fbpx
langitselatan
Beranda » Menjaga Potensi Kehidupan di Planet Lanjut Usia

Menjaga Potensi Kehidupan di Planet Lanjut Usia

Menikmati masa tua dengan pasangan tentunya menyenangkan. Setidaknya ada teman untuk menghabiskan waktu bersama dan berbagi cerita. Ternyata, punya pasangan atau setidaknya teman di masa tua justru memberi keuntungan tak hanya untuk manusia tapi juga planet!

Ilustrasi kehidupan di planet tua di bintang katai merah. Kredit: Rory Barnes, Universitas Washington
Ilustrasi kehidupan di planet tua di bintang katai merah. Kredit: Rory Barnes, Universitas Washington

Keberadaan planet lain di sebuah sistem yang memiliki planet seukuran Bumi, memberi keuntungan lain bagi potensi kehidupan di planet seukuran Bumi itu. Setidaknya, itulah hasil penelitian para astronom di Universitas Arizona dan Universitas Washington.

Kehadiran planet lain di saat sebuah sistem semakin tua ternyata justru meningkatkan potensi kehidupan di planet seukuran Bumi.

Potensi kehidupan dari interaksi antar planet
Saat planet semakin tua, maka inti planet yang cair mulai memadat dan panas di inti yang dapat menghasilkan aktivitas juga berkurang. Akibatnya, panet tidak dapat mempertahankan kondisi laik huni lewat pengaturan karbon dioksida yang bertujuan untuk mencegah terjadinya pemanasan atau pendinginan yang tak terkendali.

Tapi, untuk planet tertentu yang seukuran Bumi, kondisi ini bisa dicegah jika sistem tersebut memiliki planet lain. Planet luar yang ada di sistem akan memiliki interaksi gravitasi dengan planet seukuran Bumi tersebut dan menghasilkan terjadinya panas pasang surut. Proses inilah yang menghasilkan panas yang cukup untuk mencegah terjadinya pendinginan internal yang akan mengubah kemampuan planet untuk mendukung kehidupan.

Panas pasang surut yang dihasilkan oleh interaksi gravitasi hanya terjadi jika si planet memiliki pasangan yang berada dekat. Pengaruh yang dihasilkan hanya akan terjadi dalam lingkup lokal. Sebagai contoh adalah interaksi antara satelit Jupiter, Io dan Europa.  Kondisi yang sama juga bisa terjadi di exoplanet.

Dari contoh yang ada, para astronom mencoba menerapkannya pada exoplanet lewat pemodelan. Hasilnya, efek pemanasan saat pasang surut yang terjadi akibat interaksi gravitasi hanya bisa terjadi pada planet seukuran Bumi yang sudah tua. Selain itu, planet seukuran-Bumi tersebut jarus berada pada zona laik huni dengan orbit bukan lingkaran dan bergerak mengitari bintang bermassa rendah, atau lebih tepatnya bintang yang massanya kurang dari 1/4 massa Matahari.

Pada bintang bermassa rendah, zona laik huni atau area dimana sebuah planet bisa mempertahankan air dalam wujud cair akan berada cukup dekat dengan bintang. Dengan demikian planet laik huni di sistem akan berada cukup dekat dengan bintang.

Kehadiran planet luar diperlukan untuk menjaga orbit planet laik huni di sistem tidak berbentuk lingkaran. Ketika planet mengorbit dalam orbit lingkaran, gaya gravitasi dari bintang induk akan selalu konstan dan bentuk planet tak akan pernah berubah dan tidak akan terjadi panas yang dihasilkan oleh pasang surut. Mengapa demikian?

Sebuah planet yang berada dekat dengan bintang akan menghadapi medan gravitasi yang sangat kuat, yang dapat mengubah bentuk planet menjadi serupa bentuk bola di sepak bola Amerika yang lonjong. Ketika planet berada jauh dari bintang, medan gravitasi melemah dan planet akan memiliki bentuk bola. Peregangan konstan tersebut menjadi penyebab lapisan di dalam planet bergesekan satu sama lainnya yang menghasilkan panas. Kehadiran planet luar yang berada dekat dengan planet laik huni pada jarak yang cukup dekat akan menghasilkan interaksi gravitasi yang mempengaruhi planet untuk tetap bergerak dalam orbit non lingkaran sehingga bisa terjadi gesekan di dalam planet yang menghasilkan panas untuk menjaga kondisi laik huni di dalamnya.

Baca juga:  Teknik Baru Menelusuri Atmosfer Exoplanet

Ketika planet sudah tua, maka gabungan antara aktivitas tektonik dan panas yang dihasilkan oleh pasang surut ketika berinteraksi dengan planet luar akan dapat menghasilkan kondisi laik huni bagi planet dalam waktu yang sangat lama di alam semesta.
Karena itu, penemuan planet seukuran Bumi di zona laik huni di bintang yang kecil dan tua, harus ditindaklanjuti dengan pencarian planet luat yang dapat meningkatkan potensi laik huni planet tersebut.

Bukan tidak mungkin, di masa depan ketika Matahari menua, generasi manusia di masa itu akan hidup di dunia yang baru di bintang bintang katai merah yang memiliki planet laik huni dengan kala hidup yang jauh lebih panjang.

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis Komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini