Plagiasi Internet, Pencurian Karya di Dunia Maya

Perkembangan dunia internet tak pelak membawa warna baru dalam jalinan komunikasi dan penyediaan informasi bagi masyarakat. Populer dengan sebutan web 2.0 dunia pun berbagi informasi melalui berbagai media online. Satu di antaranya adalah blog.

Bukan cuma informasi keseharian, sains dan teknologi pun ambil bagian di dalamnya, termasuk astronomi. Tahun 2004 kami memulai semuanya dengan menggunakan web statis bernama centaurusonline.com namun kemudian di tahun 2007 kami memilih blog sebagai media utama berbagi informasi astronomi secara interaktif dengan nama langitselatan.  Tujuan utama kami selain berbagi informasi adalah melakukan edukasi astronomi kepada masyarakat melalui dunia maya.

Namun sebagaimana media online lainnya, salah satu kendala yang harus dihadapi adalah maraknya exploitasi tulisan kami oleh pihak lain atau dengan kata lainnya bahaya plagiasi. Pertanyaan menariknya, bukankah langitselatan bertujuan untuk berbagi? Apakah tidak boleh artikelnya dipakai kembali? Tentu saja boleh namun sekali lagi bukan dengan tindak plagiasi. Ok, sebelum kita lanjutkan.

Apa sih plagiasi itu?
Menurut Kamus Merriam-Webster Online, plagiarisme berarti :

  1. Mencuri dan meneruskan (ide, kata-kata dan bentuk lainnya) sebagai milik sendiri
  2. Menggunakan (hasil kerja orang lain) tanpa memberi kredit kepada si pemilik atau sumbernya.
  3. Pelaku pencurian
  4. Mengajukan sebuah ide sebagai ide baru dan orisinil dari sumber yang sudah ada.

Sederhananya, plagiat adalah tindakan kecurangan / penipuan, yang melibatkan pencurian pekerjaan orang lain dan kemudian melakukan penipuan tentang hal tersebut.

Masih membingungkan? Lebih sederhana lagi berdasarkan pencarian kamus di web bahtera.org, plagiat adalah : pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri, misal menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri; jiplakan.

Masih belum paham? Plagiat = Mencontek = Mencuri.

sitasi dalam dunia penulisan itu perlu. kredit : blaugh.com

Plagiat juga tidak hanya berarti mengkopi seluruh artikel dan digunakan serta diakui sebagai miliknya, namun juga berlaku pada penggunaan sebagian artikel, kalimat atau kata-kata tanpa memberikan kredit pada si penulis.

Pencantuman berbagai sumber pun bukan berarti sebuah tulisan diambil dan dikopi dari berbagai sumber melainkan mengacu pada sumber referensi yang dibaca penulis untuk kemudian disarikan dalam sebuah ide atau tulisan.

Apa artinya dan hubungannya dengan langitselatan? Seluruh artikel yang ada di langitselatan bebas untuk dibagikan dan digunakan oleh pembacanya tapi dengan mencantumkan kredit dan copyright kepada penulisnya atau memberikan taut balik ke langitselatan.

Kami sepenuhnya menyadari, kebebasan berbagi informasi tidak bisa dikekang namun bukan berarti kemudian dilakukan tanpa mematuhi etika penulisan dll. Dan aturan itu pun sederhana, cantumkan kredit pada si penulis.  Cantumkan sitasi anda pada pemilik tulisan dan dimana tulisan itu sesungguhnya dipublikasikan!.

Ok. kenapa tulisan ini ada?

langitselatan dan Plagiasi

Seminggu yang lalu atau tepatnya tanggal 5 Agustus 2010 pukul 23.40, saat melakukan pencarian dimana saja artikel kami digunakan, saya menemukan sesuatu yang menarik. Kami menemukan sebuah website yang memiliki susunan redaksi dan mengusung nama Koran Anak Indonesia, yang menggunakan setidaknya 21 tulisan dari langitselatan baik berita maupun artikel dengan mengakui kalau kesemua tulisan tersebut merupakan “copyright dari Koran Anak Indonesia”.

Dengan tindakan seperti itu, maka kami dari langitselatan melihat bahwa tindakan Koran Anak Indonesia sebagai tindak pelanggaran hak cipta dan karya orang lain atau dengan kata lain tindak plagiasi.

Daftar tulisan yang diambil diantaranya adalah :
berita :

artikel :

heliosentris vs geosentris yang ditulis di langitselatan
Contoh tangkapan layar dari tulisan bumi mengelilingi Matahari yang di plagiasi.

Jika dilakukan pengecekan, jelas kalau isi tulisan di Koran Anak Indonesia sudah berubah atau sudah tidak aktif lagi karena sudah diubah atau lebih tepatnya dilakukan plagiasi baru dengan metode tambal sulam dari tulisan yang diambil dari berbagai sumber. Namun kesamaan itu masih bisa dilihat dari hasil tangkapan layar yang dicantumkan di atas.  Atau jika anda melakukan pencarian di google atau copyscape anda akan bisa mengetahui dari mana saja tulisan tersebut diplagiasi.

Kejadian tersebut juga didokumentasikan oleh blogger ryosaeba di blognya “things left unsaid” dalam beberapa tulisan dengan lengkap yakni :

  1. tulisan plagiat, dan mengaku memiliki hak ciptanya
  2. tak mampu menulis, curi saja tulisan orang lain
  3. blog Koran Anak Indonesia memang tidak tahu etika
  4. aftermath kasus Koran Anak Indonesia
  5. fakta menarik tentang kasus plagiat Koran Anak Indonesia
  6. komentar masturbasi Koran Anak Indonesia
  7. membedah artikel jiplakan di Koran Anak Indonesia

Komunikasi yang dilakukan pihak langitselatan pada Koran Anak Indonesia pun hanya dianggap sebuah informasi, tanpa pernah ada permintaan maaf dan klarifikasi ataupun pengakuan. Selain komunikasi dengan pihak Koran Anak Indonesia, beberapa pihak juga mencoba melakukan pengaduan pada wordpress.com untuk pelanggaran hak cipta dan berimbas dengan di “non aktifkannya” blog koran anak Indonesia selama beberapa jam. Yang pasti tindakan pelanggaran hak cipta di dunia maya bukanlah hal yang main-main karena bisa ditindak secara hukum.

Koran Anak Indonesia pada akhirnya mengambil pilihan untuk menghapus tulisan yang bermasalah dan bukan memberi kredit kepada penulisnya atau mengubah tulisan tersebut dengan tambahan tulisan lain atau dirangkum kembali dari tulisan yang awalnya dengan tambahan tulisan berbagai sumber dan mencabut kredit mereka.

Yang menarik, seseorang ketika mencantumkan berbagai sumber artinya dia membaca dan mengambil referensi dari berbagai sumber. Bukannya malah melakukan proses pengkopian dari berbagai sumber.

Tulisan di langitselatan
Dalam tulisan yang dimuat di blog things left unsaid, ada 4 orang pembela Koran Anak Indonesia yang sesungguhnya hanya satu orang yang mencoba memberikan pembelaannya dan menuduh balik bahwa langitselatan juga melakukan tindak plagiasi karena menyadur dari sumber asing. Ini kutipannya :

“Padahal banyak penulis disana juga secara tidak disadari telah menjiplak secara halus alias plagiat halus dengan mentranslate secara buta dan hanya menambah beberapa kalimat pemanis. Apakah para penulis itu juga minta izin ke situs di luar negeri yang dijiplaknya, pasti tidak, karena kalau minta izin pasti tidak akan diperbolehkan oleh pemilik situs itu untuk diterjemahkan bulat-bulat.”

langitselatan tidak pernah menjiplak tulisan orang lain. Kami melakukan saduran berita dari situs-situs  yang mengeluarkan press release sebagai sumber pertama sebuah berita.  Di situs pertama inilah sebuah tulisan tidak akan terkontaminasi apapun melainkan masih menggunakan bahasa perantara dari ilmuwan kepada media. dan barulah disadur oleh media kepada masyarakat.  Untuk pemberitaan kami pasti mencantumkan dari mana sumber berita tersebut.

Selain berita, di langitselatan terdapat artikel, opini maupun laporan kegiatan. Kesemuanya ditulis oleh astronom profesional maupun astronom amatir sesuai keahliannya masing-masing. Astronom profesional mengacu pada seseorang yang memiliki pendidikan astronomi secara formal sedangkan astronom amatir mengacu pada orang-orang yang mengerjakan astronomi sebagai hobi.

Materi astronomi memang sudah tersedia dan tersebar luas di dunia maya. Tapi bukan berarti hasil tulisan atau hasil saduran berita seseorang bisa dikopi begitu saja dan diakui sebagai milik. Tidak ada 2 orang yang punya interpretasi yang sama persis sampai ke susunan kalimatnya tentang sesuatu hal.

Sayang sekali, dengan tagline meningkatkan minat baca anak Indonesia, situs Koran Anak Indonesia bukannya berusaha menjalin kerjasama yang baik untuk benar-benar memberi edukasi pada masyarakat malah melakukan hal sebaliknya. Berusaha membela diri dan justru memperbaiki kesalahan dengan melakukan kesalahan yang lain. Karena rupanya bagi para pelaku plagiat lebih mudah untuk menghapus atau mengganti sebuah tulisan dari pada mengakui kalau tulisan itu sesungguhnya milik pihak lain. Pada akhirnya, kejahatan ditutupi oleh kejahatan lainnya.  Plagiasi ditutupi dengan plagiasi lainnya.

Pencurian karya cipta dan tindak kecurangan lain yang cukup menjamur di dunia nyata juga semakin marak di dunia maya. Salah satu contoh nyata adalah kasus ini. Pada akhirnya, kemanakah anak Indonesia akan dibawa? Kehilangan generasi-generasi muda akan terus terjadi ketika generasi di atasnya tidak mampu memberi contoh yang benar.

referensi : things left unsaid , bahtera.org, kamus Merriam Webster Online

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

42 thoughts on “Plagiasi Internet, Pencurian Karya di Dunia Maya

  1. untuk masalah plagiat, co-pas di dunia internet agak susah diatur mbak.

    soalnya biarpun kita membuat artikel, referensinya adalah internet juga, jadi kita seperti mengedit.

    menurut saya, jalan terbaiknya adalah dengan mencamtumkan credit atau memberi link referensi

    1. yup kita juga ga minta yg aneh2 dan susah2 kok. cukup cantumkan kredit.

      btw penulis di ls kalau nulis artikel rata2 referensinya bukan dari tulisan online melainkan dari paper di jurnal astronomi atau buku2 astronomi dan bahan kuliah kami sendiri. 🙂 atau malah ada yg merupakan bagian dari tugas akhir, thesis maupun penelitiannya.

      untuk berita kami selalu memberi tahu dari mana sumber berita kami.

      btw susah diatur tp bukan berarti ga bisa dituntut loh yah. salah satu contohnya kasus ini. wordpress.com sbg hosting dari koran tersebut membuka diri untuk menerima laporan dan memberikan sangsi.

  2. setuju ma mas xeoz,karena sumber2 (gambar/text/video) pun kita ambil dari internet
    budaya menulis bukanlah suatu hal yang gampang, apalagi menulis artikel2 sekelas langitselatan, dibutuhkan pengetahuan yang mendalam untuk bisa meng”awamkan” bahasa astronomi yang mudah dicerna orang umum

    saran aja, diakhir tiap postingan agar memberi catatan boleh copy paste asal memberi link back ke langit selatan

    (thanx to langit selatan, banyak belajar astronomi dari situs ini)

  3. Hi mbak ivie,

    Saya salut banget dengan sepak terjang langit selatan, yang tanpa henti2nya berupaya mempopulerkan astronomi kepada publik. Saya juga bersimpati dengan kasus yang terjadi pada langit selatan, dan berharap semoga tidak terjadi lagi.
    Sekedar sharing saja, kami sendiri saja berpikir sejuta kali untuk membagikan informasi mengenai penelitian, yang bahkan sudah dipublikasikan di jurnal, kepada pihak yang belum kami yakin percaya benar itikad baiknya. Hal ini terjadi, karena banyak pihak yang belum memahami pentingnya hak cipta. Kami sering dengar juga, mengenai curi-mencuri penelitian. Hal yang sama juga terjadi pada blog, tulisan mass media, buku, dan lainnya. Karena itu, memang mesti awas.
    Oleh karena itu, kita memang harus berjuang supaya menyadarkan publik akan pentingnya hak cipta dan paten. Tschusss…

    1. Thx Mas Arli. concern saya pribadi juga sama. menurut saya ketika seseorg tdk lagi mampu mnghargai karya tulis org lain meski itu hanya sebuah artikel, yg dikhawatirkan ini dibawa dalam dunia nyata ketika dia membuat karya ilmiah, makalah, tugas akhir dll.

      akan sangat mengkhawatirkan ketika plagiat pd akhirnya dianggap sesuatu yg wajar. pdhal buat kita meneliti sampai bisa menerbitkan hasil itu di jurnal bukan kerjaan 1 atau 2 bulan. 🙂

  4. cukup menyebalkan hasil karya kita kalau di contek begitu saja oleh orang laen. lagian karya tulis kayak langitselatan apa sesuai untuk di baca oleh anak-anak ?. rasanya rasanya mata pelajaran mereka belum membahas sampai sejauh itu. mungkin kita bisa ambil positifnya saja, biarkan mereka banyak membaca tulisan mengenai astronomi. mungkin mereka akan menyukainya, mungkin dari cerita-cerita tentang bintang, ataupun sekedar melihat gambar-gambarnya. seperti saya dulu, menyukai astronomi karena sering melihat bulan dan bintang terus berangan-angan, seandainya ada kehidupan mahluk selain di bumi, bagaimana wujud mereka. semoga semakin banyak anak indonesia yang mencintai astronomi,dan sekarang semoga mbak ivie bisa mengikhlaskan karya tulisnya.

  5. Menyedihkan memang ya …
    I happended to me too many times 🙁

    Gimana kita mau memajukan kreatifitas dengan membuat konten yang bagus-bagus kalau hanya sekedar memberikan acknowledgement saja tidak mampu, ya? Apa sih susahnya mengatakan bahwa tulisan ini diambil dari langitselatan, misalnya.

    Mudah-mudahan ini tidak mengecilkan hati kita semua untuk tetap menulis. Pembaca tidak bodoh.

    Keep up the good work!

    1. trimakasih Pak Budi.

      mudah2an di masa depan makin banyak yg menyadari arti penting copyright dan tidak lagi melakukan tindak plagiasi. bukan cuma di dunia maya tapi juga di dunia nyata.

  6. Saya terharu membaca artikel ini. Kesedihan nasib informasi/pengetahaun di masa yang akan datang telah terbayang..

    Dalam agama kami, semua ilmu yang dicari/dipelajari harus dicari/diketahui sanadnya/silsilahnya/tautannya. Artinya, hal ini ini demi leluri lehuhur; sumber otentik, pengarang pertama.

    Terima kasih, selama ini saya membaca langit selatan sebagai bagina dari sumber inspirasi saya menulis puisi-puisi kosmik.. Terima kasih.

  7. Ini bukti bahwa artikel langit selatan memang oke… semangat terus mbak, orang tetep akan tau mana asli mana yg cuma bajakan… Good luck…

  8. Dulu aku juga pernah mengalami hal serupa, parahnya lagi yang dicontek dalam hal ini adalah hasil portfolio saya. Yang dicontek adalah website pribadi saya yang berisi portfolio kerjaan yang akan saya gunakan untuk melamar pekerjaan. Saya pada waktu itu menemukan plagiat tsb karena saya melihat statistik pengunjung website dan situs referal. Ada juga yah di dunia ini orang yang gak tahu diri, gak tahu malu. Pengin diakui secara instan tanpa perlu pengorbanan. Dasar manusia jaman sekarang, semoga yang bertindak benar selalu dikasihi Tuhan.

  9. Miris,ya
    mana ini lagi di tengah euforia 17an.
    saya sering lihat masalah ini juga,malah isi blog salah seorang temen saya bisa ada di mana mana di internet.

    lalu coba tengok. rata rata murid kalau bikin tugas langsung copas gitu aja,kayak ilustrasi di atas

    moga moga kasus begini ga terulang lagi. go ls!

  10. jadi inget dengan blognya temanku yg artikelnya juga banyak ngambil dari sini–bedanya dia mencantumkan link 🙂

    dan saat kak Ivy berkunjung ke blognya dan berkata ‘langitselatan’ pindah kesini buat dia jadi malu sendri 😛

  11. udajh ke TKP tadi…
    mereka tuh aneh,,, mau bikin blog jablai kok di wp yang gratisan,,, motivasinya buat apa coba,,, wong di monetize nntinya juga ngga bisa,,, dasar aneh tuh mereka,,, :ngakak

  12. kalau menurut pendapat saya sih , kalau suatu artikel telah dimuat di internet maka artikel itu kan menjadi milik umum dan boleh dicppi paste oleh siapa saja , kalau tidak ingin dicopy paste oleh orang lain ya tidak usah dimuat di internet

    1. memang betul dan kami sendiri siap untuk itu. boleh dikopi paste dan boleh dishare.. dipakai ulang dll. tp bukan berarti boleh diakui sebagai milik. dan perlu diinget ada kaidah penulisan yg benar untuk penggunaan kembali sebuah artikel atau karya lainnya. plagiasi adalah ketika anda menggunakan ide atau tulisan atau karya org lain dan mengakuinya sebagai milik anda. dan itu yg terjadi dengan koran anak Indonesia.

      kalau anda pernah sekolah pasti anda tau aturan dalam membuat sebuah tulisan dan makalah bukan? di internet walaupun ini dunia maya org bebas melakukan apapun tp tetap perlu ada tanggung jawab yg menyertainya.

      1. Hi Tayay,

        Saya mendukung pendapat Mbak Ivie, karena saya pernah jadi korban plagiarisme. Bagi yang belum pernah atau memang suka copy-paste pasti pendapatnya beda.

        Keberadaan Digital Millennium Copyright Act (DMCA) di dunai maya membuktikan bahwa plagiarisme itu tidak boleh. Silahkan lihat di:
        http://www.google.com/dmca.html
        atau
        http://en.wikipedia.org/wiki/Digital_Millennium_Copyright_Act

        Kalau begitu cara pikirnya, berarti buku-buku pelajaran sekolah jangan dicetak agar tidak dibajak oleh penerbit lain. Atau hasil riset ilmu pengetahuan yang berguna bagi umat manusia jangan dipublikasi (alias disimpan saja) supaya tidak dijiplak.
        Kan tidak begitu arah pemikirannya.

        Arah pemikiran yang benar adalah: yang berusaha keras untuk terus berkarya berhak dihargai karyanya. Bentuk penghargaan bukan selalu harus dengan uang, tapi setidaknya dalam bentuk pengakuan jujur bahwa itu adalah hasil karya si A atau si B.
        Bukan dengan cara mengaku-ngaku karya orang lain. Itu memalukan.

    2. Dunia maya (i.e. internet) tidak berbeda dengan dunia nyata. Etiket yang berlaku di dunia maya sama saja dengan etiket dunia nyata. Sudah ada netiket kok mulai dari yang sederhana seperti tidak pakai caps lock kalau menulis karena bisa dianggap berteriak, hingga yang rumit seperti persoalan berbagi pengetahuan (knowledge sharing).

      Banyak juga penulis artikel di internet kok yang secara eksplisit menyatakan bagaimana menggunakan artikel dia.

      Di internet kita memang bisa berbuat seenak dengkul (termasuk plagarisme tapi tidak hanya itu saja) tapi konsekuensinya akan sama dengan berkelakukan seenak dengkul di dunia nyata, e.g. dicap tak tahu adat. Kalau mau seperti sih itu ya itu terserah diri masing-masing saja.

    3. artikel ketika dipublikasi di internet memang akan bisa disalin oleh siapa saja, tapi adalah ngawur mengatakan bahwa artikel tersebut menjadi milik umum alias public domain. hak cipta tetap di tangan penulis artikel, dan adalah hak penulis untuk menetapkan tipe lisensinya, apakah boleh disalin dengan menyebutkan sumber, tanpa menyebutkan sumber, atau bahkan tidak boleh disalin tanpa ijin eksplisit dari penulis.

  13. Setujuuuuuuu, plagiator=pecundang.
    positifnya mungkin mau meneruskan informasi tetapi ga harus di miliki.
    HAKI harus bertindak nih.

  14. Benar sekali…menyusun dan menulis tentang kebenaran sebuah isu misalnya..tentu saja penulis mencurahkan isi otak dan pendapatnya juga disertai sumber acuan/referensi yang bisa dilacak kebenarannya..dan sangat menyebalkan bila akhirnya di copas habis2an tanpa linkback…

    Saya agree…

  15. saya pernah membaca juga koran anak indonesia..termasuk keluhan di blog lain tentang KAI yang plagiat.. bersyukur menemukan langsung sumber artikel untuk pelajaran anak-anak saya..
    salam kenal

  16. Halo mbak Ivie, salam kenal…

    Saya tidak sengaja mampir kemari setelah membaca berita soal plagiasi di Kompas.com. Link beritanya di sini:

    Dituduh Plagiat, Dosen FH Unpad Ini Membantah
    http://regional.kompas.com/read/2013/05/16/15241465/Dituduh.Plagiat..Dosen.FH.Unpad.Ini.Membantah

    Diancam Soal Kasus Plagiat, Helen “Ngungsi” dari Rumah
    http://regional.kompas.com/read/2013/05/16/14115889/Diancam.Soal.Kasus.Plagiat.Helen.Ngungsi.dari.Rumah.

    Dituduh Plagiat, Dosen Unpad Ancam Helen via SMS
    http://regional.kompas.com/read/2013/05/16/12010535/Dituduh.Plagiat.Dosen.Unpad.Ancam.Helen.via.SMS.

    Semakin Banyak Mahasiswa di Australia Menjadi Plagiat
    http://regional.kompas.com/read/2013/04/19/09161797/Semakin.Banyak.Mahasiswa.di.Australia.Menjadi.Plagiat

    “Self-Plagiarism” atau Auto-Plagiat
    http://regional.kompas.com/read/2013/04/09/02534328/.Self-Plagiarism.atau.Auto-Plagiat

    Saya search di google soal plagiasi, menemukan banyak tulisan soal itu, salah satunya blog mbak Ivie ini.

    Saya masih kurang paham soal pagiasi dan batasan-batasannya. Yang ingin saya tanyakan:

    Di mana sebenarnya batas yang jelas sebuah tindakan dianggap plagiasi atau bukan. Apakah cukup dengan mencantumkan sumber rujukan (artikel, url, etc), lalu dianggap bukan plagiasi?
    Bagaimana jika penulis mencantumkan sumber rujukan atas tulisannya, meski tidak minta ijin secara langsung kepada penulis tulisan sumber/aslinya? Apakah ini juga termasuk plagiat?
    Apakah menterjemahkan sebuah tulisan menjadi karya baru dalam bahasa lain termasuk plagiat? Bagaimana jika bukan semata diterjemahkan, melainkan dibaca, dipahami, kemudian ditulis ulang dengan bahasa/kalimatnya sendiri, apakah ini termasuk plagiasi?
    Jika sebuah media—katakanlah surat kabar—menulis sebuah berita yang asalnya dari media asing, inti ceritanya sama, cuma beda bahasa, dan hanya mencantumkan inisial media asalnya (misalnya XYZ), apakah ini dianggap sebagai sebuah plagiasi?
    Jika seorang penulis, setelah membaca sebuah buku/ebook berbahasa asing, kemudian terinspirasi dan menulis buku dengan konten yang kurang lebih sama (ditulis ulang dengan bahasanya sendiri, baik dalam bahasa yang sama maupun berbeda), apakah ini dianggap plagiat?

    Demikian, semoga mbak Ivie berkenan menjawab. Terima kasih sebelumnya atas pencerahannya.

    1. sederhananya plagiat merupakan pengambilan hasil karya org lain dan mengakuinya sebagai milik sendiri atau tidak mencantumkan sumber dari mana kutipan atau ide itu diambil. Mencantumkan sumber menjadi salah satu cara untuk menunjukkan bahwa kita tidak sedang mencuri ide orang lain tapi memberi kredit dan menunjukkan dari mana ide atau kutipan itu berasal. Dalam penulisan paper ilmiah biasanya ketika kita mengambil ide atau mengutip paper orang lain maka dibelakang kalimatnya akan kita tulis mis marga. et. al dan di daftar referensi di akhir paper si marga. et. al. ini akan juga dijelaskan dr paper judul apa, tahun berapa, dicetak dimana dan di halaman berapa yang kita gunakan materinya. 🙂 Jadi dengan mencantumkan sumber kita sedang menyatakan kalau itu bukan milik kita tapi kita gunakan dari sumber lain untuk kebutuhan tuisan kita.

      Menerjemahkan tulisan bisa saja dan tetap dengan menyatakan darimana sumber tulisan itu diterjemahkan. Atau referensi apa saja yang dipergunakan. Dan biasanya dalam menulis buku maka akan ada sumber dan referensi. Ini menunjukkan dari mana saja ia mendapatkan materi tersebut. Dengan demikian pembaca juga bisa menelusuri sumber tersebut dan tulisna tersebut bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya. Kecuali tulisan itu merupakan buah pikiran sendiri atau dari hasil penelitiannya sendiri. Bahkan untuk penelitian pun biasanya masih ada rujukan ke penelitian lain sebagai perbandingan atau ide dasar.

      dan biasanya ketika menggunakan tulisan org lain atau sumber lain ada baiknya cek dulu apakah tulisan tersebut hrs mendapat ijin tertulis atau memang bisa disadur dengan bebas. Ada penulis2 yang memberikan ketentuan ijin diberikan ketika dihubungi dahulu.

      ini ada web yang cukup menarik menjelaskan apa itu plagiat. http://www.lib.usm.edu/legacy/plag/whatisplag.php

  17. Plagiat tidak membawa keuntungan, kalau blog itu di monetize ntar kena sanksi sendiri kok. dan yang jelas sudah pasti blog / website tersebut tidak bermutu Kunjungan Baliknya ya di tunggu

Tulis komentar dan diskusi...