Memahami Planet Gas Panas Jupiter di Sistem Upsilon Andromeda

Planet gas raksasa Upsilon Andromeda b, mengorbit dekat dengan bintang induknya dan salah satu sisi wajahnya secara terus menerus mengalami pemanasan oleh panasnya sang bintang. Planet yang terkunci oleh gaya pasang surut bintang ini juga dikenal sebagai planet panas Jupiter karena temperaturnya yang menghanguskan sekaligus ukurannya yang besar dan tersusun oleh gas.

Area Panas Yang Bergeser

Ilustrasi Ups And b yang mengorbit bintang Upsilon Andromeda. Kredit : NASA

Jika melihat kondisinya, mungkin dengan mudah menyimpulkan kalau titik terpanas di planet ini adalah titik yang berhadapan langsung dengan bintang. Namun penelitian sebelumnya menunjukkan kalau bintik panasnya sedikit bergeser dari bintik yang diperkirakan oleh para peneliti. Tampaknya, ada angin kencang yang mendorong materi gas panas ini ke area sekelilingnya.

Tapi penelitian terbaru tampaknya justru menunjukkan hal yang berbeda dari teori yang diberikan.  Spitzer, si teleskop landas angkasa dengan mata infra merah, saat mengamati planet Ups And b justru melihat kalau bintik panas itu justru berada 80 derajat dari area yg diperkirakan berdasarkan teori.  Bintik panas tersebut justru berada ke arah sisi lain planet dan bukan berada tepat dibawah sinar sang bintang.

Yang pasti, para peneliti planet gas di bintang Upsilon Andromeda ini memang tidak mengharapkan kalau bintik panas di Ups And b akan berada demikian jauh dari prediksi pada teori. Artinya, para astronom masih belum betul-betul memiliki semua informasi tentang energetik atmosfer dari planet gas panas Jupiter.

Atmosferik Sains Exoplanet
Pengamatan yang dilakukan Spitzer merupakan bagian dari perkembangan sains yang mempelajari atmosfer exoplanet yang dimulai oleh Spitzer pada tahun 2005. Semenjak itu, bersama dengan Hubble keduanya mempelajari atmosfer beberapa planet tipe Jupiter dan menemukan air metana, karbon dioksida dan carbon monoksida.

Pengamatan Ups And b dilakukan Spitzer selama 5 hari di bulan Februari 2009. Planet yang mengelilingi bintangnya setiap 4,62 hari ini ditemukan dengan cara mengukur terjadinya getaran atau “wobble” pada bintang dengan menggunakan teknik kecepatan radial. Dalam pengamatannya, Spitzer mengukur kombinasi total cahaya dari bintang dan planet saat si planet mengorbit mengelilingi bintang.  Meskipun teleskop tidak dapat secara langsung melihat planet, ia masih bisa mendeteksi total cahaya infra merah dari sistem ketika sisi panas si planet berada pada medan pandang Bumi. Pada posisi seperti ini, sisi terpanas planet akan memancarkan cahaya infra merah terbanyak.

Sisi Panas Yang Berbeda

Ups And merupakan planet yang terkunci secara gravitasi pada bintangnya. Karena itu ada satu sisinya yang senantiasa menghadap bintang dan senantiasa juga dihujani sinar bintang. Dengan demikian tentu bisa dikatakan, kalau sistem ini akan tampak sangat terang ketika si planet berada di belakang bintang dan menunjukkan wajahnya yang senantiasa mengarah ke Matahari. Dan sistem ini akan tampak gelap ketika si planet kemudian mengayun dan mengarahkan sisi gelapnya ke Bumi.

Tapi ternyata, sistem Ups And justru berada pada kodisi terangnya ketika si planet berada pada sisi bintang dengan sisi tersebut menghadap Bumi. Artinya area terpanas planet justru tidak berada di bawah sinar bintang. Bisa diumpamakan dengan pergi ke panta pada saat senja untuk mendapatkan cuaca terpanas. Mengapa ini terjadi? para peneliti masih belum mengetahuinya.

Beberapa kemungkinan diajukan, termasuk angin supersonik yang memicu terjadinya gelombang kejut yang memanaskan materi dan teori interaksi magnetik antara bintang dan planet. Semua ini masih berupa dugaan dan spekulasi. Untuk bisa mengetahui kesimpulan dan kebenarannya, masih dibutuhkan uji coba dan penelitian mendalam pada kasus di planet gas panas tipe Jupiter lainnya.

Satu hal pasti, hasil ini jelas mengejutkan para astronom sekaligus membuka tabir betapa para astronom pun masih jauh dari memahami dunia asing yang ada di bintang lain …

Sumber : NASA/Spitzer

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.