Cincin Miring di Sistem Bintang Bertiga GW Orionis

Ada sekelompok bintang mencabik-cabik piringan materi di sekelilingnya sampai melengkung dan miring!

Ilustrasi sistem GW Orionis dengan piringan materi yang miring dan melengkung. Kredit: ESO/L. Calçada, Exeter/Kraus et al.
Ilustrasi sistem GW Orionis dengan piringan materi yang miring dan melengkung. Kredit: ESO/L. Calçada, Exeter/Kraus et al.

Penemuan ini tentu saja menarik perhatian karena pada umumnya, piringan gas dan debu yang membentuk planet itu mengelilingi bintang pada bidang orbitnya, alias datar.

Contoh yang paling kita kenal tentu saja Tata Surya. Untuk mudahnya, bayangkan sebuah piring raksasa yang memuat semua isi Tata Surya. Hampir semua planet akan menyentuh piring karena Tata Surya sangat datar. Yang kemiringannya agak tajam hanya Merkurius (7º) dan Pluto (17,2º).

Tapi, tidak selalu seperti itu.Piringan akresi bisa saja tidak tepat sejajar dengan bidang orbit.

Rangkaian Peristiwa Kekerasan

Supaya Tata Surya bisa miring, harus ada sesuatu yang mengubah bentuknya. Tentu saja supaya planet-planet di Tata Surya sekarang punya kemiringan yang cukup tajam, perlu ada peristiwa yang luar biasa dasyat untuk mengubah semuanya.

Tapi, ini bisa saja terjadi jauh sebelum planet terbentuk, ketika sistem masih berupa piringan gas dan debu raksasa.

Rupanya, para astronom berhasil menemukan sistem seperti itu. Sistem ini terdiri dari 3 bintang, dan di sekelilingnya ada piringan gas dan debu yang seharus menjadi lokasi dimana planet-planet terbentuk. Piringan gas dan debu ini berputar mengitari ketiga bintang seperti cincin. Mirip seperti cincin pada planet Saturnus.

Nah, dalam pengamatan kali ini, para astronom menemukan cincin bagian dalam pada piringan gas dan debu tersebut tidak sejajar bidang orbit.

Kok bisa? Rupanya ketiga bintang ini sangat kuat sampai bisa mengoyak cincin gas dan debu yang sedang berputar mengelilinginya. Akibatnya, piringan materi tersebut posisinya jadi miring dan melengkung!

Sistem yang diteliti ini adalah GW Orionis yang berada 1300 tahun cahaya di rasi Orion. Sistem ini terdiri dari tiga bintang dan piringan raksasa yang terkoyak di sekeliling bintang. Dari pengamatan selama lebih dari 11 tahun sejak tahun 2008, para astronom bukan hanya menemukan piringan materi yang miring dan melengkung. Mereka juga menemukan kalau orbit ketiga bintang pada sistem GW Orionis tidak sejajar satu sama lainnya.

Mengapa bisa demikian?

Dari hasil simulasi, para astronom menemukan bukti efek pengoyakan oleh bintang. Jadi, interaksi gravitasi antara bintang yang tidak berada pada bidang orbit yang sama bisa melengkungkan sekaligus mengoyak piringan gas dan debu di sekelilingnya. Ketidaksejajaran orbit bintang juga menyebabkan cincin materi terpecah menjadi beberapa cincin berbeda. Dan kuatnya gravitasi ketiga bintang memberi efek paling nyata pada cincin bagian dalam. Cincin ini jadi melengkung dan miring.

Rumah Planet?

Ketika sebuah bintang lahir, sisa gas dan debu yang tidak terpakai akan membentuk piringan di sekelilingnya. Dalam piringan inilah butiran debu bertumbukan dan bergabung membentuk objek lebih besar dan lebih besar lagi. Cincin gas dan debu yang dikenal sebagai piringan protoplanet inilah yang jadi lokasi di mana planet terbentuk.

Cincin bagian dalam GW Orionis yang miring ternyata mengandung 30 massa Bumi debu. Materi sebanyak ini cukup untuk membentuk planet meskipun sampai saat ini belum ditemukan indikasi planet yang terbentuk pada cincin miring GW Orionis. Tapi, dari penelitian para astronom, planet bisa saja terbentuk pada cincin gas dan debu yang miring mengitari lebih dari satu bintang ini. Jika ada planet yang terbentuk, orbitnya juga akan sangat miring.

Fakta keren

Para astronom menduga, dari seluruh planet yang ada di alam semesta, lebih dari setengah berada pada sistem bintang yang setidaknya beranggotakan dua bintang!


Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang yang dikembangkan dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.