Fenomena Langit Bulan Oktober 2017

Kita akan kehilangan Merkurius dan Jupiter tapi Venus dan Saturnus masih tetap berjaya dan Mars semakin terang menghiasi fenomena langit bulan Oktober 2017.

Planet

Merkurius. Paruh pertama Oktober, Merkurius akan menghilang di balik Matahari. tidak tampak dari pengamat Bumi. Mulai pertengahan Oktober, Merkurius akan muncul di langit senja dan berkonjungsi dengan Jupiter. Planet terdekat dengan matahari ini masih sangat rendah di ufuk barat dengan ketinggian 2º dan perlahan-lahan menanjak naik meninggalkan Matahari di arah barat sampai akhir Oktober.

Venus. Bintang Kejora masih merajai langit timur kala fajar menyingsing di sepanjang bulan Oktober. Venus bisa diamati sebelum Matahari terbit dan tampak cerlang dengan kecerlangan -3.8 magnitudo. Planet ini akan tampak mengembara dari rasi Leo ke Virgo, dan berpapasan dekat dengan Mars pada tanggal 6 Oktober dan bertemu Bulan tanggal 18 Oktober. Di sepanjang bulan Oktober, Venus akan tampak semakin rendah di ufuk timur.

Mars. Planet merah ini cukup redup dengan kecerlangan 1,8 magnitudo. Mars akan tampak di ufuk timur sebelum fajar selama bulan Oktober dan berpapasan dengan si bintang fajar pada tanggal 6 Oktober dan menanjak naik di langit timur meninggalkan Venus yang semakin rendah di ufuk. Sama seperti Venus, Mars juga bergerak dari rasi Leo ke Virgo selama Oktober.

Jupiter. Si planet gas raksasa yang selama berbulan-bulan merajai langit akhirnya harus turun tahta. Jupiter masih tampak di ufuk barat setelah Matahari terbenam di paruh pertama Oktober, sebelum kemudian menghilang dari langit senja mulai pertengahan Oktober.

Saturnus. Planet cincin ini akan tampak sepanjang bulan Oktober dan bisa ditemukan setelah Matahari terbenam di arah Barat Daya. Saturnus akan tampak cerlang dengan kecerlangan 0,5 magnituo di kaki Ophiuchus di antara rasi Scorpius dan Sagittarius. Planet yang terkenal karena cincin indahnya ini akan bertemu Bulan pada tanggal 24 Oktober.

Uranus & Neptunus. Bagi yang punya teleskop, kedua planet es raksasa ini akan tampak sepanjang bulan Oktober setelah Matahari terbenam sampai jelang fajar. Uranus akan bertemu Bulan pada tanggal 6 Oktober sedangkan Neptunus akan bertemu Bulan pada tanggal 3 dan 30 Oktober. Kedua planet ini tidak dapat diamati dengan mata tanpa alat. Jadi, siapkan teleskop dan cari lokasi yang cukup gelap.

Bulan

Awal bulan Oktober akan ditandai dengan kehadiran Bulan cembung besar menuju purnama.

Fase Bulan untuk Oktober 2017. Kredit: Wicak Soegijoko

6 Oktober. Bulan Purnama. Bulan akan berada di atas cakrawala sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba. Kesempatan baik untuk mengamati Bulan dan kawah-kawahnya. Setelah fase purnama, Bulan secara perlahan akan bergeser waktu terbitnya semakin malam.

9 Oktober. Bulan di perigee. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 366.855 km.

12 Oktober. Bulan Perbani Akhir. Bulan terbit tengah malam dan terbenam siang hari. Bulan tampak dari tengah malam sampai jelang fajar.

20 Oktober. Bulan Baru. Waktunya pengamatan. Langit akan gelap tanpa cahaya Bulan. Saat yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep Sky atau Bima Sakti. Pada saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Jadi Bulan dan Matahari akan tampak sepanjang hari. Pengamat bisa menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan.

25 Oktober. Bulan di titik apogee. Bulan mencapai jarak dari Bumi pada jarak 405.154 km

28 Oktober. Bulan Perbani Awal. Bulan akan tampak sejak Matahari terbenam sampai tengah malam saat Bulan terbenam. Para pengamat langit bisa menikmati langit bebas cahaya Bulan mulai tengah malam sampai jelang dini hari.

Hujan Meteor

21 Oktober – Hujan Meteor Orionid

Hujan Meteor Orionid 20-21 Oktober 2017 pukul 00:01 WIB. Orionid bisa diamati sejak Orion terbit sampai fajar. Kredit: Star Walk
Hujan Meteor Orionid 20-21 Oktober 2017 pukul 00:01 WIB. Orionid bisa diamati sejak Orion terbit sampai fajar. Kredit: Star Walk

Hujan meteor Orionid yang berasal dari sisa debu komet Halley akan menyambangi kita di bulan Oktober. Tepatnya dari 2 Oktober sampai 7 November. Sesuai namanya, hujan meteor Orionid akan tampak datang dari rasi Orion si Pemburu dan mencapai puncak pada tanggal 21 Oktober. Saat malam puncak, pengamat bisa menikmati 25 meteor per jam yang melaju dengan kecepatan 66 km/detik. Rasi Orion akan terbit setelah pukul 21:00 WIB dan Bulan sudah terbenam sejak pukul 19:02 WIB. Artinya, tidak ada cahaya Bulan yang menghalangi perburuan hujan meteor Orionid.

Peristiwa

6 Oktober — Venus — Mars

Pasangan Venus dan Mars jelang fajar pada tanggal 6 Oktober 2017 pukul 05:00 WIB. Kredit: Star Walk
Pasangan Venus dan Mars jelang fajar pada tanggal 6 Oktober 2017 pukul 05:00 WIB. Kredit: Star Walk

Konjungsi terjadi tanggal 5 Oktober saat keduanya terpisah 0,1º di langit timur sebelum Matahari terbit. Mars terbit pukul 04:15 WIB disusul Venus 1 menit kemudian. Keduanya bisa diamati di timur dengan ketinggian 19º saat Matahari terbit.

9 Oktober — Konjungsi Superior Merkurius

Konjungsi superior Merkurius. Kredit: langitselatan
Konjungsi superior Merkurius. Kredit: langitselatan

Merkurius akan mengalami konjungsi superior, saat dimana Merkurius dan Bumi mengalami papasan terjauh dan Matahari berada di antara Merkurius dan Bumi.  Merkurius tidak akan tampak bagi pengamat karena planet terdekat Matahari ini akan terbit sebelum matahari terbit dan terbenam sebelum Matahari terbenam.

10 Oktober — Bulan — Aldebaran

Pasangan Bulan & Aldebaran saat baru terbit di ufuk timur tanggal 9 Oktober 2017 pukul 22:00 WIB. Kredit: Star Walk
Pasangan Bulan & Aldebaran saat baru terbit di ufuk timur tanggal 9 Oktober 2017 pukul 22:00 WIB. Kredit: Star Walk

Bulan dan bintang Aldebaran di rasi Taurus akan tampak berpasangan sangat dekat, hanya terpisah 1º di langit pada tanggal 10 Oktober dini hari. Keduanya akan terbit beriringan tanggal 9 Oktober malam, didahului Bulan pada pukul 21:11 WIB dan disusul Aldebaran 4 menit kemudian. Pasangan Bulan dan Aldebaran bisa diamati sampai fajar menyingsing.

15 Oktober — Bulan — Regulus

Pasangan Bulan & Regulus saat baru terbit di ufuk timur tanggal 15 Oktober 2017 pukul 03:00 WIB. Kredit: Star Walk
Pasangan Bulan & Regulus saat baru terbit di ufuk timur tanggal 15 Oktober 2017 pukul 03:00 WIB. Kredit: Star Walk

Bulan berjumpa dengan Regulus atau alpha Leonis dan tampak terpisah 7º di pagi hari sejak Bulan terbit pada pukul 01:56 WIB dan disusul Regulus pukul 02:28 WIB. Pengamatan bisa dilakukan sampai Matahari terbit.

18 Oktober — Bulan — Venus

Pasangan Bulan & Venus 18 Oktober 2017 pukul 05:00 WIB. Kredit: Star Walk
Pasangan Bulan & Venus 18 Oktober 2017 pukul 05:00 WIB. Kredit: Star Walk

Konjungsi Bulan sabit dan Venus terjadi sebelum fajar menyingsing akan bisa diamati sejak kedua benda langit tersebut terbit beriringan hanya berselang 3 menit. Bulan akan terbit lebih dahulu pada pukul 04:17 WIB disusul Venus pukul 04:20 WIB.

18 Oktober — Jupiter — Merkurius

Pasangan Jupiter dan Merkurius sesaat setelah matahari terbenam tanggal 18 Oktober 2017 pukul 17:50 WIB. Kredit: Star Walk
Pasangan Jupiter dan Merkurius sesaat setelah matahari terbenam tanggal 18 Oktober 2017 pukul 17:50 WIB. Kredit: Star Walk

Planet raksasa dan planet terderkat Matahari akan tampak berpasangan di langit senja, sesaat setelah Matahari terbenam. Keduanya hanya terpisah 1º dan bisa ditemukan di rasi Virgo, dengan kecerlangan -1,7 magnitudo untuk Jupiter dan -0,9 magnitudo untuk Merkurius. Keduanya cukup sulit dan bahkan tidak dapat diamati karena terlalu rendah di ufuk barat setelah Matahari terbenam pada pukul 17:44 WIB. Kedua planet terbenam pukul 18:05 WIB.

20 Oktober — Oposisi Uranus

Oposisi Uranus. Kredit: langitselatan
Oposisi Uranus. Kredit: langitselatan

Planet es raksasa ini akan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada tanggal 20 Oktober, dan tampak lebih terang dan lebih besar. Pada saat oposisi, Uranus sejajar dengan Bumi dan Matahari, dan Bumi berada di antara keduanya. Karena itu, planet yang juga biru ini bisa ditemukan di ufuk timur setelah Matahari terbenam.

Uranus akan berada pada jarak 18,91 AU dengan diameter sudut 3,7 detik busur dan tampak redup dengan kecerlangan 5,7 magnitudo. Uranus berada pada ambang kemampuan mata kita untuk melihat obyek redup. Siapkan teleskop untuk melihat Uranus yang akan tampak sejak Matahari terbenam sampai fajar menyingsing di rasi Pisces.

24 Oktober — Bulan — Saturnus

Pasangan Bulan dan planet Saturnus setelah Matahari terbenam tgl 24 OKtober 2017 pukul 19:00 WIB. Kredit: Star Walk
Pasangan Bulan dan planet Saturnus setelah Matahari terbenam tgl 24 OKtober 2017 pukul 19:00 WIB. Kredit: Star Walk

Setelah Matahari terbenam, Bulan sabit dan Saturnus akan tampak berpasangan di langit malam. Keduanya sudah cukup tinggi ketika Matahari menghilang di ufuk barat. Bulan sabit muda hanya terpisah 3,7º dari planet cincin tersebut sampai keduanya terbenam pukul 21:21 WIB (Saturnus) dan 21:26 WIB (Bulan).

27 Oktober — Konjungsi Jupiter

Konjungsi Jupiter. Kredit: langitselatan
Konjungsi Jupiter. Kredit: langitselatan

Jupiter akan mencapai posisi terdekatnya dengan Matahari dan terjauh dari Bumi. Planet raksasa ini hanya terpisah 1º dari Matahari dan berada lebih jauh 6,43 AU dari Bumi. Seandainya kita bisa melihat Jupiter, maka planet gas raksasa ini akan tampak sangat kecil dan redup.

Rasi Bintang & Bimasakti

Pertengahan Oktober menjadi waktu terbaik untuk bisa menikmati keindahan langit malam saat Bulan menuju fase Bulan Baru. Bimasakti dapat diamati membentang dari Timur Laut ke Barat Daya.

Setelah Matahari terbenam, ada Rigel Kentaurus di rasi Centaurus, Vega di rasi Lyrae, Antares di rasi Scorpius, dan Altair di rasi Aquila yang dapat dijadikan panduan dalam pengamatan.

Tengah malam, ada Sirius di rasi Canis Major, Procyon di rasi Canis Mayor, Betelguese dan Rigel di rasi Orion, Aldebaran di rasi Taurus, Archenar di rasi Eridanus, Capella di rasi Auriga dan Canopus di rasi Puppis yang dapat dijadikan panduan dalam pengamatan.

Peta Bintang 1 Oktober 2017

Peta Bintang 15 Oktober 2017

Kampanye Langit Gelap

11 — 20 Oktober — Kampanye Globe At Night
Kampanye Globe At Night atau Kampanye langit gelap untuk membangun kesadaran akan pentingnya langit gelap dan efek dari polusi cahaya diadakan dari 11 – 20 Oktober. Pengamat diajak untuk mengamati rasi bintang yang sudah ditentukan dari berbagai lokasi untuk mengenali bintang yang bisa dilihat di rasi tersebut. Berapa banyak bintang yang bisa dikenali akan menjadi indikasi tingkat polusi cahaya di area tersebut. Pengamatan pengamatan rasi Cygnus, sedangkan pengamat di langit selatan bisa mengamati rasi Grus.

Pengamat bisa menggunakan modul yang sudah disediakan untuk melakukan identifikasi bintang dan melihat tingkat polusi cahaya di lokasinya.

Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.