Elang Itu Telah Terbang Berpulang

Neil Alden Armstrong. Barangkali hampir semua orang di kolong langit ini pernah mendengar namanya khususnya bila dikaitkan dengan era perlombaan antariksa yang dipuncaki keberhasilan pendaratan manusia di Bulan. Pria bertampang kalem, tenang dengan sorot mata penuh selidik dan kalkulatif ini adalah orang pertama yang menapakkan kakinya di Bulan. Peristiwa bersejarah yang berlangsung pada 21 Juli 1969 pukul 09:56 WIB menempatkan kita semua memasuki sebuah era baru, dimana manusia tak lagi sekedar melihat mengamati Bulan dari kejauhan dan tak lagi hanya mengeksplorasi sebentuk planet berukuran sedang bernama Bumi saja.

Bersama dengan Edwin E. Aldrin Jr dan Michael Collins, pria kelahiran Wapakoneta, Ohio (AS) ini menjadi astronot misi antariksa Apollo 11 dan dibebani tugas khusus yang belum pernah terjadi dalam penerbangan-penerbangan antariksa sebelumnya, yakni mendarat di Bulan. Mereka dikukuhkan sebagai kru Apollo 11 sejak 23 Desember 1968 melalui keputusan Deke Slayton, pimpinan korps astronot AS, setelah melalui perdebatan hangat dan penelusuran ketat. Slayton juga menetapkan Armstrong menduduki posisi tertinggi dalam Apollo 11 yakni sebagai komandan misi, yang membawahi Aldrin (pilot modul bulan) dan Collins (pilot modul komando).

Namun siapa yang bakal melangkahkan kaki untuk pertama kali di Bulan baru bisa diputuskan pada Maret 1969 dalam pertemuan yang dihadiri Slayton, George Low, Bob Gilruth dan Chris Kraft. Armstrong terpilih sebab di antara ketiga astronot Apollo 11, ia memiliki ego paling rendah dan tidak mementingkan dirinya sendiri. Posisi Armstrong sebagai komandan misi, sehingga ia bakal duduk di kursi tengah di antara tiga kursi yang tersedia dalam kabin modul komando Apollo, juga menjadi salah satu pertimbangan. Sebab dengan demikian Armstrong lebih mudah mengakses modul bulan dibanding dua rekannya. Meski demikian pertimbangan ini tidak pernah dipublikasikan hingga 2001 silam. Keputusan inilah yang menentukan posisi mantan penerbang tempur Angkatan Laut AS, yang turut berpartisipasi dalam Perang Korea namun kemudian memilih pensiun dini dan beralih menjadi pilot uji pesawat-pesawat eksperimental NASA sebelum kemudian mendaftar sebagai astronot, dalam pentas sejarah peradaban manusia.

Gambar 1.
Neil Alden Armstrong dengan wajah cerah meski tak bisa menyembunyikan rasa lelahnya, usai acara jalan-jalan di Bulan yang bersejarah.
Sumber : NASA, 1969.

Maka sejarah pun bergulir. Wahana antariksa Apollo 11 pun disiapkan dengan modul komando diberi nama Columbia, mengikuti nama obyek imajiner yang dilontarkan meriam raksasa dari Florida dalam novel From Earth to Moon dari Jules Verne (1865). Mengikuti saran astronot Jim Lovell, maka modul bulan dinamakan Eagle, merujuk pada burung Bald Eagle yang menjadi lambang nasional AS. Profil burung ini pun muncul dalam emblem misi, rancangan Michael Collins, yang menggambarkan burung elang hendak mendarat di Bulan dengan Bumi nan kebiruan mengapung di latar belakang. Guna mengekspresikan bahwa pendaratan bersejarah ini bukanlah sekedar urusan AS semata, namun lebih dari itu adalah mewakili segenap manusia di dunia dengan peradabannya, maka baik Armstrong, Aldrin dan Collins sepakat tidak mencantumkan nama-namanya dalam emblem misi, sebagaimana tradisi dalam penerbangan antariksa AS.

Apollo 11 akhirnya mengangkasa dengan mulus pada 16 Juli 1969 di bawah dorongan amat kuat dari roket raksasa Saturnus 5, satu-satunya roket di Bumi yang sanggup menempatkan beban seberat 45 ton ke pintu gerbang orbit transfer Bumi-Bulan. Sejarah kemudian mencatat hampir semua tahap penerbangan berlangsung mulus sesuai yang direncanakan, sehingga modul bulan Eagle berisikan Armstrong dan Aldrin pun akhirnya mendarat dengan mulus pada 20 Juli 1969 waktu AS di Laut Ketenangan (Mare Transquilitatis), hanya 3 km dari garis ekuator Bulan. Enam jam kemudian Armstrong pun menapakkan kakinya di tanah Bulan yang halus mirip tepung sembari mengumandangkan kata-kata bersejarah itu,”That’s one small step for a man, one giant leap for mankind.” Tak lama kemudian Aldrin pun menyusul. Kegembiraan pun merebak dimana-mana, tidak hanya di AS, kala penduduk dunia menyaksikan tapak demi tapak kaki Armstrong dan Aldrin di Bulan melalui siaran televisi hitam putih. Saking gembiranya, Presiden Nixon segera menelpon dan berbincang dengan Armstrong yang sedang bersiap menancapkan bendera AS. Inilah percakapan telepon dengan jarak terjauh sepanjang sejarah.

Hanya 21,5 jam Armstrong dan Aldrin berada di Bulan dan selama waktu itu hanya 2,5 jam diantaranya mereka berdua bisa berjalan-jalan di Bulan untuk melakukan tugas-tugasnya, mulai dari memasang bendera AS, memasang seismometer (pencatat gempa Bulan), memasang cermin retroreflektor (guna mengukur jarak Bumi-Bulan secara sangat teliti menggunakan sinar laser dan teleskop khusus), mengumpulkan batu dan tanah Bulan, mencatat sejumlah fenomena menarik dan berjalan kaki hingga sejauh sekitar 100 meter sembari mencermati tekstur tanah Bulan. Namun semua tahu, sejarah baru telah tercipta. Maka tatkala ketiga astronot itu kembali ke Bumi pada 24 Juli 1969, popularitas segera mengiringi. Setelah harus menjalani karantina 21 hari sesuai peraturan guna mengeliminasi kemungkinan bakteri patogen (bila ada) yang terbawa dari antariksa dan khususnya dari Bulan, ketiga astronot pada umumnya dan Armstrong pada khususnya sontak segera meminta perhatian dunia, kemanapun mereka pergi. Apalagi Presiden Nixon telah menyiapkan penyambutan besar-besaran, mencakup parade di New York, Chicago dan Los Angeles serta tur dunia ke 25 negara sahabat lainnya.

Gambar 2.
Lokasi pendaratan modul bulan Eagle di Mare Transquilitatis. Nampak sisa modul (LM), kamera (camera), cermin retroreflektor (LRRR) dan seismometer Bulan (PSEP) dengan alur-alur memanjang diantaranya yang adalah jejak-jejak kaki Armstrong dan Aldrin di Bulan. Citra diambil oleh satelit Lunar Reconaissance Orbiter pada ketinggian 24 km pada resolusi 25 cm/pixel. Jarak antara LM dan kawah besar di sebelah kanannya adalah 50 meter.
Sumber : NASA, 2012.

Nama Armstrong demikian populer pun di Indonesia, negeri yang tak pernah dikunjungi Armstrong dalam rangkaian tur dunianya seiring transisi rezim Orde Lama menuju rezim Orde Baru yang brutal dengan tumbal sedikitnya setengah juta nyawa manusia. Namun di negeri ini dan secara umum demikian halnya di kawasan Asia Tenggara, kisah tentang Armstrong berubah warna demikian rupa sehingga barangkali bakal membuat Neil Armstrong sendiri tersenyum geli jika mendengarnya. Mulai dari kisah Armstrong mendengan azan di Bulan, kisah Armstrong menjadi Muslim, kisah Armstrong melintas di atas Makkah bersama wahana antariksanya dan menjumpai medan gravitasi nol hingga kisah Armstrong menemukan telur-telur ajaib di Bulan. Di sini juga kisah kebohongan pendaratan di Bulan, yang dianggap hanyalah bagian dari politik tipu muslihat AS di masa Perang Dingin (dengan salah satu cabang perangnya adalah perlombaan antariksa), tumbuh demikian suburnya dan dipercaya banyak orang.

Dengan segala popularitasnya itulah maka tak heran jika dunia demikian terpana kala manusia dengan nama besar ini berpulang pada Sabtu 25 Agustus 2012 waktu AS di RS Columbus, Ohio (AS) dalam usia 82 tahun 20 hari setelah bergulat melawan komplikasi pasca operasi jantung koroner 7 Agustus 2012 lalu. Armstrong berpulang tepat 43 tahun 35 hari pasca langkah kakinya yang bersejarah di Mare Transquilitatis. Tak hanya NASA dan lembaga-lembaga keantariksaan lainnya di berbagai penjuru, para pilot dan astronot di berbagai tempat, hingga para ilmuwan dan insinyur pada umumnya, namun publik secara umum pun mengekspresikan rasa duka dan kehilangannya dengan berbagai cara. Presiden Obama bahkan menyatakan rasa dukanya dengan menyebut Armstrong sebagai “…pahlawan besar AS, bukan hanya di masa kini, namun juga di sepanjang masa.”

Sang Elang kini akhirnya benar-benar terbang untuk berpulang kepada Penciptanya. Ia telah tiada. Namun langkah kakinya masih tercetak jelas di Bulan, hatta telah berselang 43 tahun silam. Demikian pula namanya, yang bakal abadi terpatri sepanjang masa, sebagai sosok pemberani yang membuka kunci menuju era baru peradaban manusia dalam melangkahkan kaki di bagian lain tata surya kita.

Ditulis oleh

Muh. Ma'rufin Sudibyo

Muh. Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan terus berusaha mencoba menjadi komunikator sains. Saat ini aktif di Badan Hisab dan Rukyat Nasional Kementerian Agama Republik Indonesia. Juga aktif berkecimpung dalam Lembaga Falakiyah dan ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula di Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), klub astronomi Jogja Astro Club dan konsorsium International Crescent Observations Project (ICOP). Juga sedang menjalankan tugas sebagai Badan Pengelola Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong dan Komite Tanggap Bencana Alam Kebumen.