Teramatinya Hilal Termuda Hilal Sya’ban 1431H

Pada Tanggal 12 Juli yang baru lalu, atau pada penanggalan Islam, sebagai awal Sya’ban 1431 H, sebuah tim pengamat Hilal dari University Malaya, berhasil melakukan perekaman hilal termuda dalam kategori perekaman Hilal Digital.

Disebut sebagai hilal termuda, karena pada saat itu, Bulan baru berusia 16 jam, dengan sudut elongasi (sudut yang memisahkan Bulan – Matahari), sebesar 8.5 derajat. Pengamatan dilakukan di lokasi Teluk Kemang, Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia, dan merupakan pemecahan rekor pada kateogori perekaman hilal dengan metode pencitraan mempergunakan kamera.

Citra Hilal terekam hasil pengamatan Tim pengamat Hilal University Malay. Kredit: University Malaya: Joko Satria & William Chin

Menurut Islamic Crescents’ Observation Project, rekor yang terjadi sebelumnya adalah umur Bulan 18 jam 3 menit, dengan sudut elongasi sebesar 9,04 derajat. Yang artinya, perekaman yang telah dilakukan oleh tim dari Malaysia telah memecahkan rekor perekaman Hilal termuda dalam kategori pencitraan kamera.

Tim pengamat Hilal University Malaya adalah grup akademisi yang berkecimpung dalam riset astronomi, sehingga, tidak hanya dilakukan pengamatan hilal, tetapi juga dilakukan riset astronomi, berupa pengukuran kecerlangan langit latar belakang yang memungkinkan untuk mendapatkan perekaman hilal.

Ditulis oleh

Emanuel Sungging

Emanuel Sungging

jebolan magister astronomi ITB, astronom yang nyambi jadi jurnalis & penulis. Punya hobi dari fotografi sampe bikin komik, pokoknya semua yang berhubungan dengan warna, sampai-sampai pekerjaan utamanya adalah seperti dokter bedah forensik, tapi alih-alih ngevisum korban, yang di visum adalah cahaya, seperti juga cahaya matahari bisa diurai jadi warna cahaya pelangi. Maka oleh nggieng, cahaya bintang (termasuk matahari), bisa dibeleh2 dan dipelajari isinya.