Berburu Planet Tatooine Yang Hilang

Para astronom kali ini mempelajari pasangan bintang untuk berburu planet Tatooine. Diduga, ada banyak planet seukuran Bumi di Alam Semesta.

 Ilustrasi exoplanet di bintang ganda dan planet tampak hilang di balik cahaya bintang yang sangat terang.  Kredit: International Gemini Observatory/NOIRLab/NSF/AURA/J. da Silva
Ilustrasi exoplanet di bintang ganda dan planet tampak hilang di balik cahaya bintang yang sangat terang. Kredit: International Gemini Observatory/NOIRLab/NSF/AURA/J. da Silva

Untuk para penggemar Star Wars, kamu tentu ingat indahnya pemandangan saat dua matahari terbit dan terbenam di planet Tatooine, planet asalnya Luke Skywalker. 

Planet Seukuran Bumi

Pada kenyataannya, exoplanet seukuran Bumi sepertinya lebih umum dibanding yang diperkirakan sebelumnya. Dan seperti Tatooine, bisa jadi exoplanet tersebut berada di antara dua bintang atau dalam sistem bintang ganda.

Para astronom menemukan kalau sebagian planet seukuran Bumi masih belum ditemukan. Diperkirakan, setengah dari bintang-bintang di Alam Semesta merupakan bintang ganda. Jika demikian, sepertinya sistem bintang ganda menjadi tempat persembunyian yang baik untuk planet-planet seukuran Bumi yang hilang atau belum ditemukan. 

Kok bisa?

Ada alasan bagus untuk itu. Planet yang mengorbit bintang ganda memang tidak mudah ditemukan. Salah satu cara menemukan planet yang mengitari bintang lain adalah metode transit. Dengan cara ini, para astronom mengamati perubahan cahaya bintang ketika planet melintas di depan bintang. Kalau ada bintang kedua di sistem tersebut, perubahan kecerlangan bintang saat planet melintas akan sulit teramati. 

Misi pengamatan transit milik NASA yaitu TESS telah berhasil menemukan 131 exoplanet dan lebih dari 4000 kandidat exoplanet yang menunggu untuk dikonfirmasi.

Tapi bagaimana jika masih ada lebih banyak planet seukuran Bumi yang belum ditemukan? Dan bagaimana jika ternyata planet-planet itu memang mengitari bintang ganda?

Planet di Bintang Ganda

Untuk menjawab keingintahuan mereka, para astronom melakukan pengamatan dengan teleskop kembar di Observatorium Gemini. Tujuannya untuk mencari tahu apakah bintang induk dari planet yang ditemukan TESS merupakan bintang tunggal atau justru bintang berpasangan.

Tebak apa yang mereka temukan. 

Dari ratusan bintang dekat yang diamati TESS dan diklasifikasi berpotensi punya planet, para astronom menemukan 73 bintang merupakan bintang ganda. Bintang-bintang ini tampak seperti bintang terang yang jauh tapi ternyata merupakan bintang ganda. Ini karena bintang ganda dekat seringkali tampak seperti bintang tunggal dan tidak tampak terpisah saat diamati, kecuali dengan teleskop resolusi tinggi. 

Setelah mengetahui hal ini, para astronom melakukan perbandingan ukuran planet yang biasanya mengitari bintang tunggal dan bintang ganda. Rupanya, bintang tunggal biasanya dikelilingi oleh planet dengan berbagai ukuran, sementara pada bintang ganda, hanya planet-planet raksasa yang mengorbit. 

Karena itu, para astronom menduga bahwa ada banyak planet seukuran Bumi di bintang ganda yang masih belum terdeteksi. Sangat mungkin kalau planet kecil seperti Bumi tidak terdeteksi karena tenggelam dalam kecerlangan pasangan bintang ganda. 

Penemuan menarik lainnya, bintang ganda yang pasangan bintangnya berdekatan memiliki kemungkinan lebih kecil untuk memiliki planet dibanding bintang ganda yang jarak bintangnya berjauhan. Diperkirakan, planet tidak terbentuk di sekeliling bintang terlalu dekat dengan bintang pasangan atau tetangganya.

Untuk mengonfirmasi penemuan ini, para astronom masih harus mempelajari lebih lanjut dengan teknik berbeda. Tapi, penemuan ini merupakan langkah penting untuk memahami bagaimana planet seperti Tatooine terbentuk dan berevolusi dalam hidupnya!

Fakta Keren

Seperti nama yang diberikan, Observatorium Gemini memiliki dua teleskop yakni teleskop Gemini Utara di Mauna Kea, Hawai’i pada ketinggian 4200 di atas permukaan laut atau setengah ketinggian Gunung Everest! Yang satu lagi teleskop Gemini Selatan di Cerro Pachón, Pegunungan Andes, pada ketinggian 2700 meter. Bersama-sama, kedua teleskop ini bisa melihat seluruh langit!


Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang yang dikembangkan dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...