Mungkinkah Kehidupan Terbentuk di Bintang Dingin?

Asal usul kehidupan selalu menjadi kajian yang menarik. Nah, di Bumi diyakini kehidupan berasal dari sup kimia panas. Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah sup yang samajuga ada di planet yang mengitari bintang lain?

Studi yang dilakukan teleskop Spitzer milik NASA menunjukan kalau di planet yanng mengitari bintang dingin (lebih dingin dari Matahari) bisa jadi memiliki potensi pembentuk kehidupan yang berbeda. Diperkirakan campuran kimia yang dibutuhkan berbeda dengan di Bumi.

Impresi artis untuk planet muda yang tengah mengorbit bintang dingin. Kredit : NASA
Impresi artis untuk planet muda yang tengah mengorbit bintang dingin. Kredit : NASA

Para astronom menggunakan teleskop Spitzer untuk mencari senyawa kimia prebiotik yang dikenal dengan nama hidrogen sianida, dalam materi pembentuk planet yang berada disekitar bintang dengan tipe berbeda. HIdrogen sianida tersusun oleh adenin yang juga merupakan elemen dasar pembentuk DNA yang ada pada semua organisme hidup di Bumi.

Peneliti berhasil mendeteksi keberadaan molekul hidrogen sianida pada piringan yang mengitari bintang berwarna kuning seperti Matahari, namun mereka tak bisa menemukan komponen yang sama pada bintang yang lebih dingin dan kecil seperti pada bintang katai M yang berwarna kemerah-meraha dan di katai coklat.

Bisa jadi senyawa kimia prebiotik berbeda pada planet yang mengorbit bintang dingin. Bintang muda lahir dlam kepompong debu dan gas yang kemudian memipih menjadi piringan. Debu dan gas di dalam piringan inilah yang menyediakan materi mentah pembentuk planet. Diduga, molekul pembentuk cikal bakal kehidupan di Bumi terbentuk pada piringan tersebut. Molekul prebiotik seperti adenine diduga dibawa dari ruang angkasa ke Bumi saat meteorit menghatam permukaan Bumi saat masih muda.

Nah, mungkinkan kehidupan terbentuk disekeliling bintang lain? Ilaria Pascucci dari Johns Hopkins University, Baltimore, Md beserta rekan-rekannya mencoba mencari jawabannya dengan meneliti piringan tempat terbentuknya planet disekitar 17 bintang dingin dan 44 bintang serupa Matahari. Mereka menggunakan spektograf inframerah milik Spitzer untuk memisahkan cahaya dan mengungkapkan keberadaan senyawa kimia. Usia bintang yang diteliti berkisar antara 1 – 3 juta tahun, usia dimana bintang diperkirakan telah tumbuh. Dalam penelitian ini, yang dilihat adalah perbadingan molekul hidrogen sianida dengan molekul acetylene.

Hasilnya, bintang katai-M dan katai coklat sama sekali tidak menunjukan keberadaan hidrogen sianida sementara 30% bintang yang serupa Matahari justru menunjukan keberadaan molekul tersebut. Menurut Pascucci, cahaya ultraungu yang lebih kuat di bintang serupa Matahari yang mengendalikan tingginya pembentukan hidrogen sianida. Namun pada bintang dingin memang ditemukan moleuk acetylene pada piringan disekitar bintang.

Penemuan ini jelas memberi implikasi pada planet yang saat ini telah ditemukan disekitar bintag katai-M. Sebagian dari planet yang ditemukan diperkirakan lebih besar dari Bumi, dan dikenal sebagai planet super-Bumi. Dari semua planet super-Bumi yang ditemukan tak satupun berada pada area habitasi bintang, dimana air berada pada kondisi cair. Pertanyaannya jika ada planet super Bumi ditemukan di daerah habitasi Bintang, mampukah ia memiliki dan mempertahankan kehidupan?

Para astronom pun masih belum mampu meberi jawaban yang pasti.

Katai-M memiliki letupan magnetik ekstrim yang bisa mengacaukan proses pembentukan kehidupan. Data penelitian Spitzer memberikan cerita lain untuk dipertimbangkan, yakni planet-planet ini juga kekurangan hidrogen sianida, molekul yang ikut membentuk kehidupan.

Selama ini para peneliti sudah memiliki petunjuk bahwa kondisi aam pada bintang dingin pastinya akan memberikan tantangan tersendiri bagi munculnya kehidupan. Tapi hasil Spitzer justru membangun sbeuah pertanyaan mendasar lainnya, yakni : “Apakah sistem keplanetan di bintang dingin memiliki bahan yang cukup untuk membentuk kehidupan?”

Jika jawabannya tidak, maka pertanyaan tentang kehidupan di bintang dingin bisa menjadi aspek perdebatan baru yang menarik.

Sumber : NASA JPL

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.