarak yang sangat dekat dengan bintang induknya.  Dari ketiga planet tersebut, dua di antaranya memiliki ukuran lebih besar dari Bumi dan satu planet seukuran Mars.  Kepler-62b, Kepler-62c dan Kepler-62d mengorbit bintang induk dalam waktu 5, 12 dan 18 hari menjadikan ketiganya sebagai planet super panas yang tidak akan cocok untuk memiliki kehidupan jika kehidupan itu sama seperti yang kita kenal di Bumi.

Sistem Kepler-69
Selain sistem Kepler-62, Wahana Kepler juga mengumumkan keberadaan dua planet yang mengitari bintang Kepler-69 yang berada pada jarak 2700 tahun cahaya dari Bumi di rasi Cygnus.  Bintang Kepler-69 merupakan bintang serupa Matahari dengan ukuran 93 persen ukuran Matahari dan massa 0,81 massa Matahari. Bintang yang memiliki kecerlangan 80 persen kecerlangan Matahari tersebut memiliki temperatur yang juga tak beda jauh dari Matahari yakni 5638 K dengan zona laik huni merentang dari 0,62 – 1,10 AU.

Perbandingan Sistem Kepler-69 dan Tata Surya. NASA Ames/JPL-Caltech
Perbandingan Sistem Kepler-69 dan Tata Surya. NASA Ames/JPL-Caltech

Dari dua buah planet yang mengitari Kepler-69, planet Kepler-69c merupakan kandidat planet laik huni karena berada pada rentang zona laik huni bintang pada jarak 0,64 AU.

Ada hal menarik dari Kepler-69c. Planet yang satu ini mengitari bintang induknya dalam waktu 242,46 hari mirip dengan Venus yang mengitari Matahari selama 224, 7 hari.  Exoplanet Kepler-69c juga diketahui memiliki ukuran 70 persen lebih besar dari Bumi atau 1,71 kali radius Bumi menjadikannya exoplanet laik huni yang memiliki kemiripan dengan Bumi. Akan tetapi, sampai saat diumumkan para astronom belum bisa mengetahui komposisi planet Kepler-69c yang memiliki temperatur 299K tersebut.

Planet lainnya yang berada lebih dekat ke bintang Kepler-69 dalam sistem ini adalah planet Kepler-69b yang berada 0,094 AU dari si bintang. Planet Kepler-69b memiliki ukuran 2,24 ukuran Bumi dengan temperatur 779 K. Dalam perjalanannya, ia mengorbit bintang induknya setiap 13,72 hari.

Perbandingan planet laik huni di Kepler-62, Kepler-69 dan Tata Surya. Kredit: L. Kaltenegger (MPIA)
Perbandingan planet laik huni di Kepler-62, Kepler-69 dan Tata Surya. Kredit: L. Kaltenegger (MPIA)

Kehidupan lain itu…
Mencari kehidupan lain di planet yang bahkan tak akan bisa disentuh dari Bumi dan bahkan tidak bisa dilihat secara langsung oleh mata kita bukanlah perkara mudah. Apalagi ada banyak bintang di alam semesta yang harus di selidiki. Karena itu, para astronom pada awalnya memperkecil area pencarian pada bintang-bintang serupa Matahari. akan tetapi dalam perkembangan, bintang kelas M dan K juga diketahui memiliki sistem keplanetan.

Nah, untuk mencari kehidupan lain di alam semesta, lingkup pencarian diperkecil menjadi planet serupa Bumi dalam ukuran, massa, maupun komposisi. Apalagi contoh kehidupan yang kita ketahui saat ini hanyalah Bumi dimana Matahari merupakan bintang induknya. Maka tentunya syarat yang diterapkan pun harus yang “mirip” Bumi untuk mempermudah pencarian. Karena kehidupan yang kita kenal adalah kehidupan berbasis karbon,

Perbandingan planet laik huni yang sudah ditemukan. Kredit: NASA/Ames/JPL-Caltech
Perbandingan planet laik huni yang sudah ditemukan. Kredit: NASA/Ames/JPL-Caltech

Maka bisa dikatakan mencari planet serupa Bumi itu seperti mencari jarum di antara tumpukan jerami. Apalagi saat awal penemuan planet extrasolar, instrumentasi belum mendukung untuk menemukan planet batuan yang kecil.

Saat ini, Wahana Kepler punya kemampuan yang baik dalam melakukan pengamatan planet-planet batuan yang kecil. Tapi itupun tidak langsung bisa dilihat. Planet itu ukurannya sangat kecil. Jika bintang di kejauhan saja hanya tampak seperti titik, bagaimana dengan planet yang ukurannya super kecil dibanding bintang? Karena itu Wahana Kepler dalam mencari planet baru menggunakan teknik transit. Dengan cara ini Kepler bisa menemukan keberadaan planet di bintang lain. Yang ia lakukan adalah mengamati perubahan kecerlangan cahaya bintang. Jika ada planet di bintang tersebut, maka suatu saat ketika si planet mengorbit bintang induknya ia akan melintas di depan wajah bintang yang berhadapan dengan Kepler. Pada saat itu, planet yang lewat meskipun snagat kecil ia akan menimbulkan kedipan sekejap pada kecerlangan bintang sehingga bintang tampak meredup sesaat. Dari sinilah Kepler bisa mengidentifikasi apakah ada planet di sebuah bintang.

Tapi mencari sesuatu yang “identik” tidaklah mudah. Saat ini para astronom masih belum bisa mengetahui apakah kehidupan bisa tumbuh dan berevolusi di planet yang baru saja ditemukan Kepler. Akan tetapi, penemuan tersebut merupakan jejak penting untuk melangkah maju dalam pencarian planet laik huni serupa Bumi di bintang lain.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.