Hope, Misi Harapan Arab Untuk Eksplorasi Antariksa

Hope, wantariksa pertama Uni Emirat Arab (UEA) yang sedang menuju Mars, si planet merah, menandai langkah negara minyak tersebut untuk menjelajah antariksa.

Ilustrasi Hope yang mengorbit Mars. Kredit: Twitter @HopeMarsMission
Ilustrasi Hope yang mengorbit Mars. Kredit: Twitter @HopeMarsMission

Diluncurkan pada tanggal 20 Juli 2020 pukul 04:58:14 WIB dari Tanegashima Space Center, Hope akan menempuh perjalanan selama 7 bulan sebelum tiba di Mars untuk memantau cuaca planet merah tersebut.

Tentang Hope

Misi ini diberi nama Al-Amal atau Hope yang berarti harapan. Nama ini dipilih tentu bukan tanpa tujuan. Hope memang diharapkan bisa menjadi inspirasi dan harapan bagi generasi muda Arab untuk mempelajari sains antariksa dan berkarir di bidang tersebut. Misi Hope juga menjadi harapan untuk membangun budaya riset dan semangat untuk melakukan eksplorasi dan inovasi.

Sebuah pesan optimis untuk generasi muda Arab menjawab tantangan masa depan untuk mengeksplorasi alam semesta. Dan itu dimulai dari eksplorasi planet tetangga Bumi, yakni Mars.

Ide untuk mengirimkan misi ke Mars mengemuka pada tahun 2013 dan diumumkan pada tahun 2014 oleh presiden Uni Emirat Arab, Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan. Untuk mewujudkan misi ke Mars ini, United Arab Emirates Space Agency (UEASA) menandatangani perjanjian dengan Mohammed Bin Rashid Space Centre (MBRSC). Dalam misi ini, MBRSC bertanggung jawab untuk memimpin perencanaan, pembangunan, sampai pengoperasian misi Hope.

Misi Hope bukan saja misi pertama bagi Uni Emirat Arab. Ini adalah pengalaman pertama bagi UEA yang kaya minyak untuk membangun misi antariksa dari awal. Yang menarik, sejak diumumkan, misi Mars memang ditetapkan untuk bisa selesai dalam 6 tahun, dan diluncurkan sebelum Desember 2021 saat perayaan 50 tahun UEA. Perlu diingat juga bahwa sejak tahun 2000an hanya 30% misi yang sukses tiba dan melakukan tugasnya di Mars.

Enam tahun untuk membangun sebuah misi memang bukan waktu yang lama. Apalagi untuk negara yang belum berpengalaman dalam misi antariksa. Untuk itulah kerjasama untuk membangun wantariksa Hope dilakukan dengan berbagai institusi. Selain harus diselesaikan dalam rentang waktu 6 tahun, misi ini juga harus murah.

Untuk itu, wantariksa Hope dibuat oleh MBRSC bekerja sama dengan Laboratory for Atmospheric and Space Physics (LASP) di University of Colorado Boulder, Arizona State University (ASU) dan University of California, Berkeley. Untuk perakitan dilaksanakan di University of Colorado. Total biaya pengembangan Hope dan peluncurannya diperkirakan sekitar 200 juta USD, belum termasuk biasa pengoperasian misi Hope.

Misi Hope bukan sekedar misi yang bisa membangun komunitas ilmiah di UEA sekaligus berkontribusi untuk menyingkap misteri kehidupan di Mars. Hope adalah sebuah kebanggaan dan prestise bagi UEA yang memperlihatkan kemampuan negara ini untuk ikut bergabung dalam penjelajahan antariksa bersama negara lainnya.

“Kami memilih tantangan epik untuk mencapai Mars karena tantangan seperti ini menginspirasi dan memotivasi kami. Momen ketika kami berhenti menerima tantangan seperti ini adalah saat ketika kita berhenti untuk bergerak maju.” (Mohammed bin Rashid Al Maktoum – Wakil Presiden dan Perdana Menteri UEA)

Pantauan Cuaca Mars

Infografik instrumen yang dibawa Hope dan fungsinya. Kredit:  Emirates Mars Mission
Infografik instrumen yang dibawa Hope dan fungsinya. Kredit: Emirates Mars Mission

Wantariksa Hope dirancang sebagai pengorbit yang akan memantau cuaca Mars selama 2 tahun sejak tiba di Mars bulan Februari 2021.

Hope atau Al-Amal bertujuan untuk memberi gambaran yang lengkap terkait atmosfer Mars dengan harapan kita bisa memahami dinamika iklim dan memetakan cuaca global di Mars lewat karakterisasi atmosfer Mars.

Yang diharapkan, Hope bisa memberi informasi terkait siklus cuaca harian dan musiman, perbedaan cuaca pada area yang berbeda, dan tentu saja badai debu yang selalu terjadi di Mars. Dari sini, para astronom bisa memperoleh gambaran untuk iklim Mars dan bagaimana perubahan cuaca terjadi di planet merah tersebut.

Hope juga dirancang untuk mempelajari kehilangan oksigen dan hidrogen pada atmosfer Mars selama ribuan tahun. Dari data ini, para astronom bisa memetakan perubahan yang terjadi untuk mengetahui penyebab kehilangan oksigen dan hidrogen yang menyebabkan Mars menjadi planet gersang seperti sekarang. Tentu saja semua informasi ini diharapkan bisa memberi pemahaman tentang perubahan dari Mars kuno yang diduga mendukung kehidupan menjadi Mars yang gersang tanpa jejak kehidupan di masa kini.

Untuk melakukan misinya, Hope yang berukuran 2,9 x 2,37 meter dan berat 1350 kg, membawa serta 3 instrumen untuk ilmiah untuk mempelajari atmosfer Mars. Ketiga instrumen ilmiah tersebut adalah:

  • Emirates eXploration Imager (EXI), kamera dijital resolusi tinggi untuk mempelajari atmosfer planet pada panjang gelombang tampak dan ultraungu, memotret Mars, dan mempelajari air, debu, aerosol, serta kelimpahan ozon di atmosfer Mars.
  • Emirates Mars Infrared Spectrometer (EMIRS), spektrometer inframerah yang digunakan untuk mempelajari profil temperatur es dan uap air di atmosfer Mars. Selain itu, EMIRS juga akan mempelajari lapisan bawah dari atmosfer Mars.
  • Emirates Mars Ultraviolet Spectrometer (EMUS), spektrometer ultraungu untuk mempelajari kelimpahan karbon monoksida dan oksigen pada termosfer serta keragaman oksigen dan hidrogen di eksosfer.

Hope juga dilengkapi dengan dua panel surya yang menyediakan daya sebesar 1800 Watt untuk menenagai dirinya. Selain itu, untuk komunikasi, Hope juga dilengkapi antena dengan diameter 1,5 meter.

Seperti apa hasil penelitian Hope, kita baru akan mengetahuinya setelah Hope tiba dengan selamat di Mars dan mulai mengorbit planet merah tersebut. Satu hal pasti, untuk UEA, Hope merupakan awal untuk menetapkan strategi nasional eksplorasi antariksa dalam jangka panjang.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.