Satu Planet dan Empat Bintang

Apa yang terjadi, jika ada sebuah planet di sistem bintang multipel? Apa pengaruh sistem bintang multipel yang terdiri dari beberapa bintang tersebut pada planet yang ada di sistem itu? Pertanyaan inilah yang sedang dicari jawabannya oleh para astronom.

Ilustrasi sistem bintang 30 Ari yang memiliki 4 bintang dan satu planet. Kredit: Karen Teramura, UH IfA.

Dalam pencarian itu, para astronom menemukan sebuah planet pada sistem bintang triplet 30 Arietis aka 30 Ari yang dikemudian hari diketahui ternyata merupakan sistem kuadruplet. Planet tersebut ditemukan pada tahun 2009 mengitari bintang 30 Arietis B yang merupakan anggota sistem bintang bertiga di rasi Aries, dengan dua bintangnya merupakan pasangan bintang ganda.

Ternyata, di tahun 2015, planet 30 Ari Bb “kembali ditemukan” dan kali ini ia tidak hanya berada pada sistem bintang bertiga melainkan sebuah sistem bintang berempat aka sistem kuadruplet. Bintang keempat ini ditemukan dalam pengamatan di Observatorium Palomar dengan instrumen Robo-AO dan PALM-3000.

Bintang ke-4 yang baru ditemukan dalam sistem bintang 30 Ari, diketahui berada jauh dari planet 30 Ari Bb. Lebih tepatnya bintang ke-4 ini berada 23 kali jarak Matahari – Bumi dari sang planet. Dengan demikian, bintang yang baru ditemukan tersebut diperkirakan tidak banyak memberi pengaruh pada orbit planet. Tapi untuk mengetahui lebih lanjut, akan dilakukan pengamatan lain untuk bisa memahami sistem tersebut.

Planet di sistem kuadruplet
Sistem bintang 30 Ari berada pada jarak 136 tahun cahaya dari Bumi di Rasi Aries dengan kehadiran sebuah planet yakni 30 Ari Bb yang merupakan planet gas raksasa dengan massa 10 massa Jupiter. Penamaan 30 Ari Bb memiliki arti planet pertama yang mengitari bintang 30 Ari B.

Planet 30 Ari Bb membutuhkan 335 hari untuk dapat mengitari bintang induknya, atau 30 hari lebih cepat dibanding Bumi mengitari Matahari. Planet 30 Ari Bb mengorbit bintang induknya, 0,005 Au atau 700000 km lebih dekat dibanding Bumi ke Matahari. Akan tetapi, orbitnya jauh lebih lonjong dari Bumi. Pada saat berada pada titik periastron atau titik terdekat dengan bintang, jaraknya 0, 708 Au atau sedikit lebih dekat dibanding jarak venus – Matahari. Saat planet ini berada di titik apastron atau titik terjauh dari bintang, jarak terjauh yang bisa dicapai planet ini adalah 1,283 Au atau sudah mencapai lebih dari setengah jarak Bumi – Mars.

Planet 30 Ari Bb merupakan planet kedua yang ditemukan dalam sistem bintang kuadruplet. Exoplanet pertama yakni KIC 4862625 aka Ph1 b di sistem kuadruplet ditemukan lewat sains warga pada tahun 2012. Dengan demikian, kehadiran planet 30 Ari juga memberi indikasi awal kalau kehadiran sebuah planet pada sistem kuadruplet tidak terlalu langka langka.  Di masa kini, lusinan sistem planet sudah ditemukan berada pada sistem bintang ganda maupun sistem bintang bertiga. Termasuk di dalamnya planet yang memiliki senja kembar seperti di planet tatooine pada film Star Wars. Dengan demikian tidaklah mengherankan jika ditemukan planet pada sistem multipel, apalagi diketahui kalau bintang ganda lebih banyak dari bintang tunggal. Dan diperkirakan 4% bintang tipe Matahari merupakan bintang yang berada dalam sistem kuadruplet atau sistem bintang berempat.

Planet 30 Ari Bb dan keempat bintang di sistem 30 Ari. Dua bintang di sistem ini merupakan bintang ganda. Kredit: NASA/JPL-Caltech

Seandainya memungkinkan untuk bisa melihat langit dari planet 30 Ari Bb, maka keempat bintang yang ada di sistem keplanetan ini akan tampak seperti sebuah matahari kecil dan 2 bintang terang yang tampak di siang hari. Jika diamati dengan teleskop yang cukup besar, maka akan dapat diketahui kalau salah satu bintang terang yang tampak di langit bukanlah sebuah bintang tunggal melainkan bintang ganda.

Lantas, apa pengaruh bintang pada sistem multipel terhadap planet yang ada di sistem bintang tersebut? Bukti yang ada menunjukan kehadiran bintang pasangan pada sebuah sistem keplanetan akan ikut mempengaruhi nasib si planet. Caranya adalah dari interaksi antar bintang, planet bisa mengalami gangguan yang mengubah orbitnya dan bisa memicu terjadinya pertambahan massa pada planet sehingga menjadi planet yang lebih masif.

Sebagai contoh, planet Jupiter panas yang bergerak mengitari bintangnya dalam beberapa hari ketika diganggu oleh gaya gravitasi bintang pasangan, orbitnya bisa berubah jadi semakin dekat dengan bintang induknya.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.