Suar Matahari di Awal April 2014

Sebelum mengakhiri bulan Maret, Matahari tampaknya ingin memberikan sedikit oleh-oleh. Flare aka Suar Matahari dalam skala X1 yang cukup besar dilepaskan dari area aktif AR2017, setelah sebelumnya diperkirakan bintik matahari AR2017 tersebut akan melepaskan suar skala M.

Flare Matahari kelas M9 di AR2017. Kredit: SDO
Flare Matahari kelas M9 di AR2017. Kredit: SDO

Flare Matahari atau Suar Matahari skala X1 merupakan klasifikasi untuk ledakan yang paling besar dan dasyat yang terjadi di Matahari. Ledakan kelas ini bisa menyebabkan terjadinya gangguan pada jaringan listrik karena transformator dalam jaringan listrik akan mengalami kelebihan muatan, gangguan telekomunikasi (merusak satelit, menyebabkan black-out frekuensi HF radio, dll), navigasi, menyebabkan korosi pada jaringan pipa bawah tanah dan terjadinya badai radiasi yang panjang di lapisan teratas atmosfer.

Lontaran massa korona dari ledakan yang terjadi di AR2017 diperkirakan mengarah ke Bumi dan akan berinteraksi dengan dengan medan magnet Bumi dan berpotensi antara 35-60 % untuk menimbulkan badai geomagnetik di awal April. Tarian badai geomagnetik pada awalnya  diharapkan akan mulai terjadi tanggal 2 April saat aliran partikel Matahari mengalir turun sesuai dengan garis-garis medan magnetik Bumi ke kutub-kutub Bumi dan bertabrakan dengan atom nitrogen dan oksigen di atmosfer. Akan tetapi, peluang itu kemudian menurun hingga 1% karena tampaknya partikel-partikel dari matahari tersebut melewatkan Bumi dari kunjungannya.

Pemadaman radio yang terjadi akibat Suar Matahari kelas X1 tgl 29 Maret 2014.
Pemadaman radio yang terjadi akibat Suar Matahari kelas X1 tgl 29 Maret 2014.

Suar Matahari yang terjadi pada tanggal 29 Maret, tidak saja menyebabkan terjadinya padamnya gelombang radio saja melainkan juga menghasilkan sinyal radionya sendiri. Ledakan yang terjadi di bintik Matahari AR2017 mengirimkan gelombang kejut dengan kecepatan 4800 km/detik keluar dari atmosfer Matahari. Emisi radio yang distimulasi dari gelombang kejut tersebut menempuh perjalanan sejauh 150000000 km ke Bumi dan menyebabkan radio penerima gelombang pendek menghasilkan deru statik.

Radiasi ultra ungu saat Suar Matahari kelas X1. Kredit: SDO
Radiasi ultra ungu saat Suar Matahari kelas X1. Kredit: NASA/ SDO

Ketika terjadi suar Matahari kelas X1 pada tanggal 29 maret lalu, terjadi radiasi ultra ungu yang ekstrim yang mengionisasi lapisan teratas atmosfer Bumi. Akibatnya terjadi magnetic crochet atau riak pada medan magnet Bumi yang disebabkan oleh arus listrik di udara. Dan magnetic crochet ini sudah terjadi saat Suar Matahari sedang terjadi. Berbeda dari lontaran massa korona yang baru tuba beberapa hari kemudian.

Radiasi ultra ungu saat suar Matahari kelas M6. Kredit: NASA/SDO
Radiasi ultra ungu saat suar Matahari kelas M6. Kredit: NASA/SDO

Dan meskipun AR2017 sudah mulai tenang, namun diperkirakan masih memungkinkan untuk melepaskan ledakan skala M. Dan tak hanya AR2017, karena tanggal 2 April, bintik Matahari AR2027 juga melepaskan suar Matahari kelas M6.  Ledakan dengan skala menengah tersebut memang tidak sekuat ledakan X1 dan kekuatannya  hanya1/10 dari energi fluks flare kelas X. Biasanya flare di kelas ini hanya meyebabkan terjadinya pemadaman (blackout) singkat pada frekuensi radio khususnya untuk area kutub dan badai radiasi yang minor.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.