Menuju Titik Api: Sebuah Penjelasan-tak-terlalu-teknis Tentang Prinsip Kerja Teleskop, Bagian 2: Teleskop Refraktor
By Tri L. Astraatmadja • Nov 25th, 2007 at 6:33 pm • Category: Observasi, Teknologi dan Instrumentasi, Teleskop
Gambar 1. Atas: Cahaya yang melewati lensa akan dibiaskan menuju satu titik api. Bawah:Dua buah teleskop Galileo yang kini dipamerkan di sebuah museum di kota Florensia, Italia. Sumber: Hoskin, M. (ed.) 1997,The Cambridge Illustrated History of Astronomy, Cambridge University Press. h.123.
Lensa bekerja dengan cara demikian, dan apabila bentuk permukaan medium yang dilewati cahaya tersebut melengkung sedemikian rupa, maka cahaya sejajar pada berbagai orientasi terhadap lensa dapat difokuskan menuju titik api (Gambar 1). Lensa yang melengkung keluar seperti ini kita sebut lensa cembung atau lensa konveks. Sinar yang datang dari bintang atau objek-objek astronomi lainnya (karena benda-benda tersebut letaknya sangat jauh maka sinar yang mereka pancarkan dapat kita anggap sejajar) difokuskan oleh lensa yang disebut lensa objektif dan tiba pada titik api. Selanjutnya cahaya yang sudah difokuskan ini diperbesar oleh lensa cembung kedua yang disebut lensa okuler (inilah yang disebut eyepiece karena pada lensa ini mata kita diletakkan untuk “mengintip” teleskop).
Semakin kecil jarak fokus lensa okuler terhadap jarak fokus lensa objektif semakin besar perbesaran yang dihasilkan teleskop, tetapi hal ini akan menurunkan ketajaman keseluruhan dari sebuah citra karena ketajaman hanya bergantung pada diameter lensa objektif dan perbesaran lebih lanjut oleh lensa okuler akan menurunkan ketajaman keseluruhan (Misalnya Anda memiliki dua foto, ukuran 3R dan 24R. Kedua foto diperbesar dengan dua kaca pembesar berbeda, misalnya perbesaran 4 kali dan 20 kali. Foto ukuran 3R diperbesar 4 kali cukup tajam tetapi bila diperbesar 20 kali jadi buram, sementara ukuran 24R masih tetap tajam bila diperbesar 20 kali. Ini karena foto ukuran 24R lebih tajam daripada ukuran 3R sehingga masih tetap tajam bila diperbesar 20 kali. Teleskop dengan diameter lensa objektif yang besar akan menghasilkan citra yang tajam sehingga dapat digunakan eyepiece dengan perbesaran yang tinggi tanpa mengurangi ketajaman).

Gambar 2. Refraktor 40 inci (1 m) Yerkes di Wisconsin, Amerika Serikat. Selesai dibangun pada tahun 1897, Refraktor Yerkes hingga saat ini adalah teleskop refraktor terbesar di dunia. Perhatikan ukuran meja dan kursi di lantai Observatorium, untuk membandingkan ukuran teleskop ini dengan ukuran manusia. Pada awal abad 20 hingga sekarang, refraktor dengan diameter lebih besar dari 1 meter semakin sulit dibuat dengan akurat dan teleskop-teleskop besar mulai menggunakan desain reflektor. Sumber: Herrmann, D. 1984, The History of Astronomy from Herschel to Hertzsprung, Cambridge University Press. h.163.
Salah satu refraktor pertama yang digunakan untuk mengamati objek-objek langit adalah refraktor yang dibuat Galileo Galilei pada tahun 1609 (Gambar 1). Pada waktu itu Galileo mendengar bahwa di Belanda sudah dibuat sebuah teleskop, dan dengan cepat ia mempelajari prinsip kerjanya dan membuat sebuah teleskop yang lebih baik. Galileo tidak menciptakan teleskop, tetapi ia merupakan salah satu orang pertama yang mempunyai ide bagus untuk mengarahkannya ke langit (pada tahun yang sama, seorang astoronom Inggris bernama Thomas Harriot juga mengamati bulan dengan menggunakan teleskop). Refraktor terus mengalami perkembangan hingga abad ke-19. Refraktor terbesar yang pernah dibangun adalah refraktor pada Observatorium Yerkes di Wisconsin, Amerika Serikat (Gambar 2), sebuah teleskop raksasa dengan diameter lensa 40 inci (102 cm) dan panjang tabung 30 m.
Bersambung ke Bagian 3: Teleskop Reflektor
Tri L. Astraatmadja memulai pendidikan astronominya pada tahun 1999, ketika diterima di Departemen Astronomi, Institut Teknologi Bandung. Sempat berhenti kuliah selama 1.5 tahun ketika menjadi aktivis mahasiswa. Lulus bulan Maret 2006, sempat bekerja sebentar di Observatorium Bosscha. Semenjak September 2006 melanjutkan pendidikan S2 di Observatorium Leiden, Universitas Leiden, Negeri Belanda. Diharapkan akan lulus bulan Juni 2008.
Email this author | All posts by Tri L. Astraatmadja









[...] Refraktor. Jika anda seorang pemula yang hanya sekedar ingin melihat-lihat, bisa melihat langit atau alam, refraktor adalah pilihan yang baik. Cukup memilih refraktor dengan tipe obyektif yang akromatik. Tapi jika anda ingin mendapatkan citra langit yang baik baik, baik secara visual maupun fotografi, pikirkan refraktor apokromatik yang tentu saja lebih mahal. [...]
[...] Refraktor. Jika anda seorang pemula yang hanya sekedar ingin melihat-lihat, bisa melihat langit atau alam, refraktor adalah pilihan yang baik. Cukup memilih refraktor dengan tipe obyektif yang akromatik. Tapi jika anda ingin mendapatkan citra langit yang baik baik, baik secara visual maupun fotografi, pikirkan refraktor apokromatik yang tentu saja lebih mahal. [...]