fbpx
langitselatan
Beranda » Belahan Utara Bima Sakti yang Penuh Sesak

Belahan Utara Bima Sakti yang Penuh Sesak

Hampir seratus tahun lalu, tak peduli di mana pun posisimu di Bumi, kau bisa keluar pada malam hari dan memandang ribuan bintang berkelip di langit.

Peta belahan utara galaksi Bima Sakti dengan lebih dari 200 milyar bintang. Kredit: Hywel Farnhill, University of Hertfordshire
Peta belahan utara galaksi Bima Sakti dengan lebih dari 200 milyar bintang. Kredit: Hywel Farnhill, University of Hertfordshire

Hari ini, lampu-lampu listrik yang terang di kota-kota besar dan kota-kota kecil mengalahkan kebanyakan cahaya bintang, meninggalkan segelintir bintang paling terang saja yang terlihat. Dan dengan lebih dari setengah populasi dunia tinggal di kota saat ini, tiga dari empat orang tidak pernah mengalami keajaiban langit yang benar-benar gelap.

Jika kau mengunjungi sebuah taman terpencil pada suatu malam yang cerah, kau akan cukup beruntung jika bisa melihat jalur Bima Sakti yang berkilauan dan menakjubkan terbentang di langit. Ini adalah pemandangan galaksi tempat kita tinggal saat kita melihat ke arah cakramnya.

Karena Tata Surya kita terletak di tepi luar Bima Sakti, kita bisa memandang ke arah pusat Galaksi dan melihat hampir semua bintangnya (bersama sekian banyak awan gas dan debu kosmik).

Jika menggunakan mata saja, pasti sulit untuk mengenali setiap bintang di bagian Bima Sakti yang paling padat. Namun, dengan teleskop kita bisa melakukannya.

Dengan sebuah teleskop besar (dengan cermin berdiameter 2,5 meter), para astronom telah menyusun peta belahan utara Galaksi kita dengan luar biasa mendetail. Peta ini menandai posisi 219 juta bintang!

Fakta menarik:  Sebenarnya ada lebih dari 219 juta bintang di belahan utara Galaksi kita. Namun, peta baru tidak memuat bintang-bintang yang 1 juta kali lebih lemah daripada yang bisa dilihat dengan mata telanjang.

Sumber: Cross post Space Scoop Universe Awareness

 

Avatar photo

Maria M. Lubis

Alumnus Astronomi ITB, pegawai tetap Bos Kecil Sakya, dan penerjemah/editor buku fiksi freelance yg akhirnya mendapat jawaban mengapa harus belajar Astronomi.

Tulis Komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini