Kita punya petugas sensus baru di Tata Surya! Observatorium Rubin yang baru pemanasan pengamatan, sudah menemukan ribuan asteroid. Dan ini baru puncak gunung es-nya!

Ribuan Asteroid
Lagi-lagi, Observatorium Vera Rubin dengan teleskop survei Simonyi memberi kejutan. Teleskop Simonyi berhasil menemukan lebih dari 11.000 asteroid hanya dalam 1,5 bulan pengamatan.
Penemuan ini bukan hasil survei bertahun-tahun. Ini juga bukan hasil survei utama yang bahkan belum dimulai. Data ini merupakan hasil pengamatan awal saat tim peneliti masih melakukan pemanasan mengoptimalkan sistem pengamatan, sebelum Observatorium Rubin memulai survei 10 tahunnya.
Pusat Planet Minor IAU sudah mengonfirmasi data penemuan tersebut, dan inilah penemuan asteroid terbesar dalam satu tahun terakhir.
Tidak hanya itu.
Selain penemuan tersebut, Observatorium Rubin juga berhasil melakukan pengamatan dan memperoleh data lebih dari 80.000 asteroid yang sudah kita kenal. Di antaranya adalah asteroid yang sebelumnya sudah teramati namun “hilang” sulit dilacak akibat ketidakpastian orbitnya.
Yang menarik, data dalam jumlah besar ini diperoleh dari sekitar satu juta pengamatan selama satu setengah bulan di musim panas 2025! Ini menunjukkan kecepatan dan ketajaman Observatorium Rubin dalam melakukan survei pengamatan dan pemotretan.
Dari Bumi ke Tepi Tata Surya

Di antara benda-benda kecil yang ditemukan tersebut, ada 33 objek dekat Bumi (NEO) yang sebelumnya tidak diketahui. Objek-objek ini merupakan asteroid dan komet kecil yang papasan terdekatnya dengan Matahari kurang dari 1,3 kali jarak Bumi dan Matahari. Objek terbesar yang ditemukan berukuran 500 meter dan objek yang lebih besar dari 140 meter akan terus dipantau karena berpotensi jadi ancaman bagi Bumi. Meskipun demikian, ke-33 objek dekat Bumi yang baru ditemukan ini tidak akan mengancam Bumi.
Para astronom memperkirakan sampai saat ini baru 40% objek dekat Bumi berukuran sedang yang sudah diidentifikasi. Saat Observatorium Rubin memulai surveinya, teleskop Simonyi diperkirakan bisa menemukan 90.000 NEO baru, yang sebagian di antaranya berpotensi bahaya untuk Bumi, serta melipatgandakan jumlah NEO yang lebih besar dari 140 meter jadi sekitar 70%. Ini tentu saja menjadikan Observatorium Rubin sebagai senjata penting untuk pertahanan planet.
Lanjut ke tepi Tata Surya, set data pengamatan Observatorium Rubin juga menemukan 380 objek baru trans-Neptunus. Dua di antaranya yakni 2025 LS2 dan 2025 MX348 memiliki orbit yang sangat lonjong dengan jarak terjauh mencapai 1.000 kali jarak Matahari ke Bumi. Keduanya masuk dalam kategori 30 planet minor terjauh yang sudah diketahui.
Era Sebelum Rubin
Selama ini, menemukan asteroid bukan sekadar mencari dan mengamati titik redup di langit. Para astronom harus memotret langit berulang kali, membedakan objek yang diam dengan objek yang bergerak, lalu menghitung orbitnya agar benda itu tidak “hilang” lagi.
Tak bisa dipungkiri kalau sejarah perburuan asteroid telah mengalami lompatan besar. Sebelum 1990-an, astronom harus membandingkan pelat fotografi secara manual, proses melelahkan yang memakan waktu bertahun-tahun hanya untuk menemukan beberapa objek. Memasuki era otomatis (1998–2024) dengan kamera digital seperti Pan-STARRS, kecepatan meningkat hingga mampu menemukan sekitar 3.000 asteroid dekat Bumi per tahun.
Itu di Sabuk Utama Asteroid.
Di tepi Tata Surya, ada objek-objek beku yang kita kenal sebagai Objek Trans-Neptunus, atau objek yang berada di luar orbit Neptunus. Sejak tahun 1992 sampai Maret 2026, tercatat lebih dari 5.500 objek Trans-Neptunus yang sudah diketahui dengan 1.044 benda kecil bernomor dan 4.523 benda kecil tak bernomor yang mengorbit di luar Neptunus.
Babak Baru Bersama Rubin
Tapi, kehadiran Observatorium Rubin dengan Teleskop Simonyi mengubah semuanya. Teleskop ini sanggup menemukan belasan ribu asteroid dan ratusan objek trans-Neptunus hanya dalam 1,5 bulan masa uji coba.
Dengan kamera 3.200 megapiksel, Teleskop Simonyi mampu mengungkap objek-objek di halaman Tata Surya dalam hitungan hari. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu puluhan tahun bisa dicapai dalam waktu singkat karena Observatorium ini dirancang khusus untuk berburu objek-objek redup yang bergerak sangat cepat di tengah “padatnya” bintang di langit malam.
Untuk menemukan asteroid-asteroid tersebut, astronom Ari Heinze dari Universitas Washington, dan Jacob Kurlander mahasiswa pascasarjana di universitas yang sama, membangun perangkat lunak yang digunakan untuk mendeteksi asteroid-asteroid tersebut.
Tantangan terberat justru muncul saat menari Objek Trans-Neptunus di tepi Tata Surya. Seperti mencari sebatang jarum di tumpukan jerami, para astronom yang dipimpin Matthew Holman dari Center for Astrophysics | Harvard & Smithsonian harus melatih komputer untuk memilah miliaran kombinasi cahaya guna menemukan benda-benda kecil nan jauh tersebut.
Keberhasilan Rubin menemukan ratusan benda kecil di luar orbit Neptunus ini membawa juga kesempatan untuk kita memperoleh informasi masa awal Tata Surya. Objek-objek beku di tepi Tata Surya ini adalah saksi bisu sejarah pembentukan planet-planet di Tata Surya, bahkan mungkin menjadi kunci untuk menemukan “Planet ke-9” yang selama ini masih jadi misteri.
Sampai saat ini, Observatorium Rubin sudah menemukan 12.700 asteroid baru dalam 1,6 tahun. Ketika survei sepuluh tahun Legacy Survey of Space and Time (LSST) resmi dimulai akhir tahun ini, para astronom memperkirakan Rubin bakal menemukan jumlah asteroid sebanyak ini hanya dalam kurun waktu dua hingga tiga malam saja!
Itu artinya, Observatorium Rubin akan jadi petugas sensus yang sangat efisien untuk mendata para penghuni kecil dan redup di Tata Surya. Perkiraannya, di akhir sensus a.k.a survei satu dekade, Rubin akan melipatgandakan jumlah asteroid yang kita ketahui menjadi tiga kali lipat, serta meningkatkan populasi Objek Trans-Neptunus (TNO) yang terdata hingga hampir sepuluh kali lipat.















Tulis Komentar