fbpx
langitselatan
Beranda » Mungkinkah Kehidupan Terbentuk di Bintang Dingin?

Mungkinkah Kehidupan Terbentuk di Bintang Dingin?

Asal usul kehidupan selalu menjadi kajian yang menarik. Nah, di Bumi diyakini kehidupan berasal dari sup kimia panas. Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah sup yang samajuga ada di planet yang mengitari bintang lain?

Studi yang dilakukan teleskop Spitzer milik NASA menunjukan kalau di planet yanng mengitari bintang dingin (lebih dingin dari Matahari) bisa jadi memiliki potensi pembentuk kehidupan yang berbeda. Diperkirakan campuran kimia yang dibutuhkan berbeda dengan di Bumi.

Impresi artis untuk planet muda yang tengah mengorbit bintang dingin. Kredit : NASA
Impresi artis untuk planet muda yang tengah mengorbit bintang dingin. Kredit : NASA

Para astronom menggunakan teleskop Spitzer untuk mencari senyawa kimia prebiotik yang dikenal dengan nama hidrogen sianida, dalam materi pembentuk planet yang berada disekitar bintang dengan tipe berbeda. HIdrogen sianida tersusun oleh adenin yang juga merupakan elemen dasar pembentuk DNA yang ada pada semua organisme hidup di Bumi.

Peneliti berhasil mendeteksi keberadaan molekul hidrogen sianida pada piringan yang mengitari bintang berwarna kuning seperti Matahari, namun mereka tak bisa menemukan komponen yang sama pada bintang yang lebih dingin dan kecil seperti pada bintang katai M yang berwarna kemerah-meraha dan di katai coklat.

Bisa jadi senyawa kimia prebiotik berbeda pada planet yang mengorbit bintang dingin. Bintang muda lahir dlam kepompong debu dan gas yang kemudian memipih menjadi piringan. Debu dan gas di dalam piringan inilah yang menyediakan materi mentah pembentuk planet. Diduga, molekul pembentuk cikal bakal kehidupan di Bumi terbentuk pada piringan tersebut. Molekul prebiotik seperti adenine diduga dibawa dari ruang angkasa ke Bumi saat meteorit menghatam permukaan Bumi saat masih muda.

Nah, mungkinkan kehidupan terbentuk disekeliling bintang lain? Ilaria Pascucci dari Johns Hopkins University, Baltimore, Md beserta rekan-rekannya mencoba mencari jawabannya dengan meneliti piringan tempat terbentuknya planet disekitar 17 bintang dingin dan 44 bintang serupa Matahari. Mereka menggunakan spektograf inframerah milik Spitzer untuk memisahkan cahaya dan mengungkapkan keberadaan senyawa kimia. Usia bintang yang diteliti berkisar antara 1 – 3 juta tahun, usia dimana bintang diperkirakan telah tumbuh. Dalam penelitian ini, yang dilihat adalah perbadingan molekul hidrogen sianida dengan molekul acetylene.

Hasilnya, bintang katai-M dan katai coklat sama sekali tidak menunjukan keberadaan hidrogen sianida sementara 30% bintang yang serupa Matahari justru menunjukan keberadaan molekul tersebut. Menurut Pascucci, cahaya ultraungu yang lebih kuat di bintang serupa Matahari yang mengendalikan tingginya pembentukan hidrogen sianida. Namun pada bintang dingin memang ditemukan moleuk acetylene pada piringan disekitar bintang.

Penemuan ini jelas memberi implikasi pada planet yang saat ini telah ditemukan disekitar bintag katai-M. Sebagian dari planet yang ditemukan diperkirakan lebih besar dari Bumi, dan dikenal sebagai planet super-Bumi. Dari semua planet super-Bumi yang ditemukan tak satupun berada pada area habitasi bintang, dimana air berada pada kondisi cair. Pertanyaannya jika ada planet super Bumi ditemukan di daerah habitasi Bintang, mampukah ia memiliki dan mempertahankan kehidupan?

Baca juga:  Memecahkan Misteri Kelahiran Bintang Masif

Para astronom pun masih belum mampu meberi jawaban yang pasti.

Katai-M memiliki letupan magnetik ekstrim yang bisa mengacaukan proses pembentukan kehidupan. Data penelitian Spitzer memberikan cerita lain untuk dipertimbangkan, yakni planet-planet ini juga kekurangan hidrogen sianida, molekul yang ikut membentuk kehidupan.

Selama ini para peneliti sudah memiliki petunjuk bahwa kondisi aam pada bintang dingin pastinya akan memberikan tantangan tersendiri bagi munculnya kehidupan. Tapi hasil Spitzer justru membangun sbeuah pertanyaan mendasar lainnya, yakni : “Apakah sistem keplanetan di bintang dingin memiliki bahan yang cukup untuk membentuk kehidupan?”

Jika jawabannya tidak, maka pertanyaan tentang kehidupan di bintang dingin bisa menjadi aspek perdebatan baru yang menarik.

Sumber : NASA JPL
Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

10 komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini

    • tadinya sih. soalnya flu n batuk gue ga sembuh2 nih tp berhubung lg ndak ada kerjaan ya udah deh nulis2.

  • jika di Bumi diyakini kehidupan berasal dari sup kimia panas,bagaimana dengan planet yanng mengitari bintang dingin,seharusnya memiliki potensi kehidupan yang berbeda bukan?apakah ada kehidupan lain disana?????

  • kehidupan di bumi dari sup kimia panas???? rasanya gimana yah?? siapa yang mau bantu aku nyobain rasanya???

  • kalo aku sih doyannya tuh sop kimlo, sayur sop, dll. Sup kimia panas? ogah deh..

  • salam,
    saya bukanlah ahli astronomi… hanya ingin bertukar pikiran… mungkin dasar utama para ahli mencari kehidupan di planet lain berdasarkan materi yang dipakai oleh kita(bumi)… tapi mungkin saja kehidupan di planet lain terbentuk dengan materi yang berbeda… MAYBE… mungkin di bumi atau bagi kita AIR merupakan sumber awal kehidupan.. tapi bisa saja di planet lain PASIR yang menjadi sumber kehidupan… siapa yang tau?? PENCIPTA tidak harus selalu menciptakan yang sama…..

    • Masalahnya, apakah ada pasir di luar angkasa? Hehehe… Pasir itu kan bukan elemen dasr, tapi kristal dari bahan dasar silikon.

      Kenapa dianggap air adalah sumber kehidupan, adalah karena air itu substans katalis netral. Kalau kehidupan bermula dari reaksi kimia, reaksi kimia memerlukan tempat dimana reaksi ini bisa terjadi tanpa tempat tersebut ikut campur dalam proses kimianya. Disinilah kegunaan air dibutuhkan. Hanya dalam environment yg netral dimana elemen2 kimia bisa mmebentuk rantai kompleks (yg cukup kompleks sehingga bisa meregenerasi dan mereplikasi diri sendiri) tanpa ‘terganggu’ elemen kimia lingkungan, memungkinkan terjadinya kehidupan. Sejauh ini substansi netral ini hanya didapati di air dan metana.

      Kesimpulannya, emang mungkn sih ada kehidupan di luar sana yg tidak berbasis air, asalkan basis substansi ini tetep memungkinkan terjadinya reaksi kimia kompleks.

  • Memang sejak dulu, malah jauh sebelum teori darwin kalangan ilmuwan penganut MATERIALISME tetap perpendirian bhw kehidupan berasal dari Materi, padahal teori2 tersebut sdh dipatahkan oleh kenyataan2 dari mahluk hidup itu sendiri. Tidak serta merta ‘materi’ membentuk suatu kehidupan (walaupun dgn campuran macam2) tanpa adanya faktor X yg. Bagaimana mungkin materi yg TIDAK MEMILIKI KEHENDAK ‘berinisiatif’ membuat kehidupan dan segala atribut evolusinya.
    Sekali lagi, itu semua hanya pendapat para penganut teori Materialisme yg tak mungkin pernah sampai kpd sebuah kesimpulan final.