Tim Indonesia di IOAA ke-7 di Volos

International Olympiad on Astronomy and Astrophysics merupakan kompetisi tahunan yang diselenggarakan pertama kalinya di Thailand untuk merayakan ulang tahun ke-80 dari Raja Bhumibol Adulyadej dan ulang tahun ke-84 Putri Galyani Vadhana di tahun 2007.

timindonesia
Tim Indonesia. Kredit: IOAA

Kegiatan yang diinisiasi Thailand tersebut kemudian menjadi kegiatan tahunan yang berlangsung di negara-negara peserta. Salah satunya adalah IOAA ke-2 tahun 2008 yang berlangsung di Indonesia. Di tahun 2013, IOAA diselenggarakan di Volos, Yunani pada tanggal 27 Juli – 5 Agustus 2013 dan dihadiri oleh 41 tim dari 35 negara.

Dalam IOAA yang diselenggarakan setiap tahunnya ini, Indonesia selalu turut berpartisipasi menyertakan siswa-siswanya untuk berkompetisi dan melatih kemampuan dalam bidang astronomi dan astrofisika.  Dalam kompetisi ini, para siswa harus melalui beberapa tahapan antara lain, ronde teori dimana para siswa harus mampu memberi solusi dari 12 pertanyaan esai pendek dan 3 pertanyaan esai panjang yang memiliki tingkat kesulita yang berbeda-beda. Tahap berikutnya yang harus dilalui adalah analisa data. Dalam ronde analisa data, para siswa harus bisa memecahkan tiga permasalahan observasi melalui pengolahan data dan grafik secara manual serta satu permasalahan yang harus diselesaikan menggunakan perrangkat lunak. Kedua tahapan ini dilaksanakan di kampus Universitas Thesally, Volos di tengah cuaca yang panas dan kering.

Tahap terakhir yang harus dilalui para siswa adalah ronde observasi yang dilangsungkan di perbukitan Chania yang dingin dan kering. Dalam tahap observasi ini, para siswa diharuskan untuk menyelesaikan dua permasalahan di lapangan saat pengamatan menggunakan teleskop. Tapi, sayangnya kondisi cuaca yang tidak mendukung menjadi halangan tersendiri sehingga ronde observasi harus dibatalkan. Sebagai pengganti, siswa diminta untuk memecahkan persoalan simulasi observasi yang dilakukan di dalam ruangan.

Kondisi cuaca jelang musim gugur di bulan Oktober di Yunani menjadi tantangan tersendiri bagi tim Indonesia yang berasal dari negara tropis. Tapi kondisi cuaca itu tidak menyurutkan semangat para siswa untuk turut berlomba dan menantang diri sendiri dalam penyelesaikan setiap persoalan. Tapi, mereka tidak hanya berlomba. Siswa pun diharapkan untuk bisa membangun relasi yang baik dengan sesama peserta dalam berbagai kegiatan dan permainan. Siswa juga diajak untuk mengenal sekelumit sejarah Yunani lewat kunjungan ke Museum Arkeologi.

Setiap kompetisi memang tidak hanya menjadi ketegangan karena ada keceriaan bertemu kenalan baru dan menjalin persahabatan di sana. tapi acara itupun harus berakhir.  Dan tim Indonesia yang dipimpin oleh Dr. rer.nat. M. Ikbal Arifyanto dan Dr. Hakim L. Malasan harus berpisah dari rekan-rekan barunya sembari membawa hasil dari kompetisi tersebut.

Di penghujung kegiatan, hasil jerih lelah belajar itu pun tampak. para siswa Indonesia berhasil menantang dirinya sendiri dan memberi hasil yang baik. Satu medali emas, satu perak, satu perunggu dan dua honorable mention berhasil diperoleh oleh tim Indonesia.  Tercatat, medali emas berhasil diraih oleh David Orlando Kurniawan dari SMAK 1 Penabur, DKI Jakarta, ?medali perak oleh Marcelina Viana dari SMA Santa Ursula, DKI Jakarta, medali perunggu diraih oleh Muhammad Imam Adli dari SMA Kharisma Bangsa, Banten dan Honorable Mention berhasil diraih oleh R. Aryo Tri Adhimukti dari SMAN 3 Malang, Jawa Timur dan Rizki Wahyu Pangestu dari SMAN 1 Banjarnegara, Jawa Tengah.

Medali Emas, Perak, Perunggu individual dan Medali Perunggu tim. Kredit: Hakim. L. Malasan
Medali Emas, Perak, Perunggu individual dan Medali Perunggu tim. Kredit: Hakim. L. Malasan

Untuk kompetisi tim, Indonesia berhasil memperoleh medali perunggu sedangkan medali emas dan perak berhasil diraih oleh tim Korea Selatan dan Singapura. Kompetisi tim ini mengharuskan setiap tim untuk menjawab teka teki silang ala astronomi sebanyak 180 pertanyaan. Tim yang bisa menjawab seluruh pertanyaan dalam waktu singkatlah yang menjadi pemenang.

Pada saat penutupan di Congres Hall of Holy Metropolis of Demetriados and Almyros, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Republik Yunani Bapak Benny Bahanadewa dan istri juga turut hadir dan ikut dalam pemberian medali bagi beberapa peserta yang meraih medali perak termasuk di antaranya Marcelina Viana.

Selamat untuk para siswa tim IOAA ke-7 dari Indonesia yang sudah menyelesaikan pertandingan dengan baik dan berhasil menantang dirinya sendiri dalam menyelesaikan setiap problem astronomi yang diberikan.

Tim Indonesia saat penutupan. Kredit: Hakim L. Malasan
Tim Indonesia saat penutupan. Kredit: Hakim L. Malasan

Perolehan ini memberikan cerita tersendiri tentang keberhasilan Indonesia di berbagai olimpiade. Kebanggaan untuk para siswa yang telah berhasil dalam pertandingannya masing-masing, untuk seluruh tim yang terlibat termasuk para pelatih dan  keluarga. Keberhasilan memperoleh medali hanyalah satu babak perjalanan yang membanggakan dari siswa Indonesia. Akan tetapi rangkaian perjalanan ini masih belum bisa menjadi sebuah kesimpulan akhir bahwa pendidikan negeri ini sudah berhasil secara umum.

Sekali lagi selamat untuk seluruh tim IOAA ke-7 dari Indonesia!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...