Mencari Kehidupan Seperti Yang Kita Kenal

Pencarian kehidupan di luar Bumi selalu jadi topik yang menarik untuk dibahas dan juga diperdebatkan. Tapi kehidupan lain itu seperti apakah? Seperti kita atau ada bentuk yang lain? Seandainya kehidupan itu berbeda dari kita bagaimana kita tahu bahwa itu kehidupan?

Lukisan planet disekeling bintang lain. Kredit : ESA/AOES Medialab
Lukisan planet disekeling bintang lain. Kredit : ESA/AOES Medialab

Pada akhirnya pencarian kehidupan lain itupun terbatas hanya pada kehidupan yang kita kenal. Yakni kehidupan berbasis karbon, kehidupan yang bergantung pada air, kehidupan seperti yang ada di Bumi.  Tapi untuk mencari kehidupan seperti yang kita kenal pun tak mudah. Kita harus bisa memahami dan memecahkan bagaimana kehidupan yang kita kenal ini berevolusi di dunia yang berbeda jauh dari Bumi. Di lingkungan biokimia yang asing. Inilah yang coba diteliti para ilmuwan di Austria.  Mereka mencari tau bagaimana kehidupan dengan biokimia dan pelarut eksotis seperti asam sulfur / asam belerang dan bukannya air. Tim dari Universitas Vienna ini terbentuk dalam kelompok Alternative Solvents as a Basis for Life Supporting Zones in (Exo-)Planetary Systems yang dipimpin Maria Firneis.

Secara umum pencarian planet yang dapat mendukung kehidupan dilakukan pada area habitasi bintang. Seuah area disekeliling bintang dimana planet serupa Bumi dengan karbon dioksida, uap air, dan atmosfer nitrogen dapat mempertahankan air dalam kondisi cair di area permukaan. Pencarian tanda-tanda kehidupan yang terbentuk oleh kehidupan ekstraterrestrial dilakukan dengan mencari tanda yang mirip dengan yang ada di planet kebumian,  dengan air sebagai zat pelarut dan pembangun kehidupan, asam amino, serta kehidupan yang berbasis karbon dan oksigen. Nah pernahkah terpikir kalau kehidupan tidak hanya bergantung pada senyawa-senyawa tersebut?

Nah bagaimana kalau sekarang kita ubah sedikit paradigma tentang kehidupan yang kita tahu. Sudah saatnya kita mulai berpikir tentang bagaimana seandainya kehidupan yang kita kenal ini berevolusi dan metabolisme tidak hanya bergantung pada  air ataupun karbon dan oksigen.

Satu hal yang diketahui, kehidupan membutuhkan pendukung dari zat pelarut yang berbentuk cair pada rentang temperatur yang sangat besar. Air merupakan cairan dengan kisaran temperatur 0 dan 100 derajat Celcius sementara pelarut cair lainnya memiliki suhi diatas 200 derajat Celcius.   Pelarut seperti ini bisa memiliki lautan pada planet yang dekat dengan bintang induk. Seperti kita ketahui lautan amonia bisa ada pada planet yang jauh dari bintang, asam sulfur bisa ditemukan di lapisan awan Venus, dan danau metana/etana menutupi sebagian permukaan Titan.

Kemungkinan ini justru memperluas “planet-planet” yang berpotensi memiliki kehidupan,  pencarian tidak hanya terbatas pada explanet dan planet dia area habitasi. Para peneliti dari Universitas Vienna dan kolaborator internasional akan menyelidiki komponen-komponen pelarut selain air dan kelimpahannya di angkasa,  karakteristik thermal dan biokimia serta kemampuannya untuk mendukung mtabolisme di awal kehidupan dan saat kehidupan berevolusi.

Meskipun saat ini sebagian besar exoplanet yang ditemukan merupakan planet gas, dan hanya beberapa yang merupakan planet super-Bumi, namun planet seukuran Bumi hanya tinggal menghitung aktu untuk ditemukan. Dan ketikaa saat itu tiba…kita mungkin saja akan bertemu dengan kehidupan eksotis di dunia asing yang akan memukau manusia.

Sumber : Europlanet

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.