Para astronom menemukan 19 asteroid yang berputar ultra cepat, di antaranya, ada yang berputar kurang dari 2 menit!

Asteroid. Kita mengenal objek ini sebagai puing-puing yang gagal membentuk planet di antara Mars dan Jupiter. Tapi, asteroid tidak hanya berada di antara Mars dan Jupiter. Objek-objek kecil ini juga ada di dekat Bumi dan kita mengenalnya sebagai asteroid dekat Bumi. Jumlahnya jutaan dan bahkan diperkirakan bisa mencapai miliaran. Ada yang punya potensi bahaya bagi Bumi, ada yang tidak.
Tentu saja para astronom melakukan pemantauan rutin lewat berbagai proyek survei, di antaranya adalah ATLAS (Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System) dan Catalina Sky Survey. Rencananya, di awal tahun 2026, Observatorium Vera C. Rubin yang didirikan di puncak di Cerro Pachón, Chile, juga akan mulai beroperasi.
Teleskop Survei Simonyi berukuran 8,4 meter yang ada di observatorium ini dilengkapi dengan kamera digital terbesar. Teleskop ini akan memotret langit secara berulang selama 10 tahun dan memetakan langit malam. Tak pelak, akan ada banyak penemuan dan cerita baru dari Observatorium Rubin.
Penemuan dari Pengamatan Perdana
Sebelum mulai beroperasi penuh di tahun 2026, teleskop Simonyi di Observatorium Vera C. Rubin sudah melakukan pengamatan perdana dan merilis hasilnya pada Juni 2025.

Hanya dalam 10 jam pengamatan, Teleskop Simonyi berhasil memotret hampir 4000 asteroid dengan 1900 di antaranya merupakan asteroid yang belum pernah terdeteksi sebelumnya. Sebagian besar asteroid tersebut berada di Sabuk Utama Asteroid, di antara Mars dan Jupiter. Tapi ada yang berada di kawasan dekat Bumi dan ada juga yang berada di wilayah tepi luar Tata Surya.
Penemuan asteroid ini memang berasal dari 10 jam pengamatan yang dilakukan selama 7 hari di bulan April/Mei. Karena asteroid bentuknya bukan bola sempurna alias tidak beraturan, kecerlangannya akan tampak naik turun alias terang dan kemudian meredup saat objek ini berotasi. Ini terjadi karena saat berputar ada saatnya pengamat melihat sisi lebar yang memantulkan banyak cahaya dan kemudian tampak wilayah yang lebih sempit dan tampak lebih redup. Dari perubahan kecerlangan inilah para astronom bisa mengetahui periode rotasi atau waktu yang dibutuhkan asteroid untuk menyelesaikan satu putaran.
Di antara asteroid baru tersebut, ada asteroid yang berputar sangat cepat. Hanya butuh waktu kurang dari dua menit! Waktu yang sangat cepat bahkan terlalu cepat untuk menyeduh kopi.
Tapi itulah kejutan menyenangkan dari hasil pengamatan perdana Observatorium Rubin. Hasil pengamatan langsung yang menghasilkan data akurat astronomi ranah waktu yang tentunya dalam resolusi tinggi. Bayangkan data seperti apa yang akan kita terima ketika Teleskop Simonyi memulai survei 10 tahunnya untuk memindai langit selatan. Rangkaian cerita yang menyingkap kisah objek-objek di alam semesta.
Satu hal pasti, Teleskop Simonyi yang dilengkapi kamera LSST akan jadi mesin penemu yang menyingkap objek-objek di Alam Semesta.
Asteroid Yang Berputar Cepat
Asteroid bukan sekedar bongkahan batu yang mengembara mengitari Matahari. Rotasi dan orbit asteroid menyimpan catatan masa lalu terkait pembentukannya miliaran tahun lalu, tentang tabrakan yang pernah terjadi, komposisi, serta bagaimana gravitasi dan waktu membentuk ulang arsitektur Tata Surya selama miliaran tahun.
Asteroid yang berputar cepat diduga mengalami percepatan akibat tabrakan dengan asteroid lain di masa lalu. Dan bisa jadi merupakan pecahan dari objek yang lebih besar. Selain itu efek radiasi Matahari juga bisa mempercepat rotasi asteroid secara perlahan dalam rentang waktu jutaan tahun.
Selain itu, rotasi yang demikian cepat memberi indikasi kalau asteroid tersebut sangat kokoh alias punya keterikatan atau lem yang sangat kuat supaya tidak terjadi fragmentasi alias tidak hancur tercerai berai.
Mengapa demikian?
Sebagian besar asteroid merupakan tumpukan puing yang terbentuk dari batuan kecil dan debu yang bergabung dan terikat oleh gravitasi. Akan tetapi massa asteroid yang kecil menghasilkan gravitasi yang juga lemah alias keterikatan puing-puing batuan penyusun ini tidak kuat alias longgar. Karena itu, jika asteroid ini berputar terlalu cepat, dengan kerapatan yang renggang maka asteroid akan dengan mudah tercerai berai.
Asteroid yang berputar cepat dan menyelesaikan satu putaran dalam 2,2 jam tidak akan hancur. Dan ini jadi batas tercepat laju rotasi asteroid, khususnya di wilayah Sabuk Utama Asteroid. Jika ada yang berputar kurang dari 2,2 jam alias lebih cepat lagi, maka asteroid tersebut punya struktur yang lebih kokoh, dengan ukuran lebih besar dan materi pembentuk yang lebih kuat.
Asteroid Ultra Cepat
Dari 1900 asteroid baru dalam pengamatan perdana Observatorium Vera Rubin, ada 76 asteroid dengan laju rotasi yang menarik. Di antaranya ada 16 asteroid berputar super cepat antara 13 menit dan 2,2 jam. Ke-19 asteroid dengan rotasi super cepat ini memiliki ukuran lebih panjang dari lapangan sepakbola.
Yang lebih mencengangkan ada tiga asteroid yang satu putaran kurang dari lima menit! Andaikan kita bisa menjejakkan kaki di sana, itu artinya satu hari di asteroid ini sudah berlalu hanya dalam waktu kurang dari 5 menit!
Tapi ada satu asteroid yang luar biasa cepat. Perkenalkan, 2025 MN45. Asteroid ultra cepat yang hanya butuh kurang dari dua menit untuk menyelesaikan satu putaran. Lebih tepatnya, 2025 MN45 hanya butuh 1,8 menit untuk berotasi dan ukurannya hampir 7 kali ukuran lapangan sepakbola. Kombinasi ini menempatkan 2025 MN45 sebagai asteroid dengan laju rotasi paling cepat untuk asteroid dengan diameter lebih dari 500 meter.
Para astronom menduga kalau 2025 MN45 memiliki komposisi batuan yang padat dan kokoh sehingga tidak hancur saat berputar secepat itu. Hal ini tentu mengejutkan karena asteroid biasanya tersusun oleh batuan-batuan kecil dan debu yang bergabung akibat interaksi gravitasi saat masa pembentukan Tata Surya.
Sebagian asteroid yg berotasi cepat merupakan bagian dari Objek Dekat Bumi. Bukan berarti objek seperti ini tidak ada di Sabuk Utama Asteroid. Lokasi sabuk utama yang jauh di antara Mars dan Jupiter menyebabkan objek-objek kecil ini jauh lebih redup dan lebih susah untuk diamati.
Akan tetapi, kehadiran Observatorium Rubin menetapkan garis batas baru dalam pencarian asteroid berotasi cepat.
Hampir semua asteroid berputar sangat cepat yang ditemukan kali ini berada di Sabuk Utama Asteroid, dengan beberapa di antaranya berada di tepi luar sabuk. Hanya satu yang diidentifikasi berasal dari objek dekat Bumi. Lagi-lagi kehadiran Observatorium Rubi memecah rekor baru.
Selain 2025 MN45, asteroid lainnya yang laju rotasinya kurang dari 5 menit adalah: 2025 MJ71 dengan kecepatan rotasi 1,9 detik, 2025 MK41 (3,8 menit), 2025 MV71 (13 menit), dan 2025 MG56 (16 menit). Ke-5 asteroid ini diameternya beberapa ratus meter dan masuk dalam kelompok Objek Dekat Bumi sub-kilometer yang berotasi sangat cepat.
Pencapaian Observatorium Rubin
Hasil ini jelas melahirkan pertanyaan tentang asteroid-asteroid ini. Bagaimana pembentukannya dan mekanisme seperti apa yang membuat asteroid ini tetap utuh jika komposisinya merupakan gabungan batuan-batuan kecil.
Pengamatan perdana Observatorium Rubin berhasil menetapkan batas pencapaian baru dalam dunia astronomi, khususnya pengamatan landas Bumi. Hasil pengamatan perdana memperlihatkan kemampuan Observatorium Rubin untuk menghasilkan data yang lebih banyak di masa depan. Pemetaan yang lebih baik untuk objek-objek di Tata Surya, sejarah tabrakan, serta informasi pembentukan Tata Surya dan evolusinya, bisa jadi cerita baru untuk melengkapi kisah yang sudah kita ketahui saat ini.
Asteroid yang berputar terlalu cepat adalah teka-teki yang sangat berharga, karena ia memaksa kita menguji ulang asumsi lama. Jika banyak asteroid adalah rubble pile, mengapa ada yang besar namun tetap utuh di bawah putaran secepat itu? Apakah beberapa asteroid ternyata lebih “padat batuan” daripada dugaan kita? Atau adakah proses lain yang memperkuat mereka? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini adalah alasan mengapa “rekor” tidak berhenti pada angka. Rekor sering kali adalah lampu sorot yang menandai ada bagian dari cerita Tata Surya yang belum kita pahami.















Tulis Komentar