Diseminasi Cuaca Antariksa Dan Benda Jatuh

Tanggal 2 November 2010, LAPAN Bandung mengadakan program Diseminasi Cuaca Antariksa dan Benda Jatuh selama satu hari penuh.

Acara yang dihadiri oleh para peneliti dari berbagai instansi terkait, media, komunitas dan juga guru ini diarahkan untuk memberi pemahaman yang benar mengenai kejadian antariksa yang sedang terjadi dan untuk menginformasikan kegiatan LAPAN terkait isu-isu tersebut.  Dalam diseminasi yang diadakan tanggal 2 November tersebut, ada 2 isu besar yang diangkat yakni Cuaca Antariksa dalam hal ini terkait dengan aktivitas Matahari serta benda jatuh antariksa yang beberapa kali terjadi di Indonesia.

Foto bersama peserta Diseminasi Cuaca Antariksa dan Benda Jatuh

Cuaca Antariksa dan Aktivitas Matahari
Acara diseminasi dimulai dengan pemaparan aktivitas Matahari oleh Dhani Herdiwdjaya dari Astronomi ITB. Dalam presentasinya, Dhani memaparkan tentang peningkatan aktivitas Matahari yang ditandai oleh kemunculan bintik Matahari. Dalam penigkatan aktivitas yang memang terjadi setiap 11 tahun tersebut, Matahari akan mengalami ledakan di permukaannya dan melepaskan partikel-partikel bermuatan ke Bumi.

Partikel-partikel yang tiba di Bumi ini tidak akan langsung menghantam si planet biru melainkan akan bertemu dengan 2 tameng Bumi yakni atmosfer dan medan magnetik. Perlindungan inilah yang membuat manusia di Bumi tidak banyak merasakan gangguan, kecuali di area lintang tinggi. Selain itu gangguan yang bisa terjadi adalah pada sistem komunikasi.

Prediksi cuaca antariksa menurut Dhani penting terutama terkait dengan satelit dan kehidupan sehari-hari. Dan cuaca antariksa ini ditentukan oleh variabilitas aktivitas matahari dalam medan magnetik, gelombang elektromagnetik, pancaran partikel dan  gravitasi.

Kondisi cuaca antariksa yakni area di sekitar Bumi terkait aktivitas matahari dan juga aktivitas hujan meteor juga dirasa penting oleh Tonda Priyanto dari ASSI (Asosiasi Satelit Indonesia) untuk kelangsungan satelit-satelit buatan yang mengorbit Bumi.  Yang jadi sumber kekuatiran dalam hal operasional satelit adalah lingkungan dan cuaca antariksa serta benda angkasa yang berpotensi untuk menabrak satelit.

Koordinasi dan kerjasama penyediaan informasi aktivitas antariksa akan sangat bermanfaat bagi satelit, karena jika sudah diinformasikan sebelumnya maka para praktisi satelit akan dapat melakukan tindakan preventif untuk melindungi satelit. Apakah itu berarti mematikan komponen yang rentan gangguan ataukah dengan membelokkan arah satelit.  Selain itu, pemantauan aktvitas Matahari akan membantu para praktisi satelit untuk meningkatkan kemampuan dalam merespon dampak aktivitas Matahari ataupun hujan meteor.

Untuk itu dibutuhkan koordinasi pihak-pihak terkait yang saling bersinergi dalam melakukan pemantauan dan sharing informasi. Pemantauan aktivitas Matahari yang dilakukan oleh LAPAN Bandung dan ditayangkan secara terus menerus di web menjadi materi yang dipaparkan Rasdewita dari LAPAN Bandung.

Para peneliti Matahari tidak sekedar melakukan pengamatan namun juga pemantauan rutin akan aktivitas Matahari yang kemudian ditayangkan di laman web layanan info cuaca antariksa milik LAPAN, untuk disebarluaskan pada khalayak umum dan instansi terkait yang membutuhkan informasi tersebut.

Benda Jatuh Antariksa
Setelah istirahat sejenak, acara Diseminasi Cuaca Antariksa dan Benda Jatuh pun dilanjutkan dengan sesi pembahasan Benda Jatuh Antariksa yang meliputi meteorit maupun sampah antariksa.

Meteor merupakan benda-benda angkasa yang masuk ke dalam atmosfer Bumi, dan jatuh ke Bumi sebagai meteorit. Batu-batu angkasa ini ada yang terbakar habis di atmosfer namun terkadang bagian yang tidak terbakar habis di atmosfer Bumi kemudian jatuh dan menghantam permukaan Bumi.  Meskipun bendanya kecil namun dengan kecepatan yang  tinggi, akibatnya pun cukup besar. Rumah yang hancur, ledakan, dan tumbukan yang menghasilkan terjadinya kawah.  Kejadian tumbukan meteor sebenarnya bukanlah hal baru karena selama berabad-abad Bumi sudah mengalaminya.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana jika benda ini menimpa rumah penduduk? Dan bagaimana jika ternyata membahayakan keselamatan warga? Siapakah yang bertanggung jawab akan kerusakan yang terjadi dan bagaimana mengetahui ini diakibatkan oleh benda angkasa atau bukan. Dan lagi ternyata bukan hanya batuan yang bisa jatuh dan menghantam Bumi. Ada lagi sampah antariksa yang berasal dari satelit-satelit yang sudah selesai masa tugasnya.

Dalam paparannya, Abdul Rahman dari LAPAN Bandung, yang sekaligus peneliti benda jatuh mencoba memberikan pemahaman benda jatuh antariksa dan akibatnya bagi Bumi ataupun bagi lingkungan antariksa disekeliling Bumi, dalam hal ini terhadap satelit-satelit buatan.  Untuk itu, LAPAN membuat sebuah perangkat lunak khusus untuk melakukan pemantauan benda – benda yang berpotensi sebagai benda jatuh antariksa khususnya yang mengarah ke wilayah Indonesia.

Kebutuhan informasi akan benda-benda jatuh antariksa ini sangat dibutuhkan bukan saja bagi masyarakat namun juga instansi terkait seperti PUSLABFOR (Pusat Laboratorium Forensik) POLRI yang biasanya “harus berurusan” dengan tempat kejadian perkara jatuhnya benda-benda asing tersebut.  Menurut Brigjend Pol H. Budiono yang juga Kapuslabfor BARESKRIM POLRI, kebutuhan informasi akan kehadiran meteorit maupun sampah antariksa beserta kandungannya akan sangat dibutuhkan Polisi dalam melakukan identifikasi di TKP, sehingga bisa diketahui dengan pasti apa penyebab sebuah kejadian.

Dalam penyelidikan, masalah yang dihadapi kepolisian dalam melakukan riksa barang bukti adalah ketiadaan contoh serpihan meteorit yang bisa dijadikan pembanding untuk menyatakan bahwa benda tersebut benar benda angkasa. Selain itu apakah si benda jatuh antariksa ini jika benar dari antariksa apakah dia meteorit ataukah sampah antariksa? Dan jika sampah antariksa, berbahayakah? adakah radiasi?

Hal inilah yang kemudian dibahas oleh Reno Alamsyah dari Bapetan (Badan Pengawas Tenaga Atom dan Nuklir). Menurut Reno, koordinasi LAPAN, BAPETAN dan POLRI sangat penting untuk mengatasi isu dan masalah benda jatuh antariksa. BAPETAN sendiri punya koordinasi internasional mengenai benda-benda berpotensial jatuh dari antariksa yang memiliki radiasi, dan inilah yang akan jadi perhatian BAPETAN dalam melakukan analisa. Mengapa masalah radiasi ini penting?

Seandainya benda jatuh antariksa tersebut merupakan sampah antariksa yang memiliki radiasi tentu akan ada dampaknya pada masyarakat. Dengan kondisi masyarakat yang dengan mudah mengambil barang bukti dan menjadikannya semacam batu mantera untuk pengobatan dan lain – lain. Ini tentu berbahaya. Karena itu dibutuhkan pendidikan menyeluruh pada masyarakat terkait masalah benda jatuh antariksa. Selain itu kepanikan masyarakat akan kejadian kejatuhan benda antariksa tampaknya juga dibesar-besarkan media. Bahkan beberapa penampakan dan ledakan tampaknya disitir media sebagai isu benda jatuh antariksa untuk menaikan oplah dan tayangan.

Ketika terjadi peristiwa ledakan atau kejatuhan benda asing, yang akan menangani di TKP tentu saja POLRI yang kemudian akan melakukan analisa di PUSLABFOR dengan mengajak instansi terkait, sedangkan BAPETAN akan bertugas untuk menganalisa kemungkinan radiasi bebahaya di lokasi kejadian.

Pertanyaan lain yang juga muncul, jika menilik kejadian di Duren Sawit, siapakah yang akan bertanggung jawab? Menurut Akhmad Subekhi dari LAPAN, mitigasi bencana memang dibutuhkan aturan-aturan untuk mengatur apa yang harus dilakukan pada korban maupun jika hal tersebut terkait sampah antariksa bagaimana penanganannya. Untuk saat ini masalah mitigasi bencana benda jatuh antariksa memang sudah dibicarakan dengan pemerintah. Dan saat ini pula, pengaturannya masih dilakukan melalui hukum lingkungan yang berlaku di Indonesia.

Diseminasi informasi dari LAPAN kepada masyarakat dan instansi terkait seperti ini sangat  diperlukan. Selain memberi informasi, juga diperlukan sebagai awal sebuah koordinasi bersama dalam penanganan berbagai isu terkait antariksa yang beredar di masyarakat sehingga tidak menimbulkan kepanikan bagi masyarakat. Juga untuk membuka wawasan bahwa astronomi bukanlah ilmu yang berdiri sendiri namun terintegrasi dengan berbagai keilmuan lainnya.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.