Indahnya Nebula Orion dan The Jewel Box di langit malam

Walau cuaca Bandung masih belum jelas akan menuju musim kering ataukah masih musim penghujan, pada tanggal 20 Maret 2009 langit menampakan wajah yang cukup cerah.  Hasil pengamatan yang dilakukan Hakim L. Malasan dengan menggunakan teleskop GAO-ITB RTS dan Kamera CCD SBIG STL6303/E yang dilengkapi Bessel BVR filters. Medan pandang yang dimiliki kamera CCD tersebut sekitar 40’x32′.

Hasilnya,  The Jewel Box (NGC475) dan Nebula Orion (M42) yang tampak malam itu berhasil diabadikan dan bisa dinikmati hasilnya disini. Nebula Orion berada di sabuk Orion, dan dapat dilihat dengan mata bugil. Dan The Jewel box merupakan open cluster yang berada di konstelasi Crux atau Salib Selatan.

GAO ITB RTS
Teleskop GAO-ITB RTS, hasil kerjasama Gunma Astronomical Observatory dan ITB. Kredit : Hakim L. Malasan
Nebula Orion
Nebula Orion atau M42 yang ada di rasi Orion. kredit: Hakim L. Malasan
Jewel Box
NGC4755 (The Jewel Box). kredit : Hakim L Malasan

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

29 thoughts on “Indahnya Nebula Orion dan The Jewel Box di langit malam

  1. mau tanya nih…

    telekope GAO termasuk jenis teleskope apa ya ?
    kalo lihat fotonya kok seperti jenis sc ya ?
    diameternya berapa ya ?

    trus mau tanya juga,
    gimana cara yang paling mudah untuk polar aligment pada
    southern hemisphere ya ?

    terima kasih sebelumnya.

  2. @Agus: iyah, betul SC 8″ saja untuk tabung teleskopnya, polar alignment utk langit selatan kl mau presisi itu lumayan susah. Karena selatan-nya itu dekat2 sama sigma octantis, itu jg ga pas2 banget, jadi harus bandingin jg ama titik temu canopus, achernar ama acrux (teori-nya) .. tp dari praktisnya sih, tinggal ngikutin alpa-beta centauri ke arah crux terus menunjuk ke acrux terus ke selatan, sepanjang dapet selatan benarnya sih udah mendingan lah .. 🙂

    1. @Semua… Terima kasih commentsnya. Sebenarnya tidak ada antisipasi observasi di musim pancaroba ini, tapi kok tgl 20 Maret malam itu langitnya cerah diawal, walau ketika sudah set up GAO-ITB RTS dan CCD STL6303/E eh kabut naik dan berawan :(. Tapi yah pantang menyerah…Orion, Omega Centauri, Saturnus, Jewe Box kok begitu ‘appealing’..jadi ya coba test STL 6303 dengan filter BVR (belum pakai filter I) untuk ambil citra. Jadi Hanief…ada citra omega Centauri diambil dalam filter R saja dalam 25 detik di antara awan.. Akan diupload. Kalau mau ikutan mengamat mangga! Seperti yang dikatakan mas Sungging betul GAO-ITB RTS itu teleskop Schmid-Cassegrain 8 cm dengan panjang fokus 2030 mm. Dengan CCD camera 3000×2000 pixel akan memberikan medan pandang 40 menit busur dan 30 menit busur. Sungging Mumpuni juga pernah mempergunakan kamera itu.

      1. Eh sorry salah, diameter GAO-ITB RTS itu 8 inci, atau 20.3 cm. Optiknya sendiri adalah Celestron 8inch. Sungging pernah pakai GAO-ITB RTS (tapi belum pernah pakai CCD STL6303), jadi penjelasannya tentang polar aligntment itu benar. Ada juga teknik ‘drift scan’ untuk polar aligntment. Nanti kapan-kapan akan dijelaskan deh ya.

    1. @Rigel: Ayo kapan kita bersama astrofotografi CCD pakai GAO-ITB RTS. Ditunggu yah 🙂

  3. @ pak nggieng dan pak Hakim : thanks atas penjelasannya.

    waduh… kalau yang ahlinya saja bilang lumayan susah, apalagi saya … ?

    oh ya pada ‘drift scan’ apakah dibutuhkan tool khusus ?

    terima kasih.

    1. @Agus: Tidak perlu tool khusus, kalau punya eyepiece yang dilengkapi benang silang dan diiluminasi sangat baik. Perlu eyepiece yang panjang fokusnya kecil agar dapat penguatan (magnification) sekitar 200 kali. Itu saja. Lalu coba ikuti uraian dibawah ini. Nama metode ini ‘Star drift method’ kadang disebut ‘declination drift method’ atau secara gampang
      disebut ‘drift method’ (sorry nggak pakai ‘scan’). Teknik ini populer dikalangan amatir di Jepang, Amerika. Untuk yang
      di belahan langit selatan, sebagai pengganti ‘Polaris’ bisa mengikuti uraian pak Sungging sebelum ini.

      Accurate Polar Alignment
      by Alan M. MacRobert
      http://www.skyandtelescope.com/howto/diy/3304261.html
      ________________________________________
      For simple visual observing without setting circles, you don’t need to align a telescope’s equatorial mount very well on the north celestial pole. Just plunk it down so that the polar axis (the right ascension axis) is aimed at Polaris as best you can judge by eyeballing it. The mount will then do its job.
      For long-exposure astrophotography, however, the polar alignment must be a lot better.
      The “declination drift method” is the most accurate way to accomplish this. The method is straightforward, but it does require some time and patience.
      First aim the mount’s polar axis roughly at Polaris. Now point the telescope at a star that’s somewhat above the celestial equator and as close to south as you can judge by looking opposite Polaris. Put in a high-power eyepiece. If the eyepiece has cross hairs, center the star on them. Otherwise put the star on the north or south edge of the field and defocus it a little. Turn on the clock drive, and ignore any east-west drift.
      If the star drifts south in the eyepiece, the polar axis is pointing too far east.
      If the star drifts north, the polar axis is too far west.
      Shift the polar axis left or right accordingly, until there is no more drift.
      Now aim at a star that’s near the celestial equator low in the eastern sky.
      If the star drifts south, the polar axis points too low.
      If the star drifts north, the polar axis points too high.
      Again, shift the polar axis accordingly.
      Now go back and repeat from the beginning, because each adjustment throws the previous one slightly off. When all visible drift is eliminated the telescope is very accurately aligned, and you can take long deep-sky exposures.
      If your eastern sky is blocked, you can use a star low in the west and reverse the words “too high” and “too low” in the above instructions. If you’re in the Earth’s Southern Hemisphere, reverse the words “north” and “south.”

      Uraian ini untuk pengamat di belahan langit utara

      1. pak Hakim, itu ‘eyepiece yang dilengkapi benang silang dan diiluminasi’
        dimana ya agen penjualnya ?

        1. Kalau tidak punya illuminated crosshair eyepiece, tapi memiliki kamera yg mempunyai fungsi untuk long exposure, kameranya bisa juga digunakan untuk mencari drift error di deklinasi.

          Kalau anda punya webcam yg telah diadaptasikan untuk dipakai dgn teleskop, dpt juga menggunakan webcam dan software khusus (yg dpt menampilkan crosshair di layar) untuk proses eliminasi drift.

    1. Kesulitan lain di awal adalah menentukan kemiringan mounting. Cara termudah pakai busur derajat dan benang, tapi ada alat dijital namanya inclinometer merk Suntoo. Itu juga bisa dipergunakan. Apapun alat bantunya, perlu kesabaran pakai metode star drift ini. Yang belum biasa mungkin menghabiskan sampai sejam. Kami di Bosscha rata-rata menghabiskan 15 menit untuk teleskop pakai tripod yang dilepas pasang.
      @Rigel: Juni saya sibuk dengan olimpiade sains propinsi…kemungkinan ke daerah-daerah nih. Ok keep in touch

    1. Nah, untuk kesekian kalinya pada bertanya gimana cara ke Bosscha. Secara prinsip kunjungan ke Observatorium
      Bosscha bisa dalam bentuk sebagai pengunjung umum dan pengunjung khusus. Sebagai pengunjung umum,
      lihatlah web site nya di http://bosscha.itb.ac.id. Disitu ada peraturan kunjungan. Atau telepon ke 022-2786001,
      petugas akan menjelaskan tata cara berkunjung. Sebagai astronom yang bermukim di Observatorium, saya
      punya kegiatan disamping penelitian, bimbingan mahasiswa, juga mengkoordinir secara teknis remote service
      observation ke/dari Jepang dari/ke Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan setahun sekali atau dua kali, kalau
      melayani Jepang, maka inisiatifnya dari saya, tapi kalau dari Jepang, pengelolaannya tergantung Observatorium
      Bosscha. Bisa ada, bisa juga tidak ada, misalnya tahun ini tidak ada permintaan pelayanan dari Jepang ke sini. HAAJ
      (Himpunan Astronom Amatir Jakarta), atau mahasiswa yang memiliki ketertarikan yang sebidang dengan saya
      akan datang sebagai pengunjung khusus dan tinggal beberapa lama disini. Bisa tanya, misalnya ke kak Fathia,
      kak Riser, kak Eka (semua anggota HAAJ).
      Mudah-mudahan info ini bisa dimanfaatkan siapa saja yang ingin ke Bosscha ya.

  4. Pak jeffteng, kalau memakai kamera yang punya fasilitas long exposure ( DSLR ?)
    sebagai ganti illuminated eyepiece, itu minimal diset berapa lama ya ?

    jadi kalau kita pakai DSLR, setelah kita ambil gambarnya, kemudian kita lihat preview nya,
    dan cek kearah mana star drift, kemudian kita trial error (karena saya kesulitan dengan
    orientasi arah utara/selatan) dengan mengadjust azimuth
    mount telescope, apakah demikian pak ?

    Kemudian, menurut pengalaman Pak jeffteng, iterasi untuk polar alignment
    antara azimuth dan latitude, minimal berapa kali ya ?
    Kan dari artikel yang di quote oleh Pak Hakim, setelah kita adjust azimuth,
    kemudian latitude, kembali lagi ke azimuth, begitu seterusnya ?

  5. halo rekan2. mau tanya, biar bisa rekreasi yang agak puas dengan teleskop, kira-kira teleskop seperti apa ya yang harus dibeli? minta tolong nih, soalnya aku punya anak seumur smp dan sd yang kayaknya mulai suka sama astronomi. kalo budget 10 jutaan sudah lumayan blom ya? mohon reply ke email saya. buat yang mau nawarin produk teleskop juga boleh email diskripsi dan kemampuan produknya. thanks sebelumnya ya. met have fun semua.

  6. the true follower of jesus believed that orion is a gate of heaven.read on the book of Ellen G White “Early Writings” or “The Great Controversion”

  7. mau tanya dong, di bali beli teleskop utk newbie dimana ya?
    klo yg di ace hardware aku liat ada yg tipe 1141000 mag 150x dan 450x max dgn harga 2,5jtan.
    kira2 bagus gak ya? bisa liat kelas nebula gak?
    klo dari pabrikan william optics mode zenithstar 66 SD APO atau ZenithStar 70 ED APO bagus gak?
    trus klo mau cari objek2 gmn caranya ya?
    thx before

  8. Untuk yang bertanya tentang teleskop-teleskop dan showroomsnya di Indonesia, silakan kunjungi http://www.prominencescope.com/ atau http://www.jtscope.com.
    Teleskop diameter 100 mm (f/D>3.5) dilengkapi dengan mounting+motor drive dengan database
    lengkap obyek astronomi sudah baik untuk pengamatan. Umumnya diatas 5 jutaan.
    Enjoy and have clear sky!

  9. wah keren banget!!!!!!!!!!!!!!!!!!! pengen dung keterangan lebh lengkapnya…………………………

  10. saya sebenernya suka sama yang namanya astronomi dan kosmologi,tapi di SMA malah masuk ips,itu susah nya jadi tidak bisa ambil jurusan astronomi
    beginilah kalau pengen belajar tapi gk bisa dapat ilmu nya……
    tiap hari baca langitselatan cari info sapa tau ada update terbaru,tapi tetap aja gk bisa dapat smua ilmunya,karena di langitselatan.com cuma ada cellestial event nya saja
    sedikit menyesal kenapa harus masuk ips,tapi ya sudah,langitselatan jg udah cukup bikin saya puas…
    keep on fire buat langitselatan.com
    nice….

  11. jadi inget sama film the fountain klo dalam film tersebut
    nebula orion m42 disebutnya xibalba 😀

Tulis komentar dan diskusi...