Aries, Domba Berbulu Emas di Langit Malam

Rasi Aries digambarkan sebagai Kambing/Domba Jantan berbulu emas, dan merupakan salah satu rasi bintang yang berada di ekliptika dan dilintasi Matahari.

Aries dalam mitologi

Ilustrasi Aries dan Musca Borealis yang dimuat dalam Urania Mirror dan diterbitkan tahun 1825. Kredit: Sidney Hall.
Ilustrasi Aries dan Musca Borealis yang dimuat dalam Urania Mirror dan diterbitkan tahun 1825 di London. Kredit: Sidney Hall.

Dalam mitologi Yunani, dikenal dua orang anak raja, yang bernama Phrixus dan Helle. Mereka adalah putra-putri raja Theba yang bernama Athamas, dan ibunya adalah Nephele, Dewi Awan. Kedua anak ini hidup bersama ayah dan ibu tiri yang bernama Ino. Ino sangat benci dan iri hati pada kedua anak raja ini. Sebabnya tidak begitu diketahui, namun dongeng kuno mengatakan bahwa Ino sebenarnya jatuh cinta pada Phrixus, anak tirinya itu.

Suatu ketika negara mereka mengalami berbagai bencana seperti kelaparan, gagal panen, dan penyakit menular.  Ketika orang bertanya ke Orakel (tempat ramalan / tempat mencari kehendak  para dewa), Orakel menjawab bahwa untuk meredakan semua bencana itu, kedua anak raja harus dikorbankan. Sumber lain menyatakan bahwa semua bencana tersebut disebabkan atau diprakarsai oleh Ino, untuk menyingkirkan Phrixus dan Helle. Ketika orang bertanya ke Orakel, ia menyuap orang yang diutus ke Orakel untuk berbohong dan berkata bahwa kedua anak raja harus dikorbankan.

Ketika Phrixus dan Helle dibawa ke Orakel untuk dikorbankan, tiba-tiba awan tebal menyelubungi mereka. Ibu mereka, Dewi Awan Nephele, menyembunyikan mereka dengan awan dan menyediakan kambing/domba jantan berkulit emas untuk mereka tunggangi dan melarikan diri. Diceritakan bahwa mereka menunggangi domba ini melintasi lautan.

Dalam perjalanan, Helle jatuh ke dalam laut. Phrixus berusaha keras menyelamatkan adiknya, namun akhirnya adiknya mati tenggelam. Laut tempat jatuhnya Helle dinamai Hellespontus, atau Lautan Helle, yang kini dikenal dengan nama Selat Dardanella.

Phrixus berhasil selamat dan mendapat perlindungan di daerah Colchis. Di sana ia diterima dengan tangan terbuka oleh Aietes, anak Dewa Matahari Helios. Sebagai ucapan syukur, Phrixus mengorbankan domba/kambing berkulit emas yang telah menolongnya itu kepada Jupiter/Zeus. Kulit domba emas tersebut diberikan kepada Aietes, yang menggantungkannya di pohon khusus yang dijaga oleh seekor naga. Kisah lain menceritakan bahwa Phrixus akhirnya dibunuh oleh Aietes yang menginginkan kulit domba tersebut untuk dirinya sendiri. Karena itu, raja-raja Yunani bersekutu untuk membalaskan dendam dan merebut kembali kulit domba emas tersebut ke pangkuan Yunani. Peristiwa ini akan dikenal sebagai Petualangan Argonaut di bawah pimpinan pahlawan Yunani Iason. Kisah ini akan diceritakan lebih detail pada pembahasan Rasi Argo Navis.

Domba/kambing jantan berkulit emas yang membawa Phrixus dan Helle inilah yang akhirnya menjadi dasar penamaan Rasi Aries.

Aries dalam Peta Bintang

Untuk mempermudah mengenali bintang-bintang di langit, para pengamat membuat pola yang mudah untuk diingat. Salah satunya adalah pola domba / kambing jantan yang dikenal sebagai Aries. Tapi, pola ini baru muncul pada kisaran tahun 1350 – 1000 SM dalam lempeng tanah liat Babilonia yang dibuat pada dinasti Kassite. Aries sebagai zodiak ditemukan pada lempeng MUL.APIN yang dibuat pada kisaran 1100 – 700 SM. Dalam lempeng ini Aries dikenal sebagai MULLÚ.HUN.GÁ, yang digambarkan sebagai petani ataupun Dumuzi, Dewa Penggembala.

Aries baru benar-benar diterima sebagai salah satu zodiak pada era Klasik dan digambarkan sebagai domba jantan yang berjongkok dan menghadap Taurus. Aries pertama kali dikatalogkan dalam buku 7 dan 8 Almagest yang disusun Ptolemy pada abad ke-2, sebagai salah satu rasi bintang dari 48 rasi. Dalam Almages, Alpha Arietis atau Hamal digambarkan sebagai moncong domba jantan. Akan tetapi. ilustrasi rasi Aries tidak dimasukkan dalam ilustrasi 48 konstelasi Ptolemy, dan dianggap sebagai bintang tanpa bentuk dan bintang di atas kepala.

Dalam peta bintang modern, Aries merupakan salah satu dari 88 rasi yang ditetapkan oleh IAU dan batas rasi bintang secara resmi ditetapkan pada tahun 1930 oleh Eugène Delporte. Rasi Aries dalam konstelasi modern juga mencakup rasi Musca Borealis yang pertama kali ditetapkan pada tahun 1612. Lokasi Musca Borealis ini di utara Aries dengan anggota bintang  33 Arietis, 35 Arietis, 39 Arietis, dan 41 Arietis.  Setelah dilebur jadi satu konstelasi, Aries ditetapkan memiliki luas area 441 derajat persegi dengan rasi Cetus, Perseus, Pisces, Taurus dan Triangulum, sebagai konstelasi tetangganya.

Berburu Aries di Langit

Peta langit Aries. Kredit: IAU dan Sky & Telescope

Aries juga dikenal sebagai Titik Aries yang merupakan titik perpotongan ekuator dan ekliptika langit, sekaligus menjadi titik awal Musim Semi karena dilintasi Matahari saat Vernal ekuinok sejak 2200 SM. Akan tetapi, pergeseran sumbu rotasi Bumi menyebabkan titik Aries bergeser dan sejak tahun 70 SM, titik lintasan Matahari saat Vernal Ekuinok bergeser ke rasi Pisces dan akan kembali ke rasi Aries dalam 23000 tahun lagi.

Rasi Aries merupakan konstelasi di langit utara yang bisa diamati oleh pengamat pada lintang 90º LU sampai 60º LS. Konstelasi domba jantan ini merupakan rasi bintang yang cukup redup dan terdiri dari 4 bintang yakni, Hamal (alpha Ariestis), Sheratan (beta Arietis), Mesarthim (gamma Arietis) yang merupakan bintang ganda, dan Bharani (41 Arietis).  Keempat bintang ini memiliki kecerlangan 2, 2,64, 3,86, dan 3,6 magnitudo.

Aries, si domba jantan ini akan berada di atas horison saat malam hari mulai tanggal 1 Januari – 10 April dan dilanjutkan 9 Mei – 31 Desember. Tanggal 10 April menandai hari terakhir Aries tampak saat senja sebelum akhirnya menghilang dalam terangnya Matahari. Ini terjadi ketika Matahari berada di Aries sampai awal Mei saat perlahan Aries kembali tampak di ufuk timur sebelum Matahari terbit.

Waktu terbaik untuk pengamatan rasi Aries adalah Oktober – Desember saat Aries tampak sejak Matahari terbenam sampai fajar menyingsing. Memasuki Januari, rasi Aries sudah berada di meridian pengamat sehingga hanya teramati sampai tengah malam. Aries akan semakin menuju ke barat di bulan Februari.

Untuk menemukan Aries di langit, carilah garis bengkok yang menghubungkan tiga bintang yang berada tidak jauh dari gugus bintang Pleiades. Untuk memudahkan menemukan Aries, maka tarik garis yang membentuk segitiga antara Algol di Perseus Almak di Andromeda dan Hamal di Aries.

Dari asterisma bujur sangkar di rasi pegasus, tarik garis imajiner dari bintang Alpheratz ( alpha Andromeda / delta Pegasi) dan Algenib (gamma Pegasi) untuk membentuk segitiga sama kaki dengan Hamal. Cara lain, temukan bintang Aldebaran (alpha Tauri) di rasi Taurus, kemudian tarik kurva imajiner ke arah Pleiades dan terus melewati gugus 7 bintang itu ke arah selatan menuju bintang terang Hamal di Aries.

Objek – Objek di Aries

Tidak ada objek Messier yang bisa ditemukan di Aries akan tetapi ada beberapa galaksi redup di konstelasi ini seperti galaksi spiral NGC 722 di arah tenggara Sheratan bersama galaksi kecil NGC 770 yang jadi pasangannya. Galaksi spiral lainnya yang ada di Aries adalah NGC 673, NGC 691 dan NGC 697. Selain itu terdapat juga galaksi NGC 1156, pasangan NGC 678 dan NGC 680, NGC 877, Arp 276 dan NGC 821. Seluruh galaksi yang ada di Aries ini memiliki kecerlangan antara 12,8 – 13,7 magnitudo karena itu hanya bisa diamati dengan teleskop.

Untuk hujan meteor Aries merupakan tuan rumah untuk hujan meteor Daytime Arietid (Arietid Siang Hari) dari tanggal 22 Mei – 24 Juni, dan berasal dari serpihan komet kelompok Marsden. Selain itu hujan meteor Mei Arietid juga muncul dari rasi Aries pada siang hari dari tanggal 4 Mei – 6 Juni. Selain itu, masih ada dua hujan meteor siang lainnya yakni Epsilon Arietid yang berlangsung dari 25 April – 27 Mei dan Autumn Arietid atau Arietid Musim Gugur dari 7 September sampai 27 Oktober.

Di rasi Aries juga terdapat bintang Teegarden’s yang jaraknya 12 tahun cahaya dan bisa ditemukan di sudut barat daya rasi Aries dan hanya bisa dilihat dengan teleskop. Selain itu, ada beberapa bintang di konstelasi ini yang memiliki planet seperti HIP 14810 yang memiliki 3 planet raksasa, HD 12661 dengan 2 planet, dan HD 20367 dengan 1 planet.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Ni Nyoman Dhitasari

Ni Nyoman Dhitasari

Berlatar belakang pendidikan Teknik Lingkungan dan musik (piano), Dhita telah jatuh cinta pada dunia Astronomi sejak kecil, terutama Astronomi Budaya. Astronomi telah menjadi hobby utamanya hingga saat ini. Dhita adalah seorang guru piano dan pianis di Denver, Amerika Serikat, dan sempat aktif sebagai tenaga sukarela di Denver Museum of Nature and Science (DMNS), bagian Space Odyssey.