LEAP: Manusia dan Langit

Artikel 10 Besar Lomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: Hastia Fathsyadira (Kab. Bandung – Jawa Barat)

Pantai mengingatkan kita kepada ruang. Butirannya yang halus, ukurannya yang sama, terbentuk oleh abrasi dan erosi, dan dipengaruhi juga oleh gelombang juga Bulan dan Matahari yang jauh dari Bumi. Pantai juga mengingatkan kita pada waktu, bahwa dunia ini jauh lebih tua dibandingkan spesies manusia.

Biasanya, segenggam pasir terdiri atas sekitar 10.000 butiran pasir. Jumlah yang sama dengan jumlah bintang yang kita lihat pada malam hari. Namun, sebenarnya jumlah bintang yang kita lihat itu masih sebagian kecil dari total jumlah bintang yang ada di alam semesta. Bintang-bintang yang kita lihat pada malam hari hanyalah sekedar pengetahuan dasar tentang bintang-bintang terdekat dari Bumi kita. Alam semesta kita ini tidak terhitung kayanya. Jumlah total bintang di alam semesta ini lebih besar dibandingkan dengan total jumlah pasir yang ada di Bumi.

Mengagumkan sekaligus mengerikan bukan? Bagaimana menurutmu ketika kamu mengetahui bahwa alam semesta ini sangat, sangat, sangat luas dari perkiraanmu? Apakah kamu akan penasaran? Apakah kamu akan kagum? Atau, apakah kamu akan ketakutan? Kalau kalian bisa merasakan ketiga hal itu, perasaanmu itu adalah benar.

Sayangnya, tidak banyak orang yang mempedulikan tentang hal ini. Mereka hanya mengetahui alam semesta itu hanya sekedar perkenalan tentang Tata Surya yang mereka pelajari di bangku sekolah. Banyak orang di Bumi ini yang hanya peduli pada kehidupannya saja di Bumi. Mereka hanya duduk terdiam dan fokus pada kehidupannya di Bumi, tanpa mau memikirkan tentang alam semesta ini.

“Apa sih pentingnya memikirkan alam semesta? Padahal masih banyak hal-hal penting di dunia tempat tinggal ini dibandingkan luar angkasa di sana!”

Ya, itu benar. Hal yang benar bagi orang-orang yang menganggap bahwa dunia ini sempit. Orang-orang yang hanya mampu memikirkan dan mengurus kehidupannya di Bumi.

Tapi, ayolah. Apakah kalian menyadari bahwa kita ini bagaikan debu yang tinggal di bola raksasa yang mengelilingi sebuah bintang? Di Tata Surya ini ada banyak bola raksasa dan lebih besar dari bola raksasa tempat kita tinggal. Bintang kita lebih besar dibandingkan dengan bola-bola raksasa yang ada di Tata Surya ini. Di luar Tata Surya ini juga terdapat banyak bintang-bintang dan bola raksasa yang mengelilinginya. Galaksi kita terdiri dari milyaran bintang. Kita memerlukan waktu sekitar 230 juta tahun untuk satu kali mengelilingi galaksi kita. Di alam semesta ini terdapat berjuta-juta galaksi. Dan bayangkan, bagaimana jika benar bahwa alam semesta ini tidak hanya satu, melainkan ada banyak (multiverse)?

Bayangkan, sebenarnya kita ini lebih kecil dari sebutir debu jika dibandingkan alam semesta yang luas ini. Masalah-masalah yang kita hadapi di bumi ini tidak ada bandingannya dengan luas alam semesta ini. Sesekali, ubahlah cara pandangmu tentang alam semesta yang kamu anggap tidak penting ini. Alam semesta ini sangat besar, tidak ada bandingannya. Setelah kamu mulai untuk memikirkan alam semesta, maka tidak ada cara untuk berhenti memikirkannya. Hal ini akan terus terbayang di pikiranmu.

Baiklah, ayo kita mulai.

Sekarang, kita akan memulai perjalanan kita ‘menjelajahi antariksa’. Hal yang pertama untuk memulainya adalah dengan duduk santai di halaman belakang rumahmu, atau di atap rumahmu, atau dimanapun tempat sepi yang bisa membuatmu santai sambil menyaksikan langit malam yang cerah.

Lihatlah langit malam yang dipenuhi bintang-bintang itu. Bintang apa saja  yang bisa kamu lihat malam itu? Apakah kamu mengetahui nama bintang-bintang itu? Capella, Betelguese, Rigel, Sirius, Pollux, Canopus, Bellatrix, dan masih banyak lagi. Indah bukan?

Nah, sekarang, kamu sedang menikmati malam yang indah itu. Bisa jadi akan terasa semakin nyaman jika ditemani oleh segelas susu coklat hangat atau ditemani oleh orang yang kau cintai.

Kemudian, semakin lama kamu akan mulai berpikir. Semakin kamu berpikir, akan timbul banyak pertanyaan dalam benakmu. Pertanyaan apakah yang muncul?

Mungkin kalian akan memiliki banyak pertanyaan. Mungkin beberapa diantaranya misalkan ; seluas apakah alam semesta itu? Ada berapa jumlah bintang di langit? Kenapa kita hidup di Bumi? Atau, mungkin pertanyaan yang lebih kompleks lagi. Ada apa saja di luar sana?

Yang pertama adalah kita harus mengetahu definisi dari alam semesta itu terlebih dahulu. Apakah itu alam semesta (universe)?

Alam semesta adalah seluruh ruang dan waktu, segala sesuatu, seluruh materi yang ada di dalamnya berada dalam satu ruang. Kita hidup di alam semesta ini. Menurut para ilmuwan, luas alam semesta ini mencapai 10 milyar tahun cahaya. Luas yang tak terbayangkan oleh manusia.

Alam semesta dimulai dari Big Bang atau Ledakan Besar. Sebenarnya, bukan ‘ledakan’ secara harfiah. Dalam kata ‘ledakan’ di sini maksudnya adalah proses pengembangan. Alam semesta ini usianya sudah sekitar 13,7 miliar tahun sejak Big Bang dimulai, dan akan terus mengembang. Pada saat sebelum Big Bang, seluruh materi yang ada di alam semesta ini (seluruh bintang, galaksi, dan planet) ditempatkan dalam satu titik yang disebut singularitas.

Galaksi Bima Sakti. Hanya sebagian kecil dari alam semesta kita. Kredit: NASA
Galaksi Bima Sakti. Hanya sebagian kecil dari alam semesta kita. Kredit: NASA

Pada saat ini, kita tinggal di planet Bumi. Planet ketiga dari pusat Tata Surya kita –Matahari. Matahari yang kita miliki ini hanya bintang kecil dari galaksi kita. Galaksi kita hanya sebagian kecil dari alam semesta. Pada malam hari, mata kita bisa melihat ribuan bintang. Dan tahukah kamu, jumlah itu hanya sebagian kecil yang dapat kita amati di Bima Sakti. Kita hidup di salah satu lengan spiral Bima Sakti. Bintang-bintang yang kita lihat di langit malam itu hanya bintang-bintang di salah satu lengan spiral yang kita tinggali. Di dalam Bima Sakti, masih banyak bintang-bintang yang tidak kita amati dengan mata kita secara langsung.

Jumlah bintang-bintang di alam semesta berjumlah trilyunan. Bayangkan jika di seluruh bintang-bintang itu terdapat sebuah planet atau beberapa planet yang mengelilinginya. Menurutmu, hal apa yang ada di planet-planet itu?

Sekarang kamu mulai menyadari bahwa alam semesta itu lebih kompleks dibandingkan yang kamu kira. Kamu akan semakin penasaran. Kamu akan berniat untuk melihat apa saja yang diluar sana. Kamu berniat untuk mengamatinya. Dan akhirnya, akan timbul rasa dimana kamu berniat akan pergi ke atas sana dan mengungkap seluruh rahasia langit.

Sejak awal, manusia sudah ditakdirkan memiliki sifat rasa ingin tahu yang tinggi. Di antaranya, manusia ingin tahu apa yang ada di alam semesta kita. Pada saat itulah manusia mulai berpikir bagaimana caranya agar mereka bisa pergi ke atas sana dan mempelajari semua yang ada di sana.

Sebenarnya, manusia sudah mulai untuk mengeksplorasi alam semesta dari dulu. Para manusia ini memang belum bisa menjelajah antariksa pada saat itu, tetapi penemuan-penemuan mereka pada saat itu mempengaruhi misi penjelajahan antariksa pada masa kini. Mungkin mereka tidak menjelajah antariksa secara langsung, tetapi mereka ‘menjelajah’ langit dari Bumi.

Kira-kira, apa sih tujuan kita menjelajah antariksa?

Sebenarnya manusia mempunyai banyak tujuan ketika akan menjelajahi antariksa. Di antaranya adalah untuk bisa mengembangkan ilmu astronomi, bisa mempelajari struktur dari benda-benda langit, untuk bisa mengamati semua hal yang ada di angkasa.

Para penemu pada masa dulu itu diantaranya ada Galileo, Copernicus, William Herschel, dan masih banyak lagi. Para penemu itu dapat mengamati langit tanpa menggunakan alat apapun. Dari sanalah penjelajahan alam semesta oleh manusia di mulai.

Diawali dengan Aristarkhos (310 SM – 230 SM), orang pertama yang mengusulkan model heliosentris Tata Surya, dimana Matahari adalah pusat alam semesta yang diketahui pada masa itu, dan bukan Bumi. Ia menyebutkan bahwa Bumi adalah sebagai benda luar angkasa dan lima benda (planet) luar angkasa lainnya mengelilingi Matahari. Sayangnya, ide tersebut tidak diterima dengan baik oleh masyarakat. Hampir 2.000 tahun kemudian, seseorang bernama Nicolaus Copernicus mengembangkan teori heliosentris Tata Surya dengan terperinci.

Satu abad kemudian, Galileo muncul sebagai orang pertama yang menggunakan teleskop. Ia juga merupakan pendukung Copernicus. Ia bukanlah orang pertama yang membuat teleskop, tetapi ia menyempurnakannya dan menggunakannya untuk kebutuhan ilmu astronomi. Ia juga menemukan empat satelit alami Jupiter yang ia namai Galilean Moons.

Selanjutnya, ada juga William Herschel yang menemukan planet Uranus. Berasama istrinya, Caroline Herschel, mereka membuat teleskop besar pertamanya. Selain itu, ia juga menemukan bulan-bulan Uranus yaitu Titania dan Oberon, serta bulan-bulan Saturnus, yaitu Enceladus dan Mimas.

Selain beberapa astronom di atas, masih banyak astronom lain yang ikut serta dalam ‘penjelajahan’ antariksa ini. Di antaranya ada Giovanni Cassini yang menemukan empat bulan Saturnus, Giuseppe Piazzi yang menemukan Ceres, Galle dan Le Verrier yang menemukan planet Neptunus, Asaph Hall yang menemukan Phobos dan Deimos, Clyde Tombaugh yang menemukan Pluto, dan masih banyak lagi astronom-astronom yang mengamati dan menemukan hal baru di alam semesta.

Seiring berjalannya waktu, manusia tidak hanya diam mengamati langit dari Bumi saja. Pada abad ini, manusia dari berbagai negara di dunia berinovasi dan mengembangkan teknologi mereka. Mereka berlomba-lomba untuk misi penjelajahan antariksa yang sesungguhnya.

Misi penjelajahan antariksa yang sesungguhnya dimulai pada abad ke-20. Diawali dengan benda pertama dari Bumi yang mencapai luar angkasa. Benda itu adalah Sputnik 1, yang artinya ‘Satelit 1’. Sputnik 1 merupakan benda yang berbentuk bola perak sebesar bola voli pantai yang dibekali antena radio. Satelit ini diluncurkan pada tanggal 4 Oktober 1957 oleh Uni Soviet dari Kosmodrom Baykonur, di RSS Kazakstan. Satelit ini mengorbit selama 92 hari dengan kecepatan 29.000 km/jam kemudian jatuh kembali ke atmosfer Bumi dan terbakar setelah melakukan perjalanan sejauh 70 juta km. Sputnik 1 berhasil memberi informasi yang berharga bagi para ilmuwan seperti ketebalan atmosfer atas dan informasi tentang ionosfer.

Wahana Sputnik 1. Kredit: NASA
Wahana Sputnik 1. Kredit: NASA

Setelah berhasil menerbangkan benda ke luar angkasa, manusia mencoba untuk menerbangkan makhluk hidup ke luar angkasa. Makhluk Bumi yang pertama ke luar angkasa adalah seekor anjing yang bernama Laika. Laika menjadi hewan pertama yang mengorbit Bumi serta makhluk hidup pertama yang tewas pada saat mengorbit pada 1957.

Makhluk hidup pertama berhasil diluncurkan. Kini giliran manusia yang pergi ke luar angkasa. Pada tanggal 12 April 1961, Yuri Alekseye vich Gargarin mencetak rekor sebagai manusia pertama yang terbang selama 108 menit ke luar angkasa dengan pesawat roket Vostok 1. Ia juga mendapat penghargaan Mahaputra dari Indonesia. Penghargaan itu diberikan pada Gargarin ketika Presiden Soekarno mengunjungi Soviet pada tahun 1961 itu.

Kemudian, manusia memulai misi penjelajahan antariksa lagi secara besar-besaran. Tidak mau kalah dari Uni Soviet,  NASA dari Amerika Serikat juga mengadakan proyek Apollo 11. Apollo 11 adalah misi luar angkasa berawak pertama yang berhasil membawa manusia ke Bulan dan kembali dengan selamat. Pada 16 Juli 1969, Apollo 11 diluncurkan dengan diawaki oleh Edwin Aldrin, Michael Collins, dan manusia pertama yang menginjakkan kaki di Bulan, yaitu Neil Armstrong. Pada tahun 21 Juli 1969, Neil Armstrong memijakkan sepatu kirinya di permukaan Bulan dan mengucapkan kalimat yang sangat terkenal yang dalam bahasa Indonesia artinya “Satu langkah kecil bagi [seorang] manusia. Satu lompatan besar bagi umat manusia”.

Tahukah kamu, benda buatan manusia apakah yang terjauh dari Bumi saat ini? Jawabannya adalah Voyager 1. Voyager 1 diluncurkan pada 5 September 1977. Voyager 1 membawa misi penjelajahan antarbintang, dimana Voyager 1 akan pergi sejauh mungkin, mengamati alam semesta, dan mengirim data ke Bumi untuk dipelajari manusia. Saat ini, Voyager 1 sudah berada di interstellar space atau ruang antarbintang.

Pada saat ini, kita sudah jarang mendengar tentang misi penjelajahan antariksa selanjutnya. Sekarang, beberapa orang tinggal di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) untuk mengamati ruang angkasa dan Bumi. Pada saat ini belum ada misi penjelajahan antariksa lagi.

Canggihnya teknologi pada masa kini membuat manusia di Bumi memiliki harapan. Tujuan manusia untuk manusia sudah mulai terlihat di depan mata. Selain tujuan itu juga ada tujuan yang unik yang mungkin dianggap mustahil bagi manusia masa kini. Di antaranya untuk kolonisasi angkasa, terraformasi planet, dan bahkan untuk mencari kehidupan lain selain di Bumi.

Kolonisasi angkasa adalah perencanaan dimana manusia akan tinggal di tempat di luar Bumi. Rencana ini dibuat dengan asumsi bahwa di masa depan Bumi ini akan rusak sehingga makhluk hidup yang ada di Bumi harus menyebar ke luar angkasa agar bisa hidup. Beberapa rancangan kolonisasi angkasa sedang dilakukan oleh NASA. Dengan adanya kolonisasi angkasa, makhluk Bumi akan tetap hidup dan akan menyebar di luar angkasa, sambil manusia mengamati dan mencari ilmu tentang alam semesta lebih dalam lagi.

Ada juga Terraformasi. Terraformasi artinya ‘membentuk Bumi’ adalah mengubah planet, Bulan, atau benda langit lainnya menjadi mirip dengan planet Bumi. Prosesnya yaitu mengubah atmosfer, suhu, permukaan, dan ekologi menjadi seperti Bumi sehingga bisa dihuni oleh manusia. Tetapi untuk bisa mewujudkannya, memerlukan mesin yang sangat canggih yang belum bisa dibuat manusia pada saat ini.

Banyak satelit-satelit canggih yang diluncurkan manusia ke luar angkasa untuk membantu pengamatan manusia. Salah satunya adalah teleskop Hubble. Hubble adalah teleskop raksasa yang mengorbit di atas Bumi. Teleskop Hubble sangat membantu manusia dalam pengamatannya.

Hasil pengamatan teleskop Hubble menunjukkan bahwa banyak planet di luar Tata Surya kita yang karakteristiknya memenuhi planet layak huni. Planet-planet tersebut ada yang mirip dengan Bumi, mengorbit bintang induknya dalam jarak yang memungkinkan bahwa di planet itu dapat dihuni.

Sistem Alpha Centauri adalah sistem bintang yang terdekat dari Bumi. Terdiri dari dua bintang yang saling mengelilingi, dan satu bintang katai merah yang bernama Proxima Centauri.

Proxima b adalah planet luar surya yang mengorbit dalam zona layak huni dari Proxima Centauri. Planet ini adalah planet luar terdekat dengan Tata Surya serta planet layak huni terdekat yang diketahui.

Ilustrasi Proxima b dengan bintang induknya Proxima Centauri. Kredit: Wikipedia
Ilustrasi Proxima b dengan bintang induknya Proxima Centauri. Kredit: Wikipedia

Karakteristik planet Proxima b sangat menarik. Planet tersebut berada di zona layak huni, yakni memiliki suhu permukaan yang ideal untuk air dalam bentuk cair bisa ada di permukaannya. Planet berbatu ini sedikit lebih besar ukurannya dibandingkan Bumi. Diamati dengan pergeseran Doppler, Proxima b memiliki massa 1,3 kali massa Bumi dan mengorbit pada jarak kurang lebih 7 juta kilometer dari Proxima Centauri.

Sejauh ini, Proxima b adalah kandidat planet pengganti Bumi. Menurutmu, apakah Proxima b berpotensi untuk dihuni? Apakah menurutmu ada kehidupan disana? Apakah yang akan kita temukan disana? Saat kita menatap planet ini, kira-kira apa yang akan membalas tatapan kita? Apa kamu masih tidak tertarik untuk pergi ke sana?

Ruang angkasa sangatlah misterius. Kita tidak tahu semua yang ada di alam semesta. Jika kita ingin memecahkan semua misteri yang ada di alam semesta ini, cara yang sangat cepat ialah pergi ke atas sana dan mencari tahu.

Di masa yang akan datang, manusia akan terus berusaha dan berkembang agar bisa mencapai impiannya pergi jauh ke atas. Saat ini, NASA sedang merencanakan misi kolonisasi manusia di Mars yang akan dilakukan sekitar beberapa tahun ke depan. Sebuah langkah awal yang cukup besar, dimana kita mulai bisa untuk bertahan hidup di planet lain.

Sekarang, kamu menyadari bahwa penjelajahan antariksa itu sangat penting. Kamu tidak harus memikirkan hidupmu di Bumi terus menerus. Sekarang, mulailah untuk berpikir secara luas. Hidupmu tidak hanya di Bumi. Siapa yang tahu, jika nanti manusia tidak ditakdirkan untuk mati di Bumi?

Nah, setelah kamu menatap langit malam itu, kamu tahu bahwa akan ada petualangan besar di masa depan. Mulai sekarang, jangan memikirkan hidupmu di Bumi terus menerus. Kita harus bisa menjadi bagian dari mimpi besar ini. Jika kita tidak bisa ikut dalam penjelajahan antariksa pada abad ini, setidaknya kita harus ikut berkontribusi dalam pengembangannya agar di masa depan nanti manusia bisa mewujudkan mimpinya untuk bisa menjelajah antariksa.

Menjelajah antariksa adalah hal penting, karena hubungan antara manusia dan langit tidak akan pernah ada batasnya.

Ditulis oleh

LEAP

LEAP

Lomba Esai Astronomi Populer (LEAP) yang diselenggarakan oleh langitselatan. 10 Terbaik akan kami tampilkan tulisannya di langitselatan dengan akun LEAP.

Avatar

Hastia Fathsyadira

Siswa SMAN 1 Margahayu.