Teleskop radio ALMA berhasil memotret area pusat Bimasakti yang misterius dan menyingkap jaringan di dalamnya dengan sangat detail.

Pusat Bimasakti. Berada 26 ribu tahun cahaya di arah rasi Sagittarius, kawasan ini merupakan lokasi paling ekstrem di Bimasakti. Di wilayah ini berdiam lubang hitam supermasif Sagittarius A* (Sgr A*), dikelilingi awan gas dan debu yang padat, panas, dan bergejolak. Kali ini, kawasan yang tak tampak bagi mata kita, akhirnya bisa tersingkap lewat ketajaman mata radio teleskop ALMA.Â
Potret Zona Molekuler Pusat
Untuk pertama kalinya, Central Molecular Zone (CMZ) atau kawasan molekuler pusat di Bimasakti, berhasil dipetakan dalam detail yang belum pernah ada sebelumnya. Pengamatan ini tentu saja menghasilkan pemandangan menarik dari gas dingin yang merupakan bahan mentah pembentuk bintang.
Hasil potret ALMA merupakan mosaik yang merangkai potongan-potongan pengamatan seperti puzzle kosmik untuk memperlihatkan gas dingin di seluruh kawasan dengan sangat detail!
Foto ini menampilkan CMZ yang merentang lebih dari 650 tahun cahaya dan di dalamnya ada awan padat (kerapatan tinggi) gas dan debu. Gas yang dipetakan dalam survei ACES (ALMA CMZ Exploration Survey) adalah gas molekuler dingin, bahan mentah pembentuk bintang. Tapi, dingin di sini tetap memiliki temperatur puluhan hingga ratusan derajat di atas nol mutlak. Yang menarik, survei ini menyingkap kimia rumit dari CMZ.
Dalam potret yang diambil ALMA, tampak struktur jaringan filamen gas dingin berukuran puluhan tahun cahaya yang saling terhubung, hingga awan gas kecil di sekitar bintang-bintang individual. Laksana akar-akar raksasa yang menyalurkan gas molekuler dingin ke gumpalan materi di titik-titik lokasi kelahiran bintang.
ALMA mendeteksi puluhan molekul berbeda, dari yang sederhana seperti silikon monoksida hingga yang lebih kompleks seperti organik seperti metanol, aseton, atau etanol. Ini adalah laboratorium kimia alam semesta untuk skala galaksi.
Pembentukan BintangÂ
Di area pinggiran Bimasakti, para astronom sudah cukup memahami proses keruntuhan bintang yang membentuk bintang. Akan tetapi, di pusat galaksi, semua proses ini berlangsung dalam kondisi ekstrem.
Di wilayah di mana monster raksasa lubang hitam supermasif Sgr A* berada, gravitasi di kawasan ini juga sangat besar. Tak hanya itu. Tekanan juga jauh lebih tinggi, dengan radiasi yang lebih kuat. Di kawasan inilah beberapa bintang paling masif di Bimasakti lahir, melewati kala hidup yang singkat, lalu mati dalam ledakan supernova bahkan hipernova. Bintang- bintang ini melalui siklus hidup yang lebih keras, lebih singkat, dan lebih dramatis.
Jadi, survei yang dilakukan proyek ACES ini memang bertujuan untuk memahami bagaimana kondisi ekstrem di pusat galaksi mempengaruhi kelahiran dan evolusi bintang. Dengan demikian, para astronom bisa mengetahui apakah teori evolusi bintang yang sama berlaku pada lingkungan yang ekstrem.
Satu hal pasti, pengamatan ini baru permulaan. Peningkatan sensitivitas ALMA di masa depan serta kehadiran ESO Extremely Large Telescope, akan membawa kita untuk menyelami struktur yang lebih kecil lagi di Zona Molekuler Pusat dan tentunya bisa menelusuri mempelajari interaksi antara gas, bintang, dan lubang hitam dengan ketajaman mata ALMA dan ELT.Â




















Tulis Komentar