langitselatan
Beranda » Mengintip Keriuhan di Pusat Bimasakti

Mengintip Keriuhan di Pusat Bimasakti

Pernahkah kalian penasaran seperti apa sih pusat Galaksi Bimasakti kita? Para astronom sangat tertarik dengan daerah ini. Saking tertariknya, mereka membuat salah satu foto terbesar pusat Bimasakti. Ayo, kita selidiki!

Distribusi gas molekuler di Zona Molekuler Pusat di area pusat Bimasakti. Kredit: ALMA(ESO/NAOJ/NRAO)/S. Longmore et al. Latar belakang: ESO/D. Minniti et al.
Distribusi gas molekuler di Zona Molekuler Pusat di area pusat Bimasakti. Kredit: ALMA(ESO/NAOJ/NRAO)/S. Longmore et al. Latar belakang: ESO/D. Minniti et al.

Pusat galaksi kita berisi awan-awan gas dan debu yang rapat. Awan-awan ini melingkungi lubang hitam supermasif dan sebagian bintang-bintang paling masif di Bimasakti, yang cepat menghabiskan bahan bakarnya sehingga sering terjadi ledakan supernova di sana. Bagaikan blender, gravitasi kuat dari lubang hitam dan kekuatan supernova mengaduk-aduk gas hingga bergolak.

Kok bintang bisa terbentuk di lingkungan seganas ini?

Petunjuk jawabannya berada di garis-garis halus yang menghubungkan gumpalan-gumpalan besar seperti yang terlihat di foto. Foto warna-warni ini memperlihatkan golakan gas di pusat Bimasakti. Di daerah yang disebut Zona Molekuler Pusat (CMZ) ini, gas mengalir menuju kolam materi, dan terkumpullah bahan-bahan pembentukan bintang.

Interaksi gas ini tidak bisa dilihat mata manusia. Untungnya, Teleskop Atacama Large Milimeter/submilimeter Array (ALMA) dapat mendeteksinya. ALMA menunjukkan pada kita kisah penciptaan di alam semesta berkat kepekaannya pada gas dan debu yang jauh lebih dingin daripada bintang.

Dengan bantuan ALMA, para astronom dapat membuat foto CMZ yang belum pernah ada sebelumnya. Foto ini melingkupi area dengan lebar lebih dari 650 tahun cahaya. Seumpama kalian membingkainya di langit, kira-kira selebar deretan tiga Bulan purnama. Dengan menggabungkan foto dari berbagai pengamatan, para astronom membuat peta pergerakan gas dengan mendetail. Peta ini menunjukkan berbagai molekul gas menuju bintang-bintang baru dan ditarik lubang hitam yang kelaparan.

Mengamati pusat Bimasakti juga membantu astronom memahami bagaimana galaksi-galaksi lain berkembang di masa lalu. Seperti CMZ, alam semesta dini sangatlah gaduh: gas dan debu rapat dan berdesak-desakan. Bila kita mengetahui bagaimana bayi-bayi bintang di CMZ terbentuk, kita juga dapat membayangkan bagaimana galaksi-galaksi pertama dapat terbentuk dan menjadi seperti yang kita lihat sekarang.

Fakta Keren


Avatar photo

Ratna Satyaningsih

menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister astronomi di Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung. Ia bergabung dengan sub Kelompok Keahlian Tata Surya dan menekuni bidang extrasolar planet khususnya mengenai habitable zone (zona layak-huni). Ia juga menaruh minat pada observasi transiting extrasolar planet.

Tulis Komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini