fbpx
langitselatan
Beranda » Pendatang dari Luar Tata Surya

Pendatang dari Luar Tata Surya

Sebuah bintik cahaya kecil muncul di sisi kanan bawah medan pandang instrumen LASCO (Large Scale Coronagraph) C3 satelit SOHO (Solar and Heliospheric Observatory) pada 12 Juli 2012 pukul 09:08 WIB. Tak ada yang istimewa dari bintik kecil ini, yang magnitudo visualnya sekitar +2, kecuali bahwa ia mempunyai bentuk menyerupai ekor dengan arah menjauhi Matahari. Ya, bintik kecil ini sebenarnya adalah sebuah komet yang sedang menuju titik perihelionnya dalam perjalanannya mengedari Matahari. Yang membuatnya berbeda dibanding komet-komet lainnya yang pernah terpantau satelit SOHO adalah komet ini merupakan komet periodik. Inilah komet Machholz 1, komet berperiode 5,24 tahun yang mengedari Matahari dengan karakteristiknya yang aneh.

Komet Machholz 1 (dalam lingkaran) terpantau dalam instrumen LASCO C3 SOHO, pada 12 Juli 2012. Sumber : NASA, 2012.

Komet Machholz 1 merupakan komet ke-96 dalam katalog komet-komet periodik hingga saat ini. Komet ini pertama kali diamati oleh Donald E. Machholz, astronom amatir California (AS) dari puncak Pegunungan Loma Prieta pada 12 Mei 1986 pukul 3 dinihari waktu California, menggunakan binokular dengan lensa obyektif bergaris tengah 130 mm dan perbesaran 29 kali. Saat itu komet nampak sebagai bintik cahaya amat redup, dengan manitudo visual +11 atau hanya 15 kali lipat lebih terang dibanding Pluto. Berbeda dengan komet lainnya, bintik cahaya ini tidak menampakkan bentuk ekor. Sehari kemudian penemuan ini dikonfirmasi oleh astronom Charles Morris dan Alan Hale dalam pengamatan di dekat observatorium Gunung Wilson, California (AS), masing-masing menggunakan teleskop reflektor dengan cermin bergaris tengah 25 dan 20 cm. Profil orbit yang diperoleh memastikan komet ini belum pernah terlihat sebelumnya, sehingga merupakan komet baru yang selanjutnya dinamakan komet Machholz 1, sesuai nama penemunya.

Komet Maccholz 1 merupakan komet berperiode pendek, karena mengedari Matahari sekali setiap 5,28 tahun. Namun di antara komet-komet berperiode pendek lainnya, komet Machholz 1 adalah komet yang aneh, karena kemiringan sumbu orbitnya terhadap bidang edar Bumi mengelilingi Matahari (inklinasi) mencapai 60 derajat. Komet-komet berperiode pendek umumnya memiliki inklinasi kurang dari 10 derajat. Pun demikian dengan kelonjongan orbit (eksentrisitas), yang mencapai 0,96. Padahal komet-komet berperiode pendek lainnya umumnya kurang dari 0,3. Demikian lonjongnya orbit komet Machholz 1 sehingga perihelion (titik terdekat terhadap Matahari) hanya sebesar 18,6 juta km. Dengan demikian saat berada di perihelionnya komet Machholz 1 lebih dekat ke Matahari ketimbang planet Merkurius (jarak rata-rata ke Matahari 59 juta km). Sementara aphelionnya (titik terjauh terhadap Matahari) melambung hingga sejauh 886,2 juta km atau lebih jauh dibanding planet Jupiter (jarak rata-rata ke Matahari 780 juta km).

Komet Machholz 1 terpantau dalam instrumen LASCO C3 SOHO, pada 13 Juli 2012. Sumber : NASA, 2012.

Terkesan dengan keunikan orbitnya yang berbeda dibanding komet-komet sejenisnya, Observatorium Lowell, Arizona (AS) melakukan analisis spektroskopik terhadap komet Machholz 1, sebagai bagian dari penelitian jangka panjang untuk mengetahui komposisi penyusun komet sekaligus menyusun basis data tentangnya. Hasilnya, jumlah atom karbon dalam komet Machholz 1 ternyata jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan 150 komet lainnya. Dalam hal kelimpahan molekul sianogen (CNO) misalnya, kadar sianogen komet Machholz 1 adalah 72 kali lipat lebih rendah dibanding kadar rata-rata sianogend alam 150 komet lainnya.

Keunikan ini berujung pada sebuah dugaan berani : komet Machholz 1 mungkin tidak berasal dari sabuk Kuiper maupun awan komet Oort sebagaimana komet-komet lainnya yang telah diketahui hingga kini, namun berasal dari luar tata surya. Dengan kata lain, komet ini mungkin terbentuk di suatu tata surya non-Matahari dan oleh sebab tertentu terpaksa meninggalkan habitatnya untuk kemudian berkelana menyusuri dingin dan gelapnya ruang antar bintang. Lintasan perjalanan komet Machholz 1 membawanya bertemu dengan tata surya kita, sehingga langsung berada di bawah pengaruh gravitasi Matahari. Planet gas raksasa Jupiter juga ikut-ikutan memberikan pengaruhnya, sehingga kini komet Machholz 1 berada dalam kondisi resonansi orbital dengan Jupiter dengan nilai 9 : 4. Artinya, tiap kali Jupiter tepat 4 kali mengelilingi Matahari,secara bersamaan komet Machholz 1 telah tepat 9 kali mengelilingi Matahari pula. Jupiter pula yang secara berulang-ulang merubah profil orbit komet Maccholz 1. Misalnya pada 13 Mei 2008, saat komet mendekati Jupiter hingga sejauh 130 juta km. Gravitasi Jupiter membuat orbitnya berubah sehingga perihelionnya memendek 0,15 juta km dari semula sementara periodenya bertambah dari 5,24 tahun menjadi 5,28 tahun.

Komet Machholz 1 (dalam lingkaran) terpantau dalam instrumen LASCO C2 SOHO, pada 14 Juli 2012. Sumber : NASA, 2012.

Dengan perihelion teramat dekat ke Matahari, amat sulit untuk mengamati komet Machholz 1 lewat teleskop-teleskop di Bumi. Kesempatan terbaik datang dari teleskop antariksa, khususnya yang terpasang dalam armada satelit pemantau Matahari. Salah satunya satelit SOHO (Solar and Heliospheric Observatory), veteran pemantau Matahari hasil kolaborasi NASA dan ESA yang telah bertengger di orbitnya sejak akhir 1995. Komet Machholz 1 memasuki medan pandang instrumen teleskopik LASCO C2 dan C3 pada 1996, 2002, 2007 dan 2012.

Pada 2012 ini komet Machholz 1 memasuki medan pandang instrumen LASCO C3 satelit SOHO sejak 12 Juli 2012 hingga 17 Juli 2012 dengan perihelion dicapainya pada 14 Juli 2012 yang bisa disaksikan lewat instrumen LASCO C2. Komet nampak bergerak dari bagian kanan bawah medan pandang menuju bagian kiri atas. Meski pemandangan yang disajikannya tak sespektakuler komet-komet terang yang pernah terpantau SOHO sebelumnya, sebutlah seperti comet Lovejoy (C/2011 W3), namun amat mengesankan menyaksikan bagaimana sebentuk titik cahaya berekor bergerak dengan pasti melintas di dekat Matahari. Sekilas pandang, tak satupun menyangka bintik cahaya ini bukanlah benda langit yang lahir di dalam tata surya kita.

Muh. Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan terus berusaha mencoba menjadi komunikator sains. Saat ini aktif di Badan Hisab dan Rukyat Nasional Kementerian Agama Republik Indonesia. Juga aktif berkecimpung dalam Lembaga Falakiyah dan ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula di Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), klub astronomi Jogja Astro Club dan konsorsium International Crescent Observations Project (ICOP). Juga sedang menjalankan tugas sebagai Badan Pengelola Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong dan Komite Tanggap Bencana Alam Kebumen.

3 komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini