Menuju Kemungkinan “Bulan” Laik Huni bak Pandora

Pernah menonton Avatar? Film yang disutradarai James Cameron tersebut bercerita tentang kehidupan lain selain di Bumi. Kehidupan itu terjadi di Pandora, sebuah satelit aka “bulan” dari planet gas raksasa Polyphemeus di sistem bintang Alfa Centauri.

Mengapa bisa ada kehidupan di Pandora? Ini karena si satelit tersebut berada di zona laik huni bintang induknya. Seandainya Europa, satelit planet gas raksasa Jupiter di Tata Surya juga berada di zona laik huni Matahari maka Europa akan jadi potensial untuk tumbuh kembangnya kehidupan.

Sayangnya, Pandora hanya cerita fiksi dan Europa dan Jupiter berada jauh dari zona laik huni Matahari. Yang ada di zona laik huni Matahari tak lain tak bukan adalah Venus di tepi dalam zona laik huni, Bumi dan Mars di tepi luarnya. Dan yang punya kehidupan hanya Bumi.

Tapi, bagaimana dengan exoplanet? Apakah kemungkinan itu ada? Bisa jadi suatu hari nanti kita akan menemukan satelit yang bisa memiliki kehidupan. Atau mungkin planet yang ditemukan Planet Hunters merupakan pintu menuju era baru dari exomoons aka exo-bulan.

Menurut Ji Wang, mahasiswa post-doctoral di Universitas Yale yang menjadi penulis utama dan penyidik pertama, “Penemuan ini merupakan langkah awal untuk menemukan kehidupan di dunia lain”.

Ilustrasi PH2 b diliat dari "satelitnya" yang serupa Bumi. Ilustrasi oleh H. Giguere, M. Giguere/Yale University
Ilustrasi PH2 b diliat dari “satelitnya” yang serupa Bumi. Ilustrasi oleh H. Giguere, M. Giguere/Yale University

Planet PH2 b
Planet Hunters, sebuah proyek sains warga yang melibatkan beberapa institusi termasuk di dalamnya Universitas Yale membuka kesempatan pada warga untuk membantu astronom profesional untuk mendeteksi dan mengidentifikasi planet di bintang lain menggunakan data dari Wahana Kepler. Sejak 2010, tercatat lebih dari 200000 sukarelawan turut aktif mencari planet di bintang lain melalui Planet Hunters.

Para sukarelawan bisa menemukan planet baru dengan mengidentifikasi kedipan redup pada cahaya bintang yang disebabkan oleh planet yang sedang transit. Setelah itu, penemuan itu akan dikonfirmasi oleh astronom profesional melalui pengamatan resolusi tinggi untuk memastikan keberadaan planet tersebut. Konfirmasi dilakukan melalui pengamatan menggunakan spektograf HIRES dan sistem adaptif optik NIRC2 yang dipasang di teleskop Keck, Hawaii untuk mendapatkan spektrum dan citra resolusi tinggi dari planet tersebut.

Setelah bulan Oktober 2012, Planet Hunters berhasil menemukan planet pertamanya, kali ini sains warga tersebut berhasil menemukan planet keduanya yakni sebuah planet seukuran Jupiter yang berada di zona laik huni bintang induknya yang juga serupa Matahari.

Temperatur permukaan planet yang dinamai PH2 b 46º C, menjadikannya sebuah planet yang hangat untuk keberadaan air di permukaan. Bahkan diperkirakan jika ada planet batuan di zona laik huni tersebut maka si planet batuan akan memiliki kolam air berwujud cair dan meningkatkan kemungkinan bertumbuhnya kehidupan.

Sayangnya planet tersebut merupakan sebuah planet gas raksasa seperti halnya Jupiter.  Planet seperti ini tidak akan dapat mendukung keberadaan kehidupan karena tidak ada permukaan padat atau lingkungan berwujud cair dimana kehidupan bisa bertumbuh.

Tapi, jika si planet PH2 b memiliki satelit batuan seperti satelit-satelit Jupiter,  maka satelit-satelit tersebutlah yang akan mendukung keberadaan kehidupan seperti halnya Pandora di film Avatar.

Planet Gas Raksasa di Zona Laik Huni
Selain planet PH2 b, warga yang terlibat di Planet Hunters juga berhasil menemukan 31 kandidat planet periode panjang dengan periode lebih dari 100 hari dan 15 planet di antaranya berada di zona laik huni bintang induk.

Penemuan planet-planet tersebut bisa terjadi sebagai bagian dari kerjasama warga dan tim ilmiah di Planet Hunters.

Sebagian besar planet yang ditemukan berukuran raksasa seperti Jupiter dan Neptunus dari Tata Surya, akan tetapi meningkatkan jumlah kandidat planet periode panjang lebih dari 30% sekaligus  menambah jumlah kandidat planet gas raksasa di zona laik huni sebanyak dua kali lipat.

Selain 31 planet periode panjang, Planet Hunters juga mengumumkan 9 kandidat exoplanet yang akan terus diawasi dan diamati.

Warga Penemu Planet
Selain Ji Wang sebagai penulis utama, dan tim ilmiah dari Planet Hunters, makalah penemuan planet PH2 b memuat nama-nama sukarelawan yang ikut menemukan exoplanet lewat program sains warga tersebut.

Di antaranya ada Kian Jek dari San Fransisco, salah satu sukarelawan di Planet Hunters yang selalu terinspirasi oleh film 2001: A Space Odyssey dari Stanley Kubrick dan Star Trek. Kian Jek merupakan pimpinan sukarelawan dalam penemuan PH2 b tersebut.

Selain itu ada juga Roy Jackson, pensiunan polisi berusia 71 tahun yang tinggal di Birtley, dekat Gateshead. Bagi Roy, penemuan exoplanet tersebut merupakan kegembiraan dan kebanggaan yang ia bisa ia miliki. Tak hanya itu. Penemuan ini menandakan kalau usaha dan waktu yang sudah ia dedikasikan untuk mencari tidaklah terbuang dengan sia-sia.

Dan bagi Mark Hadley, insinyur elektro dari Faversham, sukarelawan yang ikut berkontribusi dalam penemuan kali ini mengatakan, “Saat ini, jika ada yang bertanya apa yang sudah saya capai tahun lalu, saya akan berkata, saya sudah berkontribusi menemukan kandidat planet baru di bintang lain! Keren kan?”

Jadi, kata siapa hanya astronom profesional yang bisa mencari planet di bintang lain? Kamu pun bisa!

Sumber : Planet Hunters, Universitas Yale, ArXiv

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.