Menyibak Misteri Energi dan Materi Kelam

Apa itu materi kelam dan energi kelam? Konsep energi kelam maupun materi kelam masih merupakan hipotesis yang disampaikan kosmolog sebagai materi yang membangun 96% alam semesta. Mereka memancarkan maupun memantulkan radiasi elektromanetik sehingga bisa dideteksi secara langsung, namun keberadaannya bisa diketahui dari efek gravitasional yang dimilikinya. Karena itu para ilmuwan saat ini berusaha membuktikan apakah energi kelam dan materi kelam itu benar-benar ada. Dan jika ada dari apakah mereka terbuat?

Dua katai putih yang saling mengorbit dan bergerak spiral menuju satu sama lainnya. Kedua bintang akan mengalami penyatuan, yang menyebabkan terjadinya reaksi fusi karbon/oksigen dan terjadinya ledakan Supernova Tipe Ia. Helai Granit diperkirakan akan terbentuk dan disebarkan ke angkasa melalui ledakan supernova. Kredit : Creative Commons License/Drew Taylor

Salah satu studi yang terkait dengan energi kelam (dark energy) dan materi kelam (dark matter) menyatakan kalau bisa jadi energi kelam hanyalah helaian kecil dari materi karbon, yang terbentuk di masa awal alam semesta. Nah, untuk itu dilakukan eksperimen untuk mengetahui apakah materi kelam ini terbentuk dari partikel axion. Menurut para peneliti, ruang angkasa dipenuhi oleh sebaran helai-helai kecil karbon yang meredupkan objek-objek jauh. Menurut mereka, keberadaan helaian (satuan yang sangat kecil) karbon ini mungkin bisa menjelaskan keberadaan energi kelam yang menisi kosmos.

Hipotesis energi kelam satu dekade lalu memang menjelaskan keredupan yang tidak diharapkan dari ledakan bintang tertentu yang mausk kategori supernova 1a. Supernova 1a merupakan supernova yang berasal dari ledakan bintang-bintang tua, dengan magnitudo mutlak mencapai 16. Para astronom menggunakan supernova 1a sebagai lilin standar penentuk jarak. Nah, karena ledakan yang terjadi dipercaya memiliki kecerlangan intrinsik yang sama, maka ledakan yang terlihat sangat terang diasumsikan berada dekat dan yang lebih redup berada lebih jauh.

Akhir tahun 1990-an, para peneliti melihat sepertinya sebagian dari ledakan itu terlalu redup – terlalu jauh – untuk bisa memenuhi teori standar. Hal inilah yang membawa mereka pada kesimpulan kalau alam semesta mengembang dipercepat, dipicu oleh energi tak dikenal yang disebut dark energy (energi kelam).

Dalam studi terbaru yang dilakukan Andrew Steele dan Marc Fries dari Car­ne­gie In­sti­tu­tion, Wash­ing­ton, D.C, dilaporkan adanya pembentukan karbon dalam mineral di dalam meteorit yang tidak biasa terjadi dalam pembentukan Tata Surya. Helaian grapnit diperkirakan terbentuk dari gas yang kaya karbon dan ditemukan dalam bagian meteorit yang disebut kalsium-alumunium. Dengan usia sekitar 4,5 milyar tahun, ini merupakan materi tertua yang ada di Tata Surya.

Saat Matahari masih muda, angin Matahari sangat kencang, sehingga bisa meniup partikel yang ada keluar dari Matahari. Akibatnya diperkirakan helaian granit yang terbentuk didekat Mathari bisa jadi ditiup keluar ke ruang antar bintang. Hal yang sama juga diperkirakan terjadi pada bintang muda lainnya. Helaian granit ini juga bisa dibentuk dan disebarkan oleh supernova. Kabut tipis dari helai-helai tersebut di angkasa akan mempengaruhi cahaya pada berbagai panjang gelombang dan juga energi saat melewati ruang angkasa. Dari postulat yang ada, cahaya yang dekat dnegan panjang gelombang infra merah akan terpengaruh – panjang gelombang yang sama yang meredupkan dan yang membawa pada kesimpulan model energi kelam.

Helai-helai granit atau materi yang mirip diajukan sebagai penjelasan yang memungkinkan terhadap observasi,.namun keberadaan mereka di angkasa masih belum bisa dibuktikan sampai dengan penemuan pada meteorit sekarang. Dengan penemuan ini, para peneliti akan dapat menguji helai tersebut ke dalam teori dan observasi yang mereka lakukan.

Menurut Steele, saat ini masih belum bisa dibuat komentar lanjutan untuk implikasi dengan energi kelam. Namun bagaimanapun sangat penting untuk memperlajari karakteristik dari bentuk karbon tersebut sehingga bisa diketahu apa hubungannya dengan model energi kelam.

Sumber : World Science

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.