Supermoon? Cuma Bulan Purnama!

Tahun baru 2018 akan dimulai dengan kehadiran Bulan Purnama Perigee yang lebih terkenal dengan julukan Supermoon atau Bulan Super. 

Supermoon atau Bulan Purnama Perigee tanggal 3 Desember 2017. Kredit: Avivah Yamani / langitselatan
Supermoon atau Bulan Purnama Perigee tanggal 3 Desember 2017. Kredit: Avivah Yamani / langitselatan

Tak hanya satu bulan purnama perigee. Di awal tahun 2018, masyarakat yang penasaran melihat Bulan Purnama saat berada pada posisi terdekat dengan Bumi bisa melihat 2 bulan purnama di bulan Januari.

Yang pertama pada tanggal 2 Januari dan yang kedua di akhir bulan Januari yakni 31 Januari. Meskipun digadang-gadang sebagai Bulan super, ketika Bulan mencapai fase Purnama pada tanggal 31 Januari, Bulan sudah 26 jam meninggalkan perigee meskipun jaraknya masih dekat sehingga piringan Bulan pun masih tampak lebih besar dari biasanya. Jika diurutkan dengan Bulan Super tanggal 3 Desember 2017 lalu, maka bisa dikatakan ada trio Bulan Super yang bisa diamati secara berurutan.

Fenomena Bulan Purnama yang bertepatan dengan posisinya di titik perigee atau titik terdekat dengan Bulan memang menarik ketingintahuan masyarakat. Ide bahwa Bulan tampak lebih besar dan lebih terang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Hal ini dapat dipahami karena Bulan bisa dengan mudah dilihat tanpa perlu tambahan instrumen seperti teleskop. Modal utamanya hanya mata kita.

Meskipun punya daya tarik tersendiri, fenomena Bulan super bukanlah sesuatu yang istimewa di kalangan astronom. Untuk yang konsisten mengamati Bulan Purnama dan memotretnya, akan tampak perbedaan ukuran piringan Bulan. Bagi astronom, fenomena tersebut hanya Bulan Purnama Perigee yang bisa terjadi beberapa kali dalam satu tahun.

Supermoon si Bulan Super

Fenomena Supermoon atau si Bulan Super baru muncul dan jadi hype mulai tahun 2011 saat Bulan Purnama Perigee 19 Maret 2011 yang bertepatan dengan Bulan berada pada jarak terdekat dari Bumi yakni 356.577 km.  Jarak tersebut merupakan jarak terdekat yang dicapai Bulan sejak 8 Maret 1993 saat Bulan Purnama terjadi pada jarak 356.528 km.

Kala itu, beredar kabar di dunia maya, bahwa Bulan Super akan menyebabkan terjadinya bencana alam yang sangat dahsyat, mulai dari badai besar, gempa Bumi sampai dengan letusan gunung berapi.  Tentu saja kabar ini tidak benar. Tapi di kalangan astrolog hubungan itu memang ada dan istilah supermoon atau Bulan Super sudah dikenal sejak tahun 1979 saat diperkenalkan oleh Richard Nolle dalam majalah HOROSCOPE.

Menurut Richard Nolle, Bulan Super merupakan Bulan Purnama ataupun Bulan Baru yang terjadi saat Bulan sedang atau akan berada (dalam rentang 90%) pada jarak terdekatnya dari Bumi (perigee). Dengan kata lain, ketika Matahari – Bumi – Bulan sedang berada pada satu garis dengan Bulan berada pada jarak terdekat dengan Bumi, akan terjadi tekanan geofisik yang menyebabkan efek “bencana pada Bumi”. Selain itu, Bulan Super tidak hanya terjadi sekali dalam setahun. Setidaknya ada 4-6 Bulan Super yang terjadi dalam satu tahun.

Semenjak itu, istilah Supermoon semakin populer di masyarakat setiap Bulan Purnama akan atau sedang atau baru saja mencapai titik terdekat dengan Bumi.

Bulan Perigee

Perbandingan Bulan Purnama Perigee dan Bulan Purnama Apogee. Kredit: langitselatan
Perbandingan Bulan Purnama Perigee dan Bulan Purnama Apogee. Kredit: langitselatan

Ketika Bulan Purnama terjadi berbarengan dengan Bulan berada pada jarak terdekat dari Bumi, maka muncul juga iming-iming untuk melihat Bulan Purnama yang tampak lebih besar dari biasanya, atau lebih tepatnya 14% lebih besar dan 30% lebih terang dari Bulan Purnama saat berada di titik terjauh.

Bulan Purnama Perigee atau Bulan Baru Perigee merupakan peristiwa Bulan Purnama dan Bulan Baru yang berdekatan dengan posisi Bulan saat berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi (Perigee).

Mengapa bisa terjadi perbedaan jarak setiap purnama?

Bulan purnama terjadi setiap bulan dalam rentang 29,5 hari ketika Bulan kembali pada posisi yang sama setelah mengelilingi Bumi. Setiap 27,3 hari, Bulan akan kembali pada posisi terdekatnya dengan Bumi dalam orbitnya yang lonjong atau elips. Orbit Bulan yang lonjong ini menyebabkan Bulan bisa berada lebih dekat atau lebih jauh dari Bumi saat mengelilingi Bumi.

Ada kalanya Bulan berada pada jarak terdekat dengan Bumi yang disebut perigee, dan dilain waktu Bulan justru berada pada jarak terjauh atau apogee. Akan tetapi, ketika Bulan berada pada jarak terdekat atau terjauh dari Bumi, ia tidak selalu berada pada jarak yang tepat sama. Ada variasi jarak perigee maupun apogee yang dilalui Bulan sepanjang tahun. Untuk jarak perigee, Bulan bisa berada antara 356.400 sampai dengan 370.400 km dari Bumi.

Jika jarak Bulan dalam satu tahun diurutkan, maka kita bisa mengetahui kapan Bulan berada paling dekat dengan Bumi. Dan ketika Bulan mengalami fase purnama saat perigee, maka inilah yang disebut Bulan Purnama Perigee dan Bulan akan tampak lebih besar.

Bulan Super 2 Januari 2018

Untuk Bulan Purnama Perigee 2 Januari 2018, Bulan akan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 356.565 km pada pukul 04:49 WIB dini hari. Bulan akan memasuki fase purnama pada pukul 09:24 WIB dan bisa diamati di langit setelah Matahari terbenam sore harinya.

Jika dibandingkan dengan jarak rata-rata Bulan 384.400 km, itu artinya Bulan mendekat 27.835 km. Apabila kita amati di langit malam, piringan Bulan akan tampak 7,2% lebih besar dibanding rata-rata. Atau, jika dibandingkan dengan Bulan saat berada pada jarak terjauh dari Bumi, piringan Bulan akan tampak ~12% lebih besar.

Bulan Super 31 Januari 2018

Pada tanggal 30 Januari 2018, Bulan akan kembali berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 358.994 km pada pukul 16:58 WIB. Pada tanggal 31 Januari, Bulan memasuki fase purnama pada pukul 20:27 WIB dan sejak Matahari terbenam pukul 18:15 WIB, Bulan sudah memasuki fase gerhana. Saat purnama, Bulan sudah bergerak meninggalkan titik perigee dan berada pada jarak 360.196 km.

Jika dibandingkan dengan jarak rata-rata Bulan 384.400 km, itu artinya Bulan mendekat 25.406 km. Apabila kita amati di langit malam, maka seharusnya piringan Bulan akan tampak 6,2% lebih besar dibanding rata-rata.  Atau, jika dibandingkan dengan Bulan saat berada pada jarak terjauh dari Bumi, piringan Bulan akan tampak 11% lebih besar.

Tanggal 31 Januari 2018, kita bisa mengamati Gerhana Bulan Total atau yang dikenal sebagai Bulan darah karena Bulan tampak kemerahan.  Fenomena menarik lainnya, Bulan Purnama 31 Januari 2018 merupakan Bulan Purnama kedua di bulan Januari sehingga dikenal dengan nama Blue Moon atau Bulan Biru.

Jadi khusus untuk Bulan Purnama 31 Januari 2018, diberi julukan Blue Blood Super Moon a.k.a Bulan Super Darah Biru (terjemahan bebas -red).

Seberapa Besar Bedanya?

Perbedaan 7% dan 12% itu sangat kecil dan tidak akan dapat dikenali tanpa ada perbandingan. Bahkan antara Bulan Super tanggal 2 Januari dan 31 Januari pun perbedaannya hanya 1%. Bulan tidak akan tampak luar biasa besar di langit malam. Tapi, jangan salah kaprah dengan ilusi yang muncul saat Bulan berada di ufuk dan tampak lebih besar.

Karena itu fotografer yang rutin memotret Bulan Purnama akan dapat membandingkan hasil saat Bulan Purnama Perigee dan Bulan Purnama Apogee (Bulan Mini). Kalau ingin tahu perbedaan penampakan piringan Bulan Purnama saat berada di titik perigee dan apogee, potret Bulan Purnama Perigee tanggal 2 & 31 Januari 2018 dan Bulan Purnama Apogee 28 Juli 2018, kemudian bandingkan!

 

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.