Kejutan dari Mars! Para astronom menemukan senyawa organik terbesar dalam sampel batu yang diambil Curiosity.

Sekilas Misi Curiosity
Curiosity. Robot penjelajah yang diluncurkan tahun 2011 dan mendarat di Kawah Gale ini masih bekerja sampai hari ini di planet merah tersebut. Saat ini, robot penjelajah Curiosity sedang mendaki Gunung Sharp, yang ada di tengah Kawah Gale, untuk memahami sejarah lingkungan Mars lebih lanjut. Satu hal pasti, misi Curiosity ini untuk mencari jejak air, bahan organik, maupun elemen penting lainnya yang bisa memberi petunjuk apakah Mars pernah atau berpotensi laik huni. Selain itu, Curiosity juga bertugas untuk mempelajari iklim dan geologi di Mars.
Yup! Keingintahuan terbesar kita adalah apakah Mars, si planet tetangga pernah atau bahkan sekarang bisa mendukung kehidupan. Untuk saat ini kita tahu bahwa Mars merupakan planet gersang dan tidak bisa mendukung kehidupan. Tapi, tidak demikian di masa lalu. Para astronom menduga Mars pernah punya periode basah di mana potensi laik huni itu muncul. Dulu.. bukan sekarang.
Itulah yang jadi misi Curiosity maupun robot penjelajah lainnya di Mars. Mencari jejak kehidupan. Untuk itu, Curiosity dilengkapi dengan laboratorium mini Sample Analysis at Mars (SAM) dan Chemistry and Mineralogy (CheMin). Kedua laboratorium mini tersebut bertugas untuk menganalisis sampel tanah dan batuan.
Setelah 12 tahun 233 hari, rover Curiosity masih bertugas dan kali ini, sampel yang dianalisis dalam laboratoium mini SAM memperihatkan hasil yang mengejutkan. Mars kembali menyimpan kejutan! Kali ini, para ilmuwan yang menganalisis sampel batuan di dalam laboratorium mini SAM (Sample Analysis at Mars) di rover Curiosity menemukan senyawa organik terbesar yang pernah ditemukan. Penemuan ini membuka kemungkinan proses kimia yang mendukung kehidupan di Mars sudah lebih maju dibanding hasil pengamatan sebelumnya.
Jejak Kimia dalam Batuan
Paraastronom menemukan tiga molekul organik saat menganalisis contoh batuan Mars. Molekul organik tersebut adalah dekana (C10H22), undekana (C11H24), dan dodekana (C12H26), hidrokarbon alkana rantai lurus dengan atom karbon 10, 11, dan 12. Molekul organik ini merupakan pecahan asam lemak yang mengalami pengawetan di dalam batuan Mars. Di Bumi, asam lemak merupakan komponen yang dibutuhkan untuk pembentukan membran sel dan berbagai proses biologi.
Tapi, asam lemak tidak selalu berasal dari makhluk hidup. Molekul organik ini bisa terbentuk dari reaksi kimia yang dipicu berbagai proses geologi seperti interaksi air dan mineral pada ventilasi hidrotermal. Dengan kata lain, meskipun belum bisa dipastikan apakah senyawa ini berasal dari kehidupan, tapi keberadaan molekul organik ini di Mars merupakan petunjuk penting untuk menelusuri jejak kehidupan purba.
Sebelumnya, Curiosity telah menemukan molekul organik sederhana di Mars. Akan tetapi, menemukan senyawa yang lebih besar memberikan kemungkinan proses kimia di Mars lebih kompleks. Para astronom berharap bahwa molekul organik di Mars terbentuk dari proses biologis dan mungkin bisa bertahan meskipun terpapar radiasi dan mengalami proses oksidasi selama jutaan tahun.
Tak pelak, misi untuk membawa pulang sampel Mars ke Bumi jadi penting. Dengan instrumen yang ada di Bumi, para astronom bisa menyingkap keberadaan jejak senyawa kimia kehidupan purba di Mars. Jika kehidupan pernah ada di sana.
Cumberland: Sampel Kunci dari Mars

Sampel dengan molekul organik ini berasal dari area “Teluk Yellowknife” di Kawah Gale yang mirip dasar danau purba. Curiosity diarahkan ke teluk Yellowknife sebelum berbalik arah menuju Gunung Sharp.
Batuan yang diberi kode Cumberland ini pertama kali diambil Curiosity tahun 2013 dari batuan lumpur yang usianya 3,7 miliar tahun. Area dasar danau purba ini memang ideal sebagai area konsentrasi pengawetan molekul organik dalam batuan sedimen berbutir halus yang disebut batuan lumpur. Para astronom menemukan berbagai petunjuk menarik dalam sampe ini seperti kandungan tanah liat yang terbentuk di air. Batuan ini juga memiliki belerang yang berlimpah untuk membantu pengawetan senyawa organik dan sejumlah besar nitrat yang berperan penting untuk kesehatan tumbuhan dan hewan. Selain itu juga ditemukan metana yang punya kaitan erat dengan proses biologi di Bumi.
Para astronom juga menemukan bukti keberadaan air di Kawah Gale selama jutaan tahun, atau bahkan lebih lama. Itu artinya, kehidupan punya waktu yang cukup untuk terbentuk. Tapi apakah kehidupan memang pernah ada di Mars purba? Jawabannya mungkin bisa kita temukan saat misi masa depan membawa pulang batuan Mars ke Bumi.
Tulis Komentar