langitselatan
Nebula Kepala Kuda yang dipotret oleh Wijaya Sukwanto dan Robin Lim dari Trevinca Skies Remote Observatory. Kredit: Wijaya Sukwanto dan Robin Lim. Kredit: Robin Lim/Wijaya Sukwanto
Beranda » Nebula Kepala Kuda: Kuda Hitam di Rasi Orion

Nebula Kepala Kuda: Kuda Hitam di Rasi Orion

Tahun 2026 merupakan Tahun Kuda Api. Dan di alam semesta, ada kuda raksasa yang jadi palung kelahiran bintang-bintang. Nebula Kepala Kuda atau Barnard 33.

Nebula Kepala Kuda yang dipotret oleh Wijaya Sukwanto dan Robin Lim dari Trevinca Skies Remote Observatory. Kredit: Wijaya Sukwanto dan Robin Lim. Kredit: Robin Lim/Wijaya Sukwanto

Berada sekitar 1300 tahun cahaya di rasi Orion, awan gelap berbentuk kuda laut raksasa ini tampak muncul dari lautan gas dan debu. Di belakangnya, ada tirai cahaya merah muda yang membentang indah. Dan keindahan Nebula Kepala Kuda inilah yang dipotret oleh astrofotografer Indonesia, Wijaya Sukwanto dan Robin Lim, menggunakan teleskop Planewave CDK17 di Trevinca Skies Remote Observatory, Spanyol. 

Citra Nebula Kepala Kuda ini diambil dengan tiga filter narrowband (pita sempit) yang memiliki warna emisi berbeda. Warna emisi ini ditentukan oleh panjang gelombang spesifik yang dipancarkan saat elektron dalam atom/ion bertransisi antar level energi. Untuk citra Nebula Kepala Kuda, Robin dan Jay menggunakan filter Ha, OIII, dan SII. 

Masing-masing filter menangkap pancaran cahaya yang unik: H-alpha (Ha) mendeteksi gas Hidrogen yang berwarna merah tua, OIII menangkap gas Oksigen panas dalam spektrum hijau-kebiruan, dan SII mendeteksi Sulfur yang juga berwarna merah pekat. Ha dan SII memiliki warna yang merah yang sangat mirip sehingga perlu dilakukan pemetaan ulang gas-gas ini ke saluran warna berbeda agar dapat dibedakan secara visual. 

Hasilnya, dalam citra Nebula Kepala Kuda di laman ini, gas hidrogen mendominasi latar belakang dengan warna merah, sementara emisi oksigen menghasilkan aksen biru-kehijauan di sekitar bintang-bintang panas. Campuran SII dan OIII memberikan nuansa magenta-pink yang menciptakan gradasi warna lebih kaya dibanding sekadar dua warna merah-biru. Kombinasi ini membuat siluet gelap Barnard 33 (Kepala Kuda) yang terdiri dari debu dingin tampak menawan di antara tirai cahaya merah yang membentang di latar belakang. 

Lokasi & Fitur

Nebula Kepala Kuda (Horsehead Nebula). Awan debu dan gas ini merupakan salah satu target favorit pengamatan dan fotografi yang tersembunyi di balik sabuk Orion. Tepatnya di sebelah selatan Alnitak, satu dari tiga bintang yang membentuk sabuk Orion. Nebula ini merupakan bagian dari kompleks awan molekuler Orion B yang berada 1370 tahun cahaya dari Bumi. Di Orion B, terdapat beberapa wilayah pembentukan bintang, dengan gugus bintang di dalam Nebula Lidah Api sebagai gugus terbesar.

Nebula Kepala Kuda termasuk tipe nebula gelap akibat debu yang begitu tebal dan padat sehingga menghalangi cahaya bintang-bintang di baliknya. Nebula Kepala Kuda memiliki komposisi utama hidrogen dan helium serta campuran debu kosmik. 

Struktur pilar yang menjulang baik kepala kuda yang menyembul dari antara awan terbentuk dari keruntuhan awan antarbintang dan membentang 3-4 tahun cahaya. Tinggi struktur pilarnya sekitar 3 tahun cahaya. 

Di balik siluet Nebula Kepala Kuda yang gelap, terbentang nebula emisi IC 434, awan hidrogen merah bercahaya yang jadi latar merah nan megah. Ini merupakan wilayah H II yang terionisasi oleh radiasi ultraviolet sistem multi bintang Sigma Orionis di dekatnya. Ukurannya sangat besar. Nebula Emisi IC 434 membentang dengan ukuran 45 – 85 tahun cahaya.  

Objek lain pada foto ini adalah NGC 2023, nebula refleksi atau nebula pantul yang tampak berbentuk lingkaran bercahaya biri di kiri bawah yang jadi bagian leher kepala kuda. Sesuai namanya, nebula ini tidak memancarkan cahaya sendiri melainkan memantulkan cahaya bintang muda di dalamnya. Bintang tersebut adalah bintang Herbig Be, bintang masif muda dan panas, yang dikenal juga dengan identitas HD 37903. Cahaya bintang HD 37903 inilah yang membuat NGC 2023 tampak berwarna biru-putih.

Penemuan

Penemuan Nebula Kepala Kuda atau Barnard 33 termasuk cukup membingungkan. Akan tetapi, William Herschel yang menemukan Uranus mungkin jadi orang pertama yang melihat objek ini lewat teleskop pada tahun 1811. Hasil pengamatan yang memuat 52 objek samar itu diaukan Herschel dalam makalah “The Construction of the Heaven” yang diajukan ke Jurnal Philosophical Transaction. Keterbatasan instrumen yang membuat ojek ini hanya tampak samar membuat catatan Herschel ini diabaikan hampir satu abad.

Upaya pembuktian baru muncul ketika astronom amatir Isaac Roberts mencoba memotret objek-objek temuan Herschel tersebut pada awal 1900-an. Selama 6 tahun pengamatan pada 52 objek itu dilakukan. Meskipun Roberts berhasil mengabadikan lokasi Nebula Kepala Kuda, kualitas fotonya yang redup membuatnya gagal mengenali bentuk unik objek ini dan hanya menganggapnya sebagai “aliran objek samar” biasa. 

Menariknya, di tengah ketidaktahuan komunitas astronom saat itu, ternyata ada seorang astronom perempuan yang sebenarnya sudah lebih dulu menemukan dan mencatat objek ikonik ini dalam katalognya.

Willamina Paton Stevens Fleming. Ia adalah komputer manusia yang dipekerjakan di Harvard College Observatory lebih dari 100 tahun lalu. Willamina Flemming merupakan imigran Skotlandia yang awalnya bekerja sebagai pelayan rumah tangga di kediaman Profesor Edward Charles Pickering, direktur Harvard College Observatory. Ia kemudian dipekerjakan di Harvard College Observatory untuk menganalisis spektrum bintang. Pada tahun 1888, Fleming menemukan Nebula Kepala Kuda saat menganalisis Pelat Fotografi Pickering. Dalam pelat itu, Flemming melihat lekukan setengah lingkaran berdiameter 5 menit busur, 30 menit busur di selatan Zeta Orionis. 

Masa Depan

Di masa depan, radiasi ultraviolet Sigma Orionis secara bertahap mengikis tepi nebula melalui proses fotoevaporasi dan melenyapkan awan di sekitar kepala kuda, menyisakan struktur siluet gelap yang ada saat ini. Dan para astronom memperkirakan Nebula Kepala Kuda hanya punya sisa waktu sekitar 5 juta tahun sebelum ia lenyap sepenuhnya.


Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Manager 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute.

Tulis Komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini