Pasang Surut Pada Bintang Jauh

Tau kan fenomena pasang surut yang ditimbulkan Bulan pada Bumi? Fenomena yang sama juga tampak terjadi pada permukaan bintang jauh sebagai respons dari gangguan gravitasi planet yang mengorbit dirinya.

Anomali Orbit Planet WASP-18b

Exoplanet WASP 18b menyebabkan terjadinya pasang surut yang besar pada bintang induknya. Kredit : C.Carreau/ESA

Planet yang diketahui mengorbit bintang WASP 18 di rasi Pheonix menyebabkan pasang surut yang besar pada bintangnya karena ia memiliki ukuran 10,43 kali massa Jupiter dan berada terlalu dekat dengan bintang induknya si WASP 18 yakni pada jarak 0,02 SA. Planet tersebut juga diketahui mengorbit WASP 18 hanya dalam waktu kurang dari 1 hari.

Planet WASP-18b tersebut erada pada jarak 100 parsecs dari Matahari dan ditemukan pada tahun 2009 melalui metode transit. Ia pertama kali menampilkan dirinya saat melintas di antara pengamat di Bumi dan bintang induknya dan menyebabkan sang bintang berkedip.  Para astronom kemudian melakukan konfirmasi keberadaan sang planet melalui pendeteksian pergeseran Dopler pada cahaya yang datang dari WASP-18, dimana si gravitasi si planet “mendorong” sang bintang menjauh dan mendekat dari Bumi.

Yang menjadi pertanyaan adalah orbit planet WASP-18b menjadi teka teki yang menarik untuk dipecahkan. Dalam kasus planet yang berada sangat dekat dengan bintang induknya, gaya pasang yang ditimbulkan cukup besar sehingga mengubah orbitnya dari ellips menjadi lingkaran. Untuk orbit yang dekat, pasang yang ditimbulkan akan mengambil energi keluar dari bagian yang nonsirkular (tidak lingkaran) di orbit dan membuang energi itu ke bintang atau planet sebagai panas.

Saat ini data Doppler menunjukkan kalau planet yang mengorbit WASP-18 memiliki orbit yang agak ellips mirip seperti Neptunus.

Pergeseran Gravitasi
Anomali pada orbit planet itu kemudian coba dijelaskan oleh para astronom. Orbit planet WASP-18b diyakini berbentuk lingkaran. Pergeseran Doppler yang muncul pada cahaya bintang-lah yang menyebabkan orbit itu tampak ellips dan bentuk itu disebabkan oleh pasang surutnya permukaan bintang sebagai akibat dari efek pasang surut yang disebabkan oleh planet.

Ketika permukaan bintang mengalami pasang terhadap pengamat, spektrumnya bergeser ke arah biru dan ketika ia mengalami surut spektrum bergeser ke arah merah. Keberadaan sistem yang ekstrim ini akan menjadi uji coba terbaik bagi teori pasang surut.
Dari semua planet yang ada, planet yang mengeliling WASP-18 inilah yang menimbulkan pasang surut terbesar bagi bintangnya. Perhitungan dari data pergeseran Doppler menunjukkan pasang surut yang terjadi di permukaan bintang adalah 30 meter per detik, sehingga dapat dikenali oleh instrumen yang ada sekarang.

Tahun lalu, para astronom melaporkan kalau efek pasang surut planet yang menyebabkan bintang HAT-P-7 menonjol ( memiliki bulge ) memberikan perubahan kecerlangan yang bergantung pada sisi bintang yang diamati. Tapi jika tim astronom yang meneliti WASP-18 ini benar, WASP-18 merupakan sistem pertama dimana para astronom mengamati secara langsung pasang dan surut permukaan bintang sebagai akibat efek pasang surut yang ditimbulkan planet.

Phil Arras, astronom dari University of Virginia di Charlottesville dan David Anderson, astronom  dari  Keele University di Staffordshire, Inggris akan melakukan pengamatan tambahan untuk mengkonfirmasi ide pasang surut tersebut. Menurut Arras, analisa ulang secara detil dari data akan memperlihatkan tanda yang memisahkan gerakan pasang surut dari orbit yang ellips.

Sumber : Nature

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.