Hujan Kaca di Planet HD 189733b

Coba bayangkan kalau suatu hari ketika hujan turun.. ternyata bukan air yang membasahi Bumi melainkan kaca. Pastinya kita akan terluka dan mencari pelrindungan. Kisah itu bukan dongeng karena nun jauh di luar angkasa ada sebuah planet seperti itu yang mengitari bintangnya. Uniknya planet ini punya warna yang sama dengan Bumi. Biru!

Titik Biru Tua di Kejauhan
Ingat kan kalau Bumi itu kita kenal sebagai Planet Biru atau Titik Biru Pucat yang dilihat dari luar angkasa. tapi, Planet biru yang satu ini tidaklah persis sama dnegan Bumi. Cuma warnanya saja yang sama tapi itupun bukan biru pucat melainkan tua.

Ilustrasi planet biru HD 189733b. Kredit: NASA, ESA, and G. Bacon (AURA/STScI)
Ilustrasi planet biru HD 189733b. Kredit: NASA, ESA, and G. Bacon (AURA/STScI)

Planet Biru Tua tersebut tidak memiliki kemiripan lain dalam hal ukuran, masa atau lokasi di zona laik huni seperti halnya Bumi. Planet yang dilihat Teleskop Hubble milik NASA/ESA tersebut merupakan planet gas raksasa seperti halnya Jupiter dan berada sangat dekat dengan bintang induknya.

Pada tahun 2007, Teleskop Spitzer milik NASA mengukur cahaya infra merah dari planet dan menghasilkan peta temperatur exoplanet pertama yang pernah dibuat. Peta itu juga menunjukkan kalau beda temperatur antara sisi siang dan malam mencapai 260º Celsius dan menyebabkan terjadinya angin kencang yang berhembus di sepanjang planet tersebut. Di atmosfer, temperatur planet HD 189733b mencapai 1000º Celsius.

Tapi ada hal lain yang lebih menarik di planet biru tua itu. Warna biru tua yang ada di planet gas raksasa itu bukanlah berasal dari lautan seperti halnya Bumi. tentu saja tidak mungkin dari lautan mengingat lokasi planet yang sangat dekat dengan bintang. Warna biru tua yang menjadi kekhasan planet berasal dari kabut turbulensi atmosfer yang mengandung partikel silikat yang menghamburkan cahaya biru.  Kandungan silikat pada atmosfer menjadikan planet tersebut memiliki curah hujan yang sangat berbeda!

Temperatur kondensasi silikat yang sangat tinggi yakni lebih dari 1300º Celsius menyebabkan partikel-partikel silikat di atmosfer membentuk butiran kaca. Akibatnya, hujan yang turun di planet biru tua itu berupa hujan kaca yang turun menyamping ditiup angin yang bergerak 7000 km per jam!

Sebuah dunia yang sangat eksotis dan dramatis!

Dunia asing yang dilihat Teleskop Hubble tersebut berada pada jarak 63 tahun cahaya dari Bumi dan merupakan salah satu sistem extrasolar planet dekat yang dapat dilihat melintasi bintang induknya. Penelitian Hubble dan teleskop lainnya selama bertahun-tahun menunjukkan kalau atmosfer HD 189733b sudah berubah dan atmosfernya sangat eksotik dengan keberadaan kabut dan ledakan dasyat. Planet  HD 189733b memang sudah sejak lama dipelajari akan tetapi apa yang dilihat Hubble kali ini menjadi pionir untuk melihat warna planet jauh di bintang lain untuk pertama kalinya.

Untuk bisa mengetahui seperti apa planet tersebut, yang harus dilakukan adalah menghitung seberapa banya cahaya yang dipantulkan permukaan planet tersebut. Atau mengetahui albedo planet.  HD 189733b merupakan planet redup yang bergerak mengitari bintangnya setiap 2,32 hari pada jarak yang sangat dekat yakni 0,03 AU.

Perbandingan warna planet di Tata Surya dan Planet HD 189733b. kredit: NASA, ESA, and A. Feild (STScI/AURA)
Perbandingan warna planet di Tata Surya dan Planet HD 189733b. kredit: NASA, ESA, and A. Feild (STScI/AURA)

Planet HD 189733b yang tergolong dalam kelas Jupiter Panas memang memiliki ukuran yang hampir sama dengan Jupiter di Tata Surya. Dari seluruh planet extrasolar yang sudah ditemukan, planet gas raksasa memang mendominasi. Di Tata Surya, jelas Jupiter berada jauh dari Matahari tidak seperti planet gas raksasa yang umumnya ditemukan dekat dengan bintang induk pada sistem bintang lainnya. Keberadaan planet HD 189733b yang masih tergolong dekat menjadikan ia ruang belajar yang sangat baik untuk bisa memahami apa yang terjadi di planet yang dramatis dan eksotis tersebut.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.