Review : Sky Safari 3

Perkembangan teknologi memberikan kemudahan tidak hanya dalam hal terkait keseharian tapi juga terkait hobi. Setidaknya itulah yang dirasakan bagi para penggemar langit masa kini.

Sky Safari 3, aplikasi peta langit untuk iDevices. kredit : Sky Safari

Kehadiran PC, laptop, netbook, tablet dan juga smartphone memberi warna baru bagi penggemar astronomi. Berbagai aplikasi astronomi dibuat untuk mempermudah kerja para astronom profesional namun di sisi lain aplikasi-aplikasi tersebut juga menjadi alat yang sangat berguna untuk memperkenalkan astronomi.

Aplikasi astronomi yang hadir ada yang gratis tapi ada juga yang berbayar. Salah satu aplikasi berbayar yang hadir adalah Sky Safari yang bekerja pada perangkat milik apple yang menggunakan iOs dan Mac Os X. Dan di awal tahun 2012, Sky Safari juga hadir bagi para pengguna Android.

Sky Safari punya keunikan dan kelebihan yang membuat dia layak dipilih untuk menemani di kala anda sedang menikmati langit malam sebagai pemandu untuk menemukan bintang-bintang.

Sky Safari merupakan aplikasi yang awalnya bernama Sky Voyager. Aplikasi ini berfungsi sebagai peta langit yang dapat memandu para penggunanya untuk mengenali obyek-obyek di langit. Aplikasi yang mensimulasikan langit siang dan malam sesuai dengan waktu sebenarnya tersebut juga memiliki fitur yang bisa memberikan informasi kepada pengguna terkait obyek yang sedang dilihat saat itu.

Untuk tampilan, Sky Safari 3 menampilkan tidak hanya bintang tapi juga mensimulasikan planet, galaksi, nebula dan gugus bintang. Rasi bintang pada aplikasi ini bisa dipilih untuk menampakkan dirinya dalam bentuk rasi berdasarkan mitologi yunani yang menjadi nama  resmi rasi tersebut. Selain itu galaksi Bima Sakti pun ditampilkan dalam wajah aslinya bukan sekedar garis area atau siluet area yang terisi saja.

Sky Safari 3 sendiri hadir dalam 3 versi yakni versi basik, Plus dan Pro dengan target pengguna yang berbeda. Versi basik bertujuan untuk memperkenalkan simulasi langit kepada pengguna pemula atau astronom pemula yang ingin belajar mengenal langit dan para penikmat langit malam tanpa alat. Database yang menjadi bawaan versi basik ini terdiri dari 120000 bintang sampai dengan magnitudo 8, semua obyek yang ada di Katalog Messier dan Caldwell, sebagian citra deep-sky dan sekitar 500 deskripsi obyek.

Versi berikutnya adalah Sky Safari Plus yang menyajikan 21,5 juta bintang sampai dengan magnitudo 12, 30.000 obyek deep-sky (termasuk seluruh katalog IC dan NGC), 300 citra dari Digitized Sky Survey, dan 1000 deskripsi obyek.  Versi Plus juga memiliki kelebihan lain yakni memiliki kontrol teleskop Go To yang bisa difungsikan setelah menambah perangkat lain. Selain itu pengguna juga bisa mendapatkan peta langit yang presisi dengan database asteroid / komet / satelit, disertai kemampuan untuk merencanakan pengamatan.

Untuk versi Pro, perbedaannya dengan versi Plus ada pada database bawaan yang mencakup 15 juta bintang sampai dengan magnitudo 15, 740000 obyek deep-sky sampai dengan magnitudo 18, dan semua katalog obyek di Tata Surya. Versi yang penulis gunakan adalah Sky Safari pro untuk ipod touch meskipun belum memanfaatkan seluruh fitur yang ada.

Mencoba Sky Safari 3

Tampilan Sky Safari 3

Pertama kali mengakses Sky Safari 3, pada bagian bawah terdapat pilihan menu seperti pencarian, info, center (untuk memfokuskan pada satu obyek), pengaturan, waktu, teleskop, malam untuk mengubah tampilan ke warna merah, Sky Week (fitur untuk melihat event langit yang disediakan oleh Sky & Telescope) dan pilihan bantuan.

Kita bisa mengatur lokasi menggunakan pilihan lokasi yang ada atau justru menggunakan lokasi saat ini yang sudah ada di internal iphone/itouch/ipad. Selain itu pengguna juga bisa menyimpan beberapa lokasi.  Untuk pengaturan waktu bisa diubah sesuai dengan keinginan untuk melihat simulasi langit atau memilih waktu saat ini untuk melihat simulasi langit pada jam tersebut.  Pilihan lain adalah tata koordinat yang hendak digunakan apakah Koordinat Ekuatorial atau Koordinat Horison. Pada fitur pencarian, selain bisa mencari obyek juga bisa melihat apa yang menjadi obyek terbaik untuk dilihat malam ini.

Untuk membuat tampilan jadi “menarik” dan tidak monoton, pengguna juga bisa memilih menampilkan rasi bintang dalam bentuk mitologi Yunaninya atau bisa juga menampilkannya dalam bentuk garis-garis imajiner tradisional atau modern.

Bagi pengguna iphone dan ipad anda bisa mengarahkan piranti anda ke langit dan kita pun bisa mengetahui obyek-obyek apa yang ada disana karena Sky Safari akan memperlihatkan obyek yang ada di area yang sedang di amati tersebut.

Keunggulan lain dari Sky Safari adalah ia bisa menjadi pengendali bagi teleskop Go To dengan tambahan perangkat seperti skywire (kabel yang menghubungkan iphone/ipod touch/ipad) ke teleskop atau juga skyfi untuk mengendalikan teleskop dari telepon pintar anda tersebut dengan wifi.

Sky Safari memberikan anda pilihan lain untuk menggenggam langit di telepon pintar anda sekaligus memberikan keasyikan tersendiri untuk menjelajah langit malam.

Di penghujung Bulan Astronomi Global 2012, tepatnya 2 minggu terakhir di bulan April, Southern Sky akan mendukung program Global Astronomy Month 2012 dengan melakukan potongan harga sebesar 20 -50% untuk setiap pembelian Sky Safari 3, Sky Safari 3 Plus dan Sky Safari 3 pro. Kerja sama ini dimaksudkan  untuk membantu agar program Bulan Astronomi Global yang diikuti oleh seluruh negara di dunia untuk melangsungkan berbagai kegiatan di tahun 2012.  Bulan Astronomi Global merupakan program yang dibuat oleh Astronomer Without Border untuk memperkenalkan astronomi kepada masyarakat umum selama satu bulan di bulan April.  Bagi yang ingin memberi dukungan bagi Bulan Astronomi Global dan memiliki perangkat iDevices ataupun android bisa mendapatkan aplikasi ini dari app store dan android market.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.